NABI ISA DIKARUNIAI MUKJIZAT, DIKIRA TUHAN ?

 

 

Manusia seringkali terkesima dengan fenomena yang di luar nalar. Orang bisa terbang dan berjalan di atas air disebut manusia sakti. Terlebih jika terjadi zaman dahulu, bisa dikira titisan dewa. Dan raja-raja zaman dahulu seringkali memanfaatkan kecenderungan manusia ini untuk mengokohkan kekuasaannya. Kaisar Jepang, mengaku titisan Dewa Matahari, Amaterasu. Demikian pula Fir’aun di Mesir Kuno mengklaim dirinya sebagai sebagai titisan Dewa Matahari, Amon Ra.

Kecenderungan manusia menganggap segala yang ajaib, di luar nalar sebagai titisan (penjelmaan) dari Yang Maha Kuasa sudah terjadi sejak zaman dahulu. Konsep bahwa Dewa, atau Yang Maha Kuasa menitis, bermetafora dalam wujud manusia adalah logika yang banyak terlintas dalam benak manusia sejak zaman dahulu kala.

Dan anehnya logika seperti ini masih dipercaya oleh orang-orang modern yang notabene mereka berpendidikan tinggi yang selalu mengedepankan nalar dan logika dalam memandang berbagai hal. Contohnya Di India ada anak berwajah seperti gajah, diyakini merupakan titisan Dewa Ganesha. Jangankan manusia, bahkan binatang pun bisa dianggap jelmaan dewa. Di Muzaffarnagar, Uttar Pradesh India  pun seekor anak sapi berwajah seperti “manusia” dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu. Karena sapi adalah kendaaan Dewa Wisnu.

Maka hal yang sama terjadi saat Allah mengkaruniai mukjizat-mukjizat yang luar biasa kepada Para NabiNya. Ketika Para Nabi menunjukkan hal-hal spektakuler di luar kemampuan manusia biasa, akan disangka sebagai titisan Tuhan. Padahal dari zaman ke zaman, telah terjadi hal-hal spektakuler di luar. Lalu apakah Tuhan berkali-kali turun ke bumi menjelma menjadi manusia?

Maka ketika seorang misionaris mendatangi kerabat saya kemudian menyodorkan ayat Al-Qur’an dalam Surah Ali Imran : 49 yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut :

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil : “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman” (Q.S. Ali Imran [3] : 49)

Maka misionaris tersebut menggunakan dalil ayat di atas untuk meyakinkan kerabat saya bahwa yang dimaksud dengan “tanda” dalam ayat tersebut adalah “tanda” bahwa Nabi Isa (Yesus) adalah Tuhan yang turun ke bumi dalam wujud seorang manusia untuk menyelamatkan umat manusia.

Tentu saya tidak akan mempersoalkan keyakinan non-muslim yang berbeda dengan aqidah Islam. Karena aqidah mereka adalah urusan mereka sendiri. Namun ketika mereka mengusik keyakinan kami, maka kami pun perlu menjelaskan duduk perkaranya.

Namun ini bukan soal bela membela asal membela. Islam adalah agama yang masuk akal dan sangat menjunjung tinggi akal. Sehingga dalam Islam, agama tidak meninggalkan logika. Bahkan logika menjadi pembuktian kebenaran agama. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk berfikir dan berfikir :

Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. (Q.S. Yunus [10] : 24)

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S. Ar-Ruum [30] : 21)

Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Q.S. Al-Hasyr  [59] : 21)

Marilah kita berfikir. Jika misionaris tersebut menggunakan Q.S. Ali Imran [3] : 49 jelas di awal kalimat disebutkan “wa rosulan ilaa bani isroil” sebagai seorang Rasul yang diutus kepada Bani Israil. Ayat ini berbicara tentang Nabi Isa (Yesus) yang diutus oleh Allah (Rasul) kepada Bani Israil. Maka Yesus menunjukkan “tanda” atau lebih tepatnya “bukti” kenabian beliau. Maka Nabi Isa menunjukkan kemampuan luar biasa di atas manusia lainnya sebagai “bukti” kenabian beliau.

Maka Allah mengkaruniakan beberapa mukjizat yang dahsyat kepada Nabi Isa a.s. :

dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku…(Q.S. Al-Maidah [5]:110)

Baik Islam maupun Nasrani sama-sama mengimani adanya berbagai keajaiban yang dilakukan oleh Nabi Isa (Yesus). Dalam Al-Qur’an disebut la-aayatalakum (ayat-ayat dari Kami) bedanya orang Nasrani menyalahpahami bahwa keajaiban itu adalah “tanda” atau “bukti” bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri sedangkan orang Muslim memahami bahwa itu adalah “ayat” Allah sebagai tanda kenabian bahwa Yesus adalah benar-benar utusan Allah

Bahkan Al-Qur’an menyebutkan mukjizat yang dibawa Yesus ini lebih lengkap dibanding yang disebutkan dalam Bible. Dalam QS: [3] Ali Imran Ayat: 48 disebutkan Yesus membuat burung dari tanah liat kemudian ditiup oleh Yesus sehingga menjelma menjadi burung yang hidup. Bagi orang muslim, perkara menciptakan burung hidup bukanlah bukti bahwa dia bisa meniupkan ruh atau menciptakan kehidupan.

Karena dalam Al-Qur’an dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim pernah menghidupkan burung :

Dan ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku lebih yakin. Allah berfirman: “Ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S.Al-Baqarah [2]:260)

Nabi Isa juga begitu lahir langsung dapat berbicara

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian…(Q.S. Al-Maidah [5]:110)

Namun mukjizat yang paling dahsyat adalah ketika Nabi Isa (Yesus) dapat menghidupkan Lazarus, yang sudah mati. Maka orang Nasrani menyalahpahami fenomena ini sebagai bukti Yesus adalah Tuhan. Karena yang bisa memberikan kehidupan adalah Tuhan saja.

