APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA = PEMIMPIN? (JILID 4)

TAFSIR AYAT YANG MEMUAT KATA AULIYA (SAMBUNGAN)

abbasiyah-07

Pada jilid ke-4 ini sampailah kita pada ayat yang disebut-sebut oleh Ahok, sampai terjadi pro kontra di masyarakat. Mari kita lihat apa menurut kitab-kitab tafsir :

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 51 & 55, 56

Q.S. Al-Maidah [5] yang disebut-sebut dalam pernyatakan ahok harus dilihat dari ayat 51 s/d 56 karena merupakan satu rangkaian pembiccaraan yang saling terkait, sehingga harus ditafsirkan bersamaan

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya (mu); sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Q.S.Al-Maidah [5] : 51)

Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (Q.S.Al-Maidah [5] : 55)

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi walinya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang (Q.S. Al-Maidah [5] : 56)

As-Samarqandi  ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan asbabun nuzul ayat ini bahwa ketika Nabi s.a.w berhijrah ke Madinah, Beliau didatangi oleh Bani Asad bin Khuzaimah. Mereka berjumlah tujuh ratus orang, laki-laki dan perempuan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah diasingkan dan diputus dari kabilah dan keluarga kami. Lalu siapakah yang menolong kami?” Kemudian turunlah ayat ini (tafsir Bahr Al-‘Ulum, Jilid 1 Hal. 445)

Abu Hayyan Al-Andalusi ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan , kata al-waliyy dalam (Q.S.Al-Maidah [5] : 55) berarti an-nashir (penolong), al-mutawalli al-amr (yang mengurusi perkara), atau al-muhibb (yang mencintai).(Tafsir Al-Bahr al-Muhith, Jili . 3 Hal. 524)

Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa di sini Allah menyebut wali bagi orang beriman ada tiga yaitu Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin. Walaupun ada 3, namun Allah menyebutnya dengan bentuk tunggal yaitu “waliyukum” dan bukan dengan bentuk jamak “auliyaukum”. (Tafsir Al-Kasysyaf, Jilid 1 Hal. 635)

Al-Qasimi menjelaskan ayat ini bahwa walaupun ada tiga komponen, namun semuanya berpangkal kepada satu yaitu berwalikan Allah saja. Artinya siapa yang memilih RasulNya dan orang beriman menjadi walinya, adalah bagian dari menjadikan Allah sebagai walinya. (Mahasin At-Ta’wiil, Jilid . 4, Hal. 175)

Hal ini berbeda ketika Allah menyebut larangan jangan mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, yaitu  menggunakan bentuk jamak auliya. Mengapa? Karena pada dasarnya pemimpin orang kafir itu bukan hanya satu dan tidak pula menginduk kepada satu pihak. (Al-Ajili, Al-Futuhat Al-Ilaahiyyah, Jilid  2, Hal. 256)

Mengapa tiga hal yang dijadikan wali yaitu Allah, RasuNya dan orang-orang  mukmin pada pokoknya bermuara pada satu pihak? Dijelaskan oleh Nizamuddin An-Naishaburi karena Allah adalah “ashal” (titik pangkal dari semua perwalian) sementara wali-wali yang lain (yaitu Rasul dan orang beriman) hanyalah sebagai ittiba’ (ikutan/derivatif) (Tafsir Ghara’ib Al-Qur’an,Jilid 2, Hal. 205).

Maka dalam ayat lain, ketiga komponen itu disebutkan hanya satu saja, yaitu Allah saja sebagai wali orang-orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah : 257. Oleh karena itu mengangkat Gubernur, Menteri atau Wazir ,Presiden atau Khalifah dari kalangan mukmin adalah implementasi (penerapan) dari menjadikan “orang beriman” sebagai wali, sedangkan itu merupakan bagian dari menjadikan Allah sebagai wali.

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 57

Hai orang-orang yang beriman, janganlah orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)dijadikan sebagai auliya. (Q.S. Al-Maidah [5] : 57)

As Sa’di menjelaskan: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang yang menjadikan agama sebagai ejekan dan permainan. Siapakah mereka itu? Yaitu ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang pernah diberik kitab. Orang mukmin dilarang menjadikan mereka ini sebagai auliya. Yaitu sebagai pihak  yang dicintai dan yang diserahkan loyalitas padanya. Juga larangan memaparkan kepada mereka rahasia-rahasia kaum mu’minin juga larangan meminta tolong pada mereka pada sebagian urusan yang bisa membahayakan kaum muslimin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jika pada diri seseorang itu masih ada iman, maka konsekuensinya ia wajib meninggalkan loyalitas kepada orang kafir. Dan menghasung mereka untuk memerangi orang kafir” (Tafsir As Sa’di, Hal. 236)

