TIDAK USAH HERAN, KENAPA BANYAK PENGHIANAT DI NEGERI INI

Memperingati sumpah pemuda dan hari pahlawan 10 November. Tahukah Anda ada 13.000 bangsa indonesia yang dahulu bersedia bergabung dengan Tentara KNIL ? Tentara KNIL yang dahulu dijuluki Anjing Nica, sebagai tentara penjajah, tentu mereka harus berhadapan dengan bangsa sendiri. Ini belum termasuk 6.000 tentara merchausssee (marsose) yang dahulu  memerangi Aceh.

menyembah-penjajah-02

Kalau kita belajar sejarah bangsa Nusantara, pasti dipenuhi dengan kisah pengkhianatan bangsa sendiri. Tidak sulit menemukan bangsa pribumi yang bersedia memihak kepada penjajah.Tidak sulit menemukan bangsa pribumi yang bersedia memberi info, memberitahu persembunyian pejuang, bahkan disuruh membunuh pejuang bangsa sendiri, dengan imbalan uang yang amat kecil.

Sejarah juga mencatat raja-raja Nusantara amat mudah diadu domba dan dipecah belah, memerangi saudara kandung sendiri, demi memperebutkan kekuasaan. Bahkan semenjak Penjajah belum menginjakkan kaki di bumi Nusantara ini pun, kaum pribumi sudah saling sikut saling injak, saling fitnah bahkan saling bunuh untuk memperebutkan kekuasaan.

Maka wajar saja Bangsa Belanda yang penduduknya cuma beberapa juta bisa menjajah Nusantara yang penduduknya lebih banyak berkali-kali lipat.

Menurut Dr. Amien Rais, mentalitas Inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita.

Persoalan fundamental negeri ini adalah belum tubuhnya rasa kepercayaan diri dan masih dihinggapi perasaan minder, memandang bangsa asing lebih superior dan bangsa sendiri lebih inferior.

Tidak terkecuali hal ini menghinggapi umat Islam. Dalam konteks umat Islam, maka rasa minder dan tidak percaya diri ini, melihat umat lain lebih superior, karena kenyataanya umat lain lebih maju teknologinya, lebih banyak duitnya, lebih makmur duniawinya.

Sehingga segala hal yang berasal dari asing dianggap lebih hebat. Lebih bangga menggunakan buatan asing ketimbang buatan sendiri. Lebih parah lagi, adalah hilangnya produktifitas dan enggan mencoba untuk memproduksi sendiri. Karena untuk apa memproduksi sendiri karena pasti lebih jelek dan pasti tidak laku.

Demikian pula lebih rela bosnya orang asing daripada bangsa sendiri. Kalau yang menjadi bos adalah bangsa asing, orang pribumi cenderung lebih patuh. Karena merasa wajar bangsa asing yang ngatur. Kalau bangsa sendiri yang jadi majikan, cenderung lebih berani melawan. Kalau bangsa sendiri yang jadi bos, cenderung lebih sulit diatur. Karena menganggap “aku dan dia kan sama-sama pribumi, jadi kenapa dia perintah2 aku? Kita sama sederajat kok” Kira-kira begitu pikirannya.

Maka umat Islam harus lebih mempelajari sejarah peradaban Islam, harus lebih mengetahui bahwa supremasi peradaban itu dipergilirkan antara bangsa-bangsa di dunia. Kebetulan saja saat ini Bangsa Barat yang memimpin. Itu pun kalau ditinjau dari sisi duniawinya. Adapun dari sisi ukhrawi moral dan spiritualnya, orang Timur justru lebih baik daripada orang Barat.

Di satu sisi Bangsa-Bangsa Barat maju dari segi iptek, namun kehidupan akhlak, moral dan spirituanya mengalami kemerosotan. Sayangnya Bangsa Timur justru terpengaruh Bangsa Barat dalam pola berpikir materialis. Sehingga kurang mempertimbangkan aspek non fisik ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s