Sebagaimana Injil Yohanes menyebutkan :

Sebab sama seperti “Bapa membangkitkan” “orang-orang mati” dan “menghidupkannya”, demikian juga “Anak menghidupkan” barangsiapa yang dikehendaki-Nya. (Yohanes 5:21)

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati..(Yohanes 11 : 25)

Sedangkan orang muslim tidak terkesima hingga salah paham memandang persoalan ini. Betapa pun super super ajaibnya yang dilakukan Yesus, maka ini bukanlah bukti beliau sebagai Tuhan melainkan semua keajaiban ini adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada para Nabi Nya

Kalau orang Nasrani mau jujur maka dalam Bible sendiri diceritakan bukan hanya Yesus saja yang dapat menghidupkan orang mati. Tercatat Nabi Yekezkiel, Nabi Yeremia, Nabi Ilyas (Elia) Nabi Ilyasa (Elisa) dapat menghidupkan orang mati.  Bahkan Petrus murid Yesus sendiri dapat menghidupkan orang mati. Lalu apakah mereka semua adalah penjelmaan Tuhan???

Dalam Bible disebutkan Nabi Ilyas a.s. (Elia) menghidupkan orang mati :

Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.” Lalu Tuhan mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali. (Kitab Raja-Raja 17:21)

Demikian pula Nabi Ilyasa a.s. (Elias) dapat menghidupkan orang mati. Bahkan lebih hebat dari Nabi isa (Yesus), karena Nabi Ilyasa dapat menghidupkan orang mati setelah Nabi Ilyasa sendiri wafat

Nabi Yekezkiel dapat menghidupkan tulang belulang . Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu. Lihat, tulang-tulang itu amat kering. Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!” Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!  Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain. Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas. Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.” Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali.  Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar. (Yehezkiel 37:2-10)

Bahkan Petrus murid Yesus dapat menghidupkan mayat Tabita  :

Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.(Kisah Rasul, Pasal  9, Ayat 40)

Bagaimanakah kisah YESUS menghidupkan orang bernama Lazarus ??? Apa bedanya dengan kisah orang lain yang dapat membangkitkan orang mati? Mari kita lihat kisahnya dalam Injil Yohanes :

 

Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata : “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat  dengan kain kafan dan mukanya masih tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (Injil Yohanes Pasal 11 Ayat 41-44)

Bagi muslim, tidak meyakini seorang Nabi adalah penjelmaan Tuhan hanya gara-gara dapat menghidupkan makhluk hidup yang telah mati. Karena dalam Al-Qur’an pun dikisahkan Nabi Musa a.s. dapat menghidupkan sapi yang mati :

“Lalu Kami berfirman (kepada Nabi Musa) : “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti “  (Q.S.Al-Baqarah [2]:73)

Jika orang-orang mau jujur, jelas dalam Injil Yohanes disebutkan bahwa Yesus berdoa dan memohon kepada Allah dengan menengadah ke atas dan berdoa agar diberi mukjizat agar dapat menghidupkan Lazarus. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Yesus melakukan dalam rangka agar orang percaya bahwa Allah-lah yang mengutus beliau, bukan dalam rangka membuktikan beliau adalah Allah itu sendiri.

Kisah ini sama seperti kisah Nabi Ilyas (Elia), Nabi ilyasa (Elias), Nabi Yehezkiel, Nabi Musa dan Petrus, yang selalu disebutkan bahwa mereka berdoa memohon kepada Allah agar dapat menghidupkan makhluk hidup yang telah mati. Sehingga yang menghidupkan di sini hakekatnya adalah Allah.

Tapi orang yang sudah terlanjur condong pada keyakinan bahwa Yesus adalah penjelmaan Tuhan sehingga ngotot dan bersikukuh mengatakan bahwa Yesus 100% menusia dan pada saat yang sama 100% Tuhan. Sehingga saat ia menjadi manusia, ia harus berdoa dan memohon kepada Tuhan padahal dia sendiri adalah Tuhan. Bagi orang muslim penjelasan ini jelas logika maksa. Apa perlunya Tuhan beracting menjelma menjadi manusia dan beracting berdoa kepada dirinya sendiri di hadapan manusia??

Kesimpulannya : kemampuan menghidupkan burung dari tanah liat, menghidukan sapi yang mati, mengihidupkan orang yang sudah mati, bahkan orang yang sudah mati pun bisa menghidupkan orang lain yang sudah mati, bukanlah bukti bahwa mereka adalah Tuhan. Melainkan ini tidak lain adalah mukjizat yang dikaruniakan Tuhan kepada utusanNya, kepada manusia-manusia yang dipilih, untuk menunjukkan bahwa Tuhan Allah dapat membangkitkan kembali semua yang sudah mati. Dan bukan dalam rangka menunjukkan bahwa mereka-mereka itu adalah titisan Tuhan Allah.

Oleh karena itulah berkata Nabi Isa (Yesus) : “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil)  dan Dia menjadikan aku sebagai seorang nabi(utusan Allah)”  (Q.S. Maryam [19] : 30)

Sebagaimana di dalam Bible sendiri, Yesus mengatakan :

“Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Injil Yohanes, Pasal 5 Ayat 30)

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan (Injil Yohanes, Pasal 12 Ayat 49)

“Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku” (Injil Yohanes, Pasal 7 Ayat 16)

Namun sebagian manusia (walaupun pandai berpendidikan tinggi) masih tetap ngotot bersikukuh dengan logika bahwa yang bisa menghidupkan orang mati adalah jelmaan Tuhan. Maka wajarlah yang diprediksi oleh Rasulullah s.a.w. bahwa nanti sebelum akhir zaman ada seorang manusia biasa, namun luar biasa jahat bernama Dajjal, yang datang ke dunia dengan kemampuan supranatural yang luar biasa yaitu mematikan lalu  menghidupkan kembali orang yang sudah mati bahkan membawa kembali orang-orang yang sudah lama mati. Maka seketika 2/3 penduduk bumi akan menyatakan dajjal sebagai titisan Tuham sebagai penjelmaan dan reinkarnasi Tuhan ke muka bumi.