Siapakah orang yang ejek dan mengolok-olok agama? Salah satunya adalah orang munafik.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Q.S. At-Taubah [9] : 65)

Siapakah mereka di sini? Hal itu bisa kita lihat pada ayat sebelumnya, yaitu Allah sedang membicaraan kelakuan orang munafik :

Orang-orang yang munafik itu…. (Q.S. At-Taubah [9] : 64)

Orang semacam ini tidak boleh diangkat sebagai wali atau auliya. Orang seperti ini tidak layak dipercaya dan diberi mandat. Jangankan diangkat sebagai auliya, duduk bersama mereka pun tidak boleh, yaitu ketika mereka memperolok ayat Al-Qur’an, apalagi mengangkatnya menjadi pemimpin.

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zholim itu sesudah teringat (akan larangan ini). (Q.S. Al-An’aam [6] : 68)

 

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 80-81

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (Q.S. Al Maidah [5]: 80)

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi auliya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” (Q.S. Al Maidah [5]: 81)

Ath Thahawi menjelaskan makna ayat ini: “Andaikan sebagian orang dari Bani Israil yang loyal terhadap orang kafir itu mereka benar-benar mengimani Allah dan mentauhidkan-Nya, juga benar-benar mengimani Nabi-Nya s.a.w. sebagai Rasul yang diutus oleh Allah, serta lebih mempercayai apa yang ia bawa dari Allah daripada petunjuk yang lain, maka mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat dan penolong padahal ada orang-orang Mu’min. Namun dasarnya mereka itu adalah orang-orang yang gemar membangkang perintah Allah menujuk maksiat, serta gemar menganggap halal apa yang Allah haramkan dengan lisan dan perbuatan mereka” (Tafsir Ath Thabari, Jiid 10 Hal 498).

Imam Mujahid  menafsirkan bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum munafik (Tafsir Ath Thabari, Jilid 10 Hal. 498).

Ibnu Katsir menjelaskan kalimat niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi auliya,yaitu sekiranya mereka beriman dengan sesungguhnya kepada Allah, RasulNya dan Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan terjerumus menjadikan orang kafir menjadi penolong-penolong mereka serta memusuhi orang beriman. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 Hal. 609)

Siapa yang dimaksud dengan kata ganti “mereka” di sini? Imam Mujahid mengatakan mereka adalah orang-orang munafik. Kebanyakan mereka ber-wala (berpihak atau loyal atau tolong menolong) dengan orang kafir. Keika menjelaskan kalimat “amat buruk lah..” Ibnu Katsir mengatakan : keburukan itu yaitu berpihak kepada orang kafir dan meninggalkan orang mukmin. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 Hal. 606)

 

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 3

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti auliya selain-Nya” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 3)

Terkait ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan : janganlah kalian menyimpang dari apa yang telah disampaikan Rasul kepada kalian dengan menempuh jalan lainyang akhirnya menyebabkan kalian menyimpang dari hukum Allah (Tafsir Ibnu Katsir Jilid Juz 8 Hal 229)

Imam Baghowi terkait ayat di atas menjelaskan bahwa maksudnya jangan menjadikan selain golonganmu sebagai pemimpin karena nantinya akan mengajak kamu untuk bermaksiat kepada Allah (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 213)

Imam Qurtubi menjelaskan, apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dalam firman Allah  Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (Q.S. Al-Hasyr [59] : 7) Yaitu perintah Nabi  terhadap  umatnya. Baik untuk urusan seluruh manusia dan selainnya. Misalnya mengikuti agama Islam dan Al-Qur’an , ikuti baik yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Mengikuti perintahnya dan hindari larangannya. Menunjuk pada ayat selanjutya tentang larangan untuk mengikuti, telah jelas nash nya.  Allah berfirman : wa laa tattabi’uu min dunihi auliyaa-a (jangan kamu ikuti) yaitu dari selain golongan mu, dan dari selainNya dan  Karena akan mengajak berpaling dari kesucian Rabb. Dan maknanya : Jangan beribadah kepada selainNya. Dan jangan ikuti terhadap siapa yang menjadikan mereka auliya. Dari Malik bin Dinar ketika membaca ayat “tattabi’uu min duunih auliyaa-a” berkata bahwa maksudnya jangan sekali-kali mengajari dan minta ditolong ( orang kafir). (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Jilid 9 Hal 105-106)