Dari Abu Umamah al-Bahili, Rasulullah s.a.w. berkata Di antara fitnah Dajjal, dia menawarkan seorang Arab badui, ‘Renungkan, sekiranya aku bisa ‎membangkitkan ayah ibumu yang telah mati, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah Rabbmu?’ ‎Laki-laki arab tersebut menjawab, ‘Ya.’ Kemudian muncullah 2 setan yang menjelma di hadapannya ‎dalam bentuk ayah dan ibunya. Kedua (setan yang menjelma sebagai bapak ibunya itu) berpesan, ‘Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dia ‎adalah Rabbmu.’ (H.R. Ibnu Majah No 4077)

Bayangkan betapa dahsyatnya. Kedua orangtuanya yang sudah mati dimuncullkan kembali, dihidupkan kembali, kemudian ibu bapaknya yang sudah lama mati itu berkata kepada anaknya : “Sesungghnya dia (dajjal) itu adalah rabb mu. Seolah tahu kecenderungan gagal paham ini sehingga dajjal pun menyodorkan bukti fenomena menghidupkan orang mati ini sebagai bukti ketuhanannya.

Seorang pemuda lain pun digergaji oleh Dajjal sampai mati kemudian dihidupkan kembali :

Lalu Dajjal memerintahkan agar orang itu digergaji dari ujung kepala hingga pertengahan antara kedua kaki. Setelah itu Dajjal berjalan di antara dua potongan tubuh itu lalu berkata, ‘Berdirilah!’ Tubuh itu pun berdiri utuh. Selanjutnya Dajjal bertanya padanya, ‘Apa kau beriman padaku?’ Ia menjawab, ‘Aku semakin yakin tentang siapa kamu.’ Setelah itu orang itu berkata, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dilakukan seperti ini setelahku.’ (HR. Muslim No 2938).

Dari Abu Said  telah menceritakan kepada kami Rasulullah s.a.w.  dengan pembicaraan yang panjang tentang Dajjal. Diantara yang Beliau ceritakan tentangnya adalah, Beliau berkata: “Dajjal akan datang pada suatu tanah yang tandus di Madinah (untuk memasuki Madinah) padahal dia diharamkan untuk memasuki pintu-pintu gerbang Madinah. Maka pada hari itu keluarlah seorang laki-laki yang merupakan manusia terbaik atau salah seorang dari manusia terbaik menghadangnya seraya berkata; Aku bersaksi bahwa kamu adalah Dajjal yang pernah diceritakan oleh Rasulullah s.a.w. . Maka Dajjal berkata; Bagaimana sikap kalian jika aku membunuh orang ini lalu aku menghidupkannya kembali, apakah kalian masih meragukan kemampuanku?. Mereka menjawab: “Tidak”. Maka Dajjal membunuh laki-laki terbaik itu lalu menghidupkannya kembali. Laki-laki itu berkata, ketika Dajjal menghidupkannya kembali; “Demi Allah, hari aku tidak akan lebih waspada kecuali terhadap diriku sendiri. Maka Dajjal berkata; “Aku akan membunuhnya lagi”. Maka Dajjal tidak sanggup untuk menguasainya“. (H.R. Bukhari No. 1749 dan No 7132)

Namun seorang pemuda yang kokoh keimanannya tidak terkecoh dengan kedahsyatan supranatural ini. Ketika dirinya digergaji sampai mati kemudian dihidupkan kembali justru semakin yakin bahwa ini adalah tidak lain adalah dajjal yang diprediksikan kedatangannya oleh Rasulllah s.a.w.

Namun betapa pandai dan liciknya Dajjal. Ia sudah tahu pemuda ini kokoh imannya dan tidak akan terkecoh. Maka Dajjal lebih dulu meramalkan bahwa orang ini akan tetap mengingkari ketuhanan dirinya walau sudah digergaji dibelah kemudian dihidupkan kembali. Seolah Dajjal hendak mengatakan bahwa pemuda ini adalah “orang yang ingkar” yang menolak ketuhanannya :

Rasulullah s.a.w. berkata : “Dan diantara fitnahnya juga adalah, ia akan berkata kepada seorang Arab, ‘Pikirkanlah olehmu, sekiranya aku dapat membangkitkan ayah dan ibumu yang telah mati, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah Rabbmu? ‘ Laki-laki arab tersebut menjawab, ‘Ya.’ Kemudian muncullah setan yang menjelma di hadapannya dalam bentuk ayah dan ibunya, maka keduanya berkata, ‘Wahai anakku, ikutilah ia, sesungguhnya dia adalah Rabbmu.’ Dan di antara firnah-fitnahnya adalah ia akan memaksa manusia lalu membunuhnya dan memotongnya dengan gergaji. Maka terbelahlah orang tersebut menjadi dua bagian. Kemudian Dajjal berkata, ‘Lihatlah oleh kalian hambaku ini, sesungguhnya aku akan membangkitkannya, lalu dia akan menyatakan bahwa Rabbnya adalah selain aku. Maka Allah pun membangkitkan orang yang sudah terbelah tersebut. Lalu Dajjal berkata kepadanya, ‘Siapakah Rabbmu? ‘ ia menjawab, ‘Rabbku adalah Allah, dan kamu adalah musuh Allah. Kamu adalah Dajjal. Demi Allah, mulai hari ini, tidak ada hal yang lebih aku yakini selain dari (kedustaan) mu” (H.R. Ibnu Majah No 4077)

Jadi kelicikan dajjal menjadikan manusia tidak ada pilihan. Jika pemuda yang dihidupkan kembali itu mengakui dajjal sebagai rabb, maka itulah yang dajjal kehendaki. Sebaliknya jika pemuda yang dihidupkan kembali itu ternyata mengingkari dajjal sebagai rabb, maka sudah diramalkan sebelumnya, dan ramalannya terbukti benar. Ini membuktikan bahwa dajja telah mengetahui apa yang akan terjadi, sehingga terbukti dia adalah penjelmaan tuhan.

Kesimpulannya, masalah mematikan, membelah, mencacah makhluk hidup, lalu membangkitkan atau menghidupkan kembali yang sudah mati, tidak boleh membuat kita terkecoh sehingga menyatakan bahwa yang mampu melakukan itu adalah penjelmaan atau titisan atau reinkarnasi Tuhan. Karena dajjal pun dapat melakukannya dibantu oleh para syaitan (dengan seijin Allah sebagai ujian bagi umat manusia). Adapun para Nabi dan manusia sholeh pilihan Allah, dikaruniai mukjizat sebagai bukti dan demonstrasi, unjuk kemampuan, bahwa Allah dapat membangkitkan yang apa-apa yang sudah mati. Wallahu’alam.

 

Advertisements

POLLING / JAJAK PENDAPAT : MENURUT ANDA FENOMENA MENGGELEMBUNGNYA DEMO 4 NOV INI KARENA APA? (BERGUNA BAGI PIHAK YANG TERTARIK INGIN MEMAHAMI FENOMENA SOSIAL INI)

This polling about 4 november action / demonstration will usefull for anyone who curious ini this social phenomenon. Lots of analysis have written only based on prejudice and subjective opinion. So we also curios to understand what people says about this phenomenon. So don’t be hasitate to fill the polling
Polling / jajak pendapat ini berguna bagi siapa saja yang tertarik ingin memahami fenomena sosial ini, karena banyak yang mencoba menganalisanya dan kemudian mereka-reka sendiri dengan opini subyektif pikirannya sendiri kemudian salah memahami fenomena ini. Kami pun ingin tahu ada apa sebenarnya dalam pikiran masyarakat.

AHOK MENISTAKAN AGAMA ATAU TIDAK SIH?

hakim

Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang teman lama, kemudian bertanya : Menurut kamu, pernyataan Ahokk itu menistakan agama Islam atau nggak sih?” Sejenak saya berfikir. Saya bilang : “Kalao menurut Ahok sih, dia bilang tidak bermaksud menistakan agama”.  Lalu teman saya bilang :”Ya itu kan kata Ahok, yang saya tanya menurut kamu, Ahok itu menistakan agama atau tidak?”

Hmm..begini karena seorang tokoh pernah membahas soal pernyataan Ahok ini, bahwa dari segi ilmu komunikasi, yang paling mengerti tentang maksud dari pernyataan itu ya si pembuat pernyataan. Kalau si pembuat pernyataan tidak berniat menistakan ya berarti tidak menistakan. Begitu kata tokoh yang membela Ahok dalam sebuah acara dialog di televisi nasional. Kalau begitu  nanti orang bisa bebas menghina kemudian ia mengaku tidak berniat menghina.

Bagaimana dengan orang yang mendengar pernyataan tersebut merasa bahwa hal itu menghina keyakinan mereka, menistakan agama mereka?” Saya fikir itu sangat relatif dan subyektif, tergantung persepsi masing-masing orang dalam mencerna, menafsirkan dan menilai pernyataan tersebut.

Dalam pernyataan Ahok, yang dituduh “membohongi dan membodohi”–ketika diklarifikasi wartawan—adalah para politisi rasis dan pengecut yang menggunakan ayat Al-Qur’an dan bukannya ayat Al-Qur’an itu sendiri. Dan ini terkait pemahaman mengenai arti kata “auliya” dalam Q.S. Al-Maidah : 51 menurut Ahok bukanlah “pemimpin” melainkan “teman”. Sehingga Ahok mengira bahwa orang yang mengartikan kata “auliya” sebagai “pemimpin” telah memelintir ayat dan memplesetkan ayat guna kepentingan politik.

Sedangkan menurut sebagian besar Kitab Mu’jam (Kamus) klasik yang ditulis para ulama sejak ribuan tahun lalu, bahwa kata auliya  adalah bentuk jamak dari wali, dan salah satu arti dari wali adalah pemimpin. Lebih tepatnya adalah orang yang diberi mandat untuk mengurus urusan orang lain. Oleh karena itu dalam sejarah peradaban Islam suatu ketika ada istilah “waliyul amri”. Wali di sini adalah  orang yang diberi mandat. Dan amri adalah urusan umum atau publik. Maka waliyul amri adalah pemimpin atau pemerintah.

Lihat : https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/apakah-salah-mengartikan-auliya-pemimpin/

Berdasarkan itu, maka arti “auliya” memang sah-sah saja diartikan sebagai pemimpin. Dan memang Al-Qur’an menyatakan melarang orang Muslim memilih Non-Muslim sebagai pemimpin mereka. Maka orang yang menyampaikan kepada orang lain mengenai larangan memilih pemimpin non-muslim bukanlah tindakan membohongi dan membodohi orang lain. Bukan pula memelintir ayat atau memplesetkan ayat.

Maka dari pernyataan Ahok tersebut ada 4 obyek yang mungkin terkena sasaran penghinaan yaitu :

  1. Ayat Al-Qur’annya yang dituduh membohongi dan membodohi? Jawabannya : tidak (tapi hal ini tergantung apakah Ahok benar-benar hanya tahu auliya itu artinya teman? Dan Ahok tidak tahu auliya itu artinya pemimpin? Jika Ahok sebenarnya tahu auliya itu artinya pemimpin, namun sengaja menolak makna itu karena merugikan dirinya, maka justru Ahok yang membohongi dan membodohi sekaligus menghina agama).
  2. Ayat Al-Qur’an digunakan sebagai alat membohongi dan membodohi? Jawabnya : iya
  3. Orang yang menggunakan ayat tersebut termasuk ulama dianggap membohongi dan membodohi? Jawabannya : Iya, mereka merasa dihina dinistakan karena mereka mengartikan auliya = pemimpin sesuai berdasarkan kaidah bahasa Arab.
  4. Orang lain (khususnya umat muslim) yang mendengar pernyataan Ahok ? Jawabnya : bisa iya bisa tidak tergantung orangnya merasa terhina atau tidak.
  5. Depag dan penerjemah lain, yang dianggap salah terjemahannya karena menerjemahkan auliya sebagai pemimpin. Jawabnya : Iya, tapi bisa jadi Depag tidak merasa terhina.