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 27 & 30

Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu auliya bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-A’raaf [7] : 27)

Setan bisa menjadi auliya. Pengertian auliya dalam ayat ini adalah pemberi petunjuk dan orang yang diikuti, dijadikan guru dan panutan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memperingatkan anak Adam agar waspada terhadap Iblis dan teman-temannya karena Iblis itu musuh bebuyutanbapak seluruh manusia yaitu Nabi Adam a.s. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8, Hal. 273)

Imam Qurthubi ketika menjelaskan kalimat Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu auliya bagi orang-orang yang tidak beriman : yaitu sebagai tambahan hukuman dan kami samakan di antara mereka dalam urusan kebenaran (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Qurthubi Jilid 9, Hal. 189)

Baghowi menjelaskan yang dimaksud auliya-a bai orang tidak beriman adalah syaitan itu menjadi kawan dan penolong orang tidak beriman. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 224)

Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan sebagai auliya selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Q.S. Al-A’raaf [7] : 30)

Ibnu Jarir menyatakan bahwa ayat di atas merupakan dalil yang jelas kekeliruan orang yang meyakini bahwa Allah tidak akan meng-adzab seseorang karena kemaksiatan yang dikerjakan atau kesesatan yang diyakininya, melainkan bila ia melakukan sesudah ada pengetahuan darinya yang membenarkan sikapnya itu. Bila demikian tentu tidak ada bedanya orang yang mengira dirinya mendapat petunjuk dengan orang yang benar-benar mendapat petunjuk. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 10 Hal. 286)

Baghowi menjelaskan ayat di atas menjelaskan ayat di atas, mengutip hadits dri Abu Sufyan dari Jabir bin Abdullah Rasululah s.a.w. bersabda diutus kepada setiap manusia apa yang ditetapkan baginya, orang mukmin dengan iman, orang kafir dengan kekufurannya. Kata ganti mereka di sini adalah orang yang tidak beriman sebagaimana di ayat 27. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 224)

 

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 196

Sesungguhnya waliku  ialah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia menjadi wali  orang-orang yang saleh (Q.S.Al-A’raaf [7] : 196)

Jalalluddin Al-Mahalli dan Jalalluddin As-Suyuthi menafsirkan  “Sesungguhnya waliku ialah (dia) Yang telah menurunkan Al Kitab (Al-Quran)(yaitu Allah) dan Dia me-wali-i orang-orang yang saleh (Q.S.Al-A’raaf [7] : 196), wali disini maksudnya pemimpin mereka. Juga ketika menafsirkan  (Tafsir Jalalain, Darul Hadits, Kairo, Jilid 1 Hal. 225).

Terkait ayat di atas, Imam Qurtubi menjelaskan : waliku maksudnya adalah penolongku dan pelindungku, pemeliharaku adalah Allah. Yang mencegah dari hal-hal yang mudharat. Kitab di sini maksudnya adalah Al-Qur’an. Dan terkait kalimat Dia me-wali-i orang-orang yang saleh, maka wali di sini  maksudnya adalah pelindung. Hadits shahih Muslim dari Amru bin Al-Ash r.a. berkata saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : nyatakanlah jangan dirahasiakan Kemudian seseorang berseru : “Sesungguhnya wali kami adalah Allah dan orang mukmin yang sholeh”. Ada juga yang membacanya “Yang telah menurunkan Al-Kitab” yaitu jibril. Ini adalah qiraah Ashim Al-Jahdari (namun cara qiraah ini dinyatakan dlo’if). Sedangkan qiroah awal menyatakan ditulis wahuwa yatawalla sholihiin. (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Al-Qurtubi Jilid 9 Hal 417)

Baghowi menjelaskan yang dimaksud Al-Kitab pada ayat tersebut adalah Al-Qur’an, Auliya di sini menganggap sebagai pelindungku, penolongku sebagaimana Dia  mendukungku dengan menurunkan Kitab (sebagai petunjuk bagiku). Ketika menjelaskan kalimat Dia me-wali-i orang-orang yang saleh : Berkata Ibnu Abbas r.a. ketahuilah barangsiapa kalian tidak menyekutukan Allah, maka Allah akan membela mereka dengan pertolongannya, maka tidak akan membahayakan kalian, permusuhan orang yang memusuhi. Inilah yang dimaksud orang yang sholeh yaitu yang tidak menyekutukan Allah. Dan orang seperti ini berhak mendapat wala/perwalian yaitu pembelaan dari Allah. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghawi Jilid 9 Hal. 315)

BERSAMBUNG JILID 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s