Dalam hukum Indonesia ada delik aduan mengenai  penodaan agama berdasarkan pada  UU 1/PNPS/1965. Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 menyatakan:

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Sedangkan lamanya sanksi pidana bagi penodaan atau penistaan agama ada pada KUHP Pasal 156a yang berbunyi:

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

  1. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
  2. Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Pada UU No. 1/PNPS/1965  istilah “melakukan penafsiran tentang suatu agama” ini lebih kepada aliran sesat ketimbang penghinaan pada simbol-simbol agama. Sedangkan pada KUHP Pasal 156a disebutkan :” bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama”.

Persoalan ini mungkin bisa dikenai KUHP masalah pencemaran nama baik yaitu Pasal 310 s/d 321 KUHP. Yaitu jika MUI, Depag dan ulama yang menafsirkan kata auliya sebagai pemimpin merasa difitnah dan dituduh membohongi dan membodohi. Bisa juga dikenai UU ITE terutama Pasal 27. Hal itu tergantung pengembangan penyidik dan Jaksa.

Di sini timbul persoalan. Dalam komunikasi itu ada dua pihak : si pembicara (komunikator) dan si komunikan sebagai pendengar (audien). Bisa jadi si pembicara tidak merasa menghina, menistakan, melecehkan atau mencemarkan nama baik. Namun si pendengar merasa terhina, dinistakan, dilecehkan atau dicemarkan nama baiknya. Nah ketika menetapkan ini penghinaan, penistaan , pelecehan a tau pencemaran nama baik, yang menjadi patokan itu siapa? Menurut si pembicara? Atau menurut si pendengar? Menurut saya, jawabannya : sepanjang masalah ini diselesaikan di pengadilan, maka yang menentukan isi pernyataan tersebut dikatagorikan penghinaan, penistaan , pelecehan a tau pencemaran nama baik ya pihak penengah lah yang menentukan, yaitu hakim.

Oleh karena itu yang terpenting adalah kasus Ahok ini harus diproses secara hukum. Perkara nanti pernyataan tersebut dikatagorikan penghinaan, penistaan , pelecehan atau bukan, pada akhirnya hakim lah yang memutuskan. Wallahu’alam.

TULISAN TERKAIT :
https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/24/anekdot-ayat-babi/

https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/apakah-salah-mengartikan-auliya-pemimpin/

SIAPA YANG MENGANGKAT SINGGASANA RATU BILQIS?

jin-ifrit
Ada yang menarik dari kasus Kyai Kanjeng Taat Pribadi yang mengaku bisa menggandakan uang. Seseorang anggota ICMI, yaitu Marwah Daud Ibrahim  yang memperoleh gelar Master dari American University di Washington D.C. Amerika bisa menjadi pengikut Kyai Kanjeng Taat Pribadi gara-gara takjub melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Kyai Kanjeng ini bisa menggandakan uang. Bahkan beliau bersedia menjadi Ketua Yayasan “Padepokan Dimas Kanjeng”.

Marwah Daud Ibrahim mengaku menerima jabatan tersebut setelah selama setahun mengamati dan mempelajari sepak terjang Kyai Kanjeng kemudian melakukan istikhoroh meminta petunjuk Allah. Marwah Daud Ibrahim meyakini Kyai Kanjeng memang bisa menggandakan uang, karena mendapat karomah dari Allah, sehingga kehebatannya setara dengan B.J. Habibie. Bahkan polisi sudah  menyita gepokan uang dalam gudang Kyai Kanjeng, dan ditunjukkan dalam acara ILC (Indonesia lawyer club) di TV One bahwa uang tersebut adalah uang palsu layaknya uang mainan monopoli , Bu Marwah tetap yakin bahwa uang mainan tersebut bisa berubah menjadi uang asli jika dipegang oleh Kyai Kanjeng.

Bu Marwah menyatakan bahwa walaupun ia seorang intelektual yang berfikir rasional, namun ia open mind (berfikiran terbuka) terhadap adany kemampuan “transdimensi”. Beliau mencontohkan Nabi Sulaiman a.s. yang bisa memindahkan Istana Ratu Bilqis. Logikanya, kalau istana saja bisa dipindahkan apalagi sekadar menggandakan uang, itu bukan hal yang mustahil. Dan jika ini disebut sihir, justru ayat Al-Qur’an membantah bahwa Nabi Sulaiman a.s. tidak melakukan sihir.  Makanya bu Marwah berang jika dikatakan itu adalah sihir. Lha memindahkan istana Ratu Bilqis saja dikatakan bukan sihir kok menggandakan uang disebut sihir.

Tanpa mengurangi hormat kami dengan kapasitas keilmuan Bu Marwah, ada beberapa hal yang perlu diluruskan di sini. Pertama, Al-Qur’an menceritakan yang diangkat dan dipindahkan bukan istana Ratu Bilqis melainkan singgasana Ratu Bilqis.

Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. Lalu berkata ‘Ifrit  dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab (Kitab Sebelum Nabi Sulaiman): “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (Q.S. An-Naml [27] : 38-40)

Dalam ayat di atas, dkisahkan bahwa Jin Ifrit yang memiliki kemampuan mengangkat benda-benda besar, menawarkan memindahkan singgasana Ratu Bilqis dalam waktu cepat sebelum Nabi Sulaiman berdiri. Namun ada orang yang memiliki ilmu dari alkitab bisa memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum Nabi Sulaiman berkedip, alias lebih cepat dan lebih hebat dari Jin Ifrit.

Pertama, di sini ditunjukkan bahwa yang memindahkan singgasana Ratu Bilqis itu bukan Jin Ifrit melainkan manusia yang memiliki ilmu dari Al-Kitab. Sementara sering kita dengar diceritakan baik di pengajian maupun ceramah-ceramah bahwa jin membantu Nabi Sulaiman a.s. dan mengangkat singgasana Ratu Bilqis. Bukan jin yang mengangkat melainkan manusia.

Kedua, ayat ini menunjukkan bahwa manusia bisa lebih hebat dari jin. Ketiga bahwa manusia ini walaupuan ia bukan Nabi namun ia memiliki ilmu yang dikaruniakan Allah kepada dirinya sementara ilmu tersebu tidak dikaruniakan Allah kepada Nabi Sulaiman a.s. Sedangkan Nabi Sulaiman a.s. tetap lebih hebat dengan ilmu-ilmu lain yang dikaruniakan Allah kepadanya. Hal ini sama seperti riwayat Nabi Khidir a.s. dengan Nabi Musa a.s. Dalam beberapa segi, Nabi Khidir a.s. memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa a.s. demikian pula sebaliknya Nabi Musa a.s. tidak memiliki ilmu yang dimiliki Nabi Khidir a.s. sehingga ia ingin berguru kepada Nabi Khidir a.s.

Imam Qurthubi dalam Tafsir Qurthubi menerangkan bahwa orang yang diberi pengetahuan hikmah dari Al-Kitab yang sanggup mendatangkan singgasanan Ratu Bilqis sebelum mata berkedip atas seijin Allah bernama Ashif bin Burkhiya .Beliau berdoa dengan menyebutkan: “Ya Hayyu Ya Qayyum

Ketiga, betapa pun hebatnya ilmu itu, ini merupakan ujian apakah bersyukur atau mengingkari nikmat yang diberikan Allah. Maka ini menjadi dalil bahwa kenikmatan, kelebihan, kesenangan yang diberikan Allah itu pun merupakan ujian. Hal ini berbeda dengan sebagian pendapat yang mengatakan bahwa musibah itu adalah ujian sedangkan kesenangan adalah karunia bukan ujian.

Keempat, memang benar Al-Qur’an menyatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s. tidak melakukan sihir. Sedangkan yang melakukan sihir adalah Bani Israil yang mempelajari sihir dari Malaikat Harut dan Marut dari Babilonia (Negeri Babil yaitu Iraq di zaman sekarang) sebagaimana ayat berikut :

“Dan mereka (Bani Israil) mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, ….. “ (Q.S. Al-Baqarah [2] : 102)

Al-Hakim dalam Mustadrak nya meriwayatkan mengenai maksud perkataan hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir) dari ayat di atas yaitu dari Ibnu Abbas r.a. berkata : “Dahulu pada masa kekuasaan Sulaiman a.s. setan-setan menuliskan kitab-kitab sihir kemudian Nabi Sulaiaman a.s. menguburnya di bawah singgasananya, dan setan tidak bisa mendekatinya kecuali akan terbakar. Namun setelah Nabi Sulaiman a.s. wafat setan-setan menyebarkan berita kepada Bani Israil (Nabi Sulaiman a.s. adalah anak Nabi Daud a.s. dari Bani Israil / Keturunan Nabi Ya’kub a.s.) bahwa dahulu Nabi Sulaiman a.s. dapat menguasai binatang dan jin berkat ilmu yang terdapat dalam kitab-kitab sihir ini. Kemudian Bani israil mengkafirkan Nabi Sulaiman a.s. dan menyangkanya sebagai tukang sihir. Maka tersiarlah cerita ini turun termurun di kalangan Bangsa Irak dan Arab. Oleh karena itu Allah menurunkan ayat ini untuk menerangkan duduk perkara sebenarnya. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1 Hal 743)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Al-A’masy dari Al-Minhal dari Sa’id Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu ada orang bernama Asif sebagai juru tulis Nabi Sulaiman a.s. Dia mengetahui Ismul A’zhom (atau Ismullahil Azhom) dan mencatat semua ilmu-ilmu atas seijin Nabi Sulaiman a.s.lalu Nabi Sulaiman a.s. mengubur semua catatan itu di bawah singgasananya. Ketika Nabi Sulaiman a.s. wafat, setan-setan mengeluarkan semua catatan tersebut lalu  menyisipkan setiap dua baris catatan itu dengan kalimat kekufuran dan sihir. Lalu setan menyiarkan bahwa inilah dahulu amalan yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. sehingga bisa menguasai  binatang dan jin. Maka orang-orang mulai mengkafirkan dan mencaci makai Nabi Sulaiman a.s. Para ulama hanya diam namun orang-orang bodoh terus mencaci maki Nabi Sulaiman a.s. sampai akhirnya Allah menurunkan ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1 Hal 742)

Kelima, pembelaan Allah bahwa walaupun Nabi Sulaiman a.s. mampu memerintah binatang dan jin tidak berarti ia mengerjakan sihir. Karena kemampuan Nabi Sulaiman a.s. tersebut sebagai mukjizat yang diberikan Allah SWT. Sedangkan manusia lain, tidak mampu melakukan itu semua kecuali harus melakukan ilmu sihir. Disini perlu ketelitian dan kejernihan dari para pembaca sekalian. Persoalan ini sama dengan perbedaan antara tukang sihir Fir’aun dengan Mukjizat Nabi Musa a.s. Keduanya sama-sama melakukan keajaiban. Tukang sihir Fir’aun mengubah tali menjadi ular. Sedangkan Nabi Musa a.s. mengubah tongkat menjadi ular. Namun tukang sihir Fir’aun melakukan dengan ilmu sihir. Yaitu ilusi mata. Bagi orang yang tersihir melihat tali itu adalah ular sedankan yang tidak kena sihir melihat tali itu tetap tali. Sedangkan Nabi Musa a.s. tidak melakukan sihir melainkan yang muncul adalah ular sebenar-benarnya ular dari hasil penciptaan Allah. Dan ini adalah mukjizat. Yang bisa membedakan mana sihir dan mana nyata adalah tukang sihir itu sendiri. Karena di mata tukang sihir, tali itu tetap tali, walaupun di mata orang lain terlihat sebagai ular. Sedangkan tonglat Nabi Musa a.s. di mata tukang sihir benar-benar menjelma menjadi ular. Maka hanya tukah sihir lah yang tahu bahwa ini bukan sihir, dan tongkat itu benar-benar berubah menjadi ular secara penciptaan. Maka tulang sihir Fir’aun pun tersungkur bersujud dan menyatakan beriman kepada Allah, walaupun setelah itu ia harus menghadapi hukuman mati dari Fir’aun.

Jadi keliru jika mengatakan bahwa pada zaman sekarang bisa dilakukan hal-hal ajaib dengan mengambil sandaran dalil kepada riwayat Nabi Sulaiman a.s. Atau mencoba-coba memerintah jin, meminta pertolongan jin atau memelihara jin sebagai khodam dengan beralasan pada riwayat Nabi Sulaiman a.s. Karena yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. adalah mukjizat dari Allah dan tanpa sihir. Sedangkan jka manusia biasa pada zaman sekarang mencoba-coba menyamai apa yang dilakukan Nabi Sulaiman a.s. yaitu memindahkan benda (seperti kejadian berpindahnya kubah masjid di Ambon) hal itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan bantuan sihir dan jin kecuali orang-orang yang amat sangat sholeh sehingga mendapat karomah Allah. Sedangkan karomah Allah itu tidak bisa dicapai kecuali dengan kesholehan dan ketaqwaan serta tidak bisa digembar-gemborkan dan ditawar-tawarkan kepada khalayak bahkan kadang tidak bisa diminta melainkan datang dengan sendirinya sebagai pertolongan Allah.

Kembali pada permasalahan Kyai Kanjeng, maka andai kata benar ia dapat menggandakan uang, sebagaiamana dijelaskan oleh Kyai Hasyim Muzadi, niscaya ia (Kyai Kanjeng) tidak membutuhkan mahar (pembayaran uang) dari orang-orang. Karena ia bisa menggandakan uangnya sendiri sampai triliunan. Jika alasannya meminta uang mahar (dari orang lain) karena yang orang lain itulah yang ingin digandakan uangnya,  alasan ini tidak bisa diterima. Karena jika memang benar Kyai Kanjeng bisa menggandakan uangnya, bagikan saja uang yang dia hasilkan kepada orang-orang yang minta uang toh uang dia sendiri tidak akan habis karena bisa digandakan lagi besoknya.

Wallahua’lam.

APAKAH NABI ISA (YESUS) MASIH HIDUP ATAU WAFAT?

APAKAH NABI ISA (YESUS) MASIH HIDUP ATAU WAFAT?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Yesus Hidup Atau Wafat 02

Umat Islam dan seluruh ulama muslim sepakat bahwa Nabi Isa alaihis salam (Yesus) tidak disalib. Keyakinan ini bersumber dari ayat Al-Qur’an sebagai berikut :

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 157)

Sesungguhnya yang disalib adalah salah satu muridnya yang berkhianat bernama Yudas Iskariot, yang diserupakan wajahnya oleh Allah menyerupai wajah Nabi Isa a.s. Sejarawan Ibnu Ishaq mengisahkan sebuah kisah bahwa yang diserupakan adalah orang bernama Sarjis. Sedangkan Yudas Iskariot adalah murid Nabi Isa a.s. yang menjual informasi kepada tentara Romawi dan menunjukkan rumah tempat berkumpulnya Nabi Isa a.s. (Yesus) bersama 12 orang muridnya.

Adapun Umat Nasrani modern pada saat ini memiliki keyakinan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) telah wafat di kayu salib. Namun sesungguhnya dalam sejarah keyakinan kristiani, masalah penyaliban Nabi Isa a.s. (Yesus) ini mengalami proses selisih paham dan keragu-raguan. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an :

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 157)

Mengenai kontroversi seputar penyaliban Nabi Isa a.s. (Yesus) ini akan kita bahas pada tulisan yang lain. Insya Allah.

Jika Nabi Isa a.s. tidak wafat di tiang salib, lantas kemana kah beliau? Dalam Al-Qur’an dijelaskan :

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya (rafa’ahullah ilaihi). Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 158)

Berdasarkan ayat di atas ulama tafsir mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) tidak wafat di kayu salib melainkan diangkat oleh Allah ke sidratul muntaha (langit ke tujuh). Perkataan “raf’u” bisa berarti mengangkat secara fisik dapat pula secara non-fisik. Oleh karena itulah sebagian ulama memahami nya bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) diangkat dalam bersama fisiknya dan sebagian lagi berpendapat yang diangkat adalah ruh nya saja. Jika Yang diangkat adalah bersama fisiknya, berarti Beliau diangkat dalam keadaan hidup-hidup. Sedangkan jika yang diangkat adalah ruh nya saja, berarti sudah pasti Beliau diwafatkan terlebih dahulu. Namun Al-Maraghi berpendapat bahwa yang diangkat bukan ruhnya, melainkan yang dimaksud adalah diangkat derajatnya.

Persoalannya adalah dalam ayat Al-Qur’an yang lain, Allah berfirman yang artinya :

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mutawaffika) dan mengangkat kamu kepada-Ku (waroofi’uka) (Q.S. Ali Imran [3] : 55)

Oleh karena ada ayat di atas menyebutkan “mutawaffika” yang artinya akan Kami wafatkan kamu, maka berarti Nabi Isa a.s. telah di-wafat-kan. Sedangkan pada Q.S. An-Nisaa’ [4] : 158 dikatakan “rafa’ahullah ilaihi” yang artinya Kami telah mengangkatnya (isa) kepada Nya (Allah). Jadi sebagian ulama berpendapat Nabi Isa a.s. diangkat ke langit dalam keadaan telah diwafatkan terlebih dahulu dan yang naik ke langit adalah ruhnya. Adapun kelak Allah akan menghidupkannya kembali dan diturunkan ke bumi.

Pendapat Bahwa Nabi Isa Sempat Diwafatkan Sebelum Diangkat ke Langit

Ali ibnu Abu Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abba r.a. menyatakan arti dari “mutawaafika” dalam ayat ini adalah “mematikan / mewafatkan kamu”. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 hal 388)

Al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani mengatakan bahwa “mutawaafika” dalam ayat ini artinya adalah “mustaufi ajalika” yaitu menyempurnakan ajal mu agar tidak sampai dikuasai atau tertangkap oleh musuh.

Muhammad Ibnu Ishaq menafsirkan ayat meriwayatkan dari Wahb Ibnu Munabih bahwa Allah mewafatkan Nabi Isa a.s. selama 3 jam (saat peristiwa penyaliban) dan setelah itu Allah mengangkatnya ke langit. Sedangkan Ishaq ibnu Bisyir meriwayatkan dari Idris dari Wahb Ibnu Munabih bahwa Allah mewafatkan Nabi Isa a.s. selama 3 hari dan setelah itu Allah mengangkatnya ke langit.

Ibnu Jarir mengungkapkan sebuah atsar telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abdul Karim, telah mencertakan kepada kami Abdush Shomad bin Ma’qal, ia pernah mendengar Wahb menceritakan bahwa Isa Ibnu Maryam ketika diberitahu oleh Allah akan diangkat dari dunia ini, maka gelisahlah hatinya akan kematian dan berita itu teraa berat baginya (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 Hal 26)

Dari atsar ini diketahui bahwa ketika Allah memberitahukan kepada Nabi Isa a.s. : Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mutawaffik) dan mengangkat kamu kepada-Ku (waroofi’uk) (Q.S. Ali Imran [3] : 55) Maka Nabi Isa a.s. memahami bahwa dirinya akan diwafatkan namun mengetahui rencana Allah bahwa yang disalib bukanlah Nabi Isa a.s. melainkan seseorang yang akan diserupakan dengan Beliau.

Pada Q.S. An-Nisaa’ Allah memberitahukan bahwa orang Romawi tidak membunuh dan tidak menyalib Nabi Isa a.s. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. kemudian tidak pernah wafat. Mungkin timbul kerancuan seolah perkataan “tidak membunuhnya” ini menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. tidak pernah diwafatkan sama sekali sampai ketika Beliau diangkat ke langit oleh Allah.

Pendapat Bahwa Nabi Isa Tidak Diwafatkan Dan Diangkat ke Langit Dalam Keadaan Hidup

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid bahwa mereka (Kaum Yahudi) telah menyalib orang yang diserupakan dengan wajah Nabi Isa a.s. sedangkan Nabi Isa a.s. telah diangkat ke langit oleh Allah dalam keadaan hidup. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 Hal 31)

Ibnu Katsir termasuk orang yang membenarkan pendapat ini : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Isa a.s. kepadaNya dan kini ia masih dalam keadaan hidup dan kelak sebelum kiamat terjadi ia akan diturunkan” (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 hal 36).

Pendapat bahwa Nabi Isa a.s. diangkat ke langit dalam keadaan masih hidup karena Beliau kelak akan diturunkan sebelum akhir zaman dan baru benar-benar diwafatkan.

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159)

Dan Nabi Isa a.s. baru akan benar-benar wafat setelah turun ke bumi, kemudian memecahkan salib dan membunuh babi, serta menjadi hakim selama 40 tahun, di bawah pemerintahan Imam Mahdi, baru kemudian Beliau wafat dan disholatkan oleh kaum muslimin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits :
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda “…Isa akan tinggal (di bumi) selama 40 tahun, kemudian ia wafat dan dishalatkan oleh kaum muslimin” (H.R. Ahmad)

Qatadah mengatakan bahwa ungkapan dalam ayat ini (Q.S. Ali Imran [3] : 55) adalah ungkapan muqaddam sekaligus muakhkhar yaitu lebih dahulu mengungkapkan peristiwa yang akhir dan baru mengungkapkan peristiwa yang sebelumnya. Maksud sebenarnya adalah “Sesungguhnya Aku (Allah) akan mengangkatmu kepadaKu setelah itu Aku akan mewafatkanmu yaitu setelah diangkat. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 Hal 388)

Sedangkan Matar Al-Waraq menjelaskan bahwa istilah mutawaafika” dalam ayat ini artinya adalah “mengangkat” sama dengan perkataan “rafa’a”. Sehingga Nabi Isa a.s. sama sekali belum pernah diwafatkan oleh Allah dan langsung diangkat oleh Allah dalam keadaan hidup.

Adapun Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kebanyakan ulama mengatakan bahwa istilah mutawaafika” berasal dari kata “yatawaffa” yang artinya membuat tidur. Hal ini berdasarkan kata yatawafa dalam ayat lain yang bermakna tidur

dan Dialah yang menidurkan kamu (yatawaffakum) di malam hari ….”(QS. Al An’am [6] : 60)

Kata “yatawaffa” juga berarti memegang atau mengambil jiwa seseorang

Allah memegang jiwa orang (Allahu yatawaffa al- anfusahiina) ketika matinya….”(QS. Al Zumar [39] : 42)

Ibnu Abi Hatim meriawayatkan dari Ayahnya yang berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Abu Ja’far dari ayahnya, dari Ar-Ra’bi ibnu Anas dari Al Hasan bahwa sehubungan dengan firman Allah : Sesungguhnya Kami akan mewafatkan kamu (Q.S. Ali Imran [3] : 55) maksudnya adalah wafat dalam pengertian tidur. Dan Allah mengangkatnya dalam keadaaan tertidur. Kemudian Al-Hasan mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada orang Yahudi “Sesungguhnya Isa itu belum mati dan sesungguhnya ia akan kembali kepada kalian sebelum kiamat”.

Di sini diambil kesimpulan bahwa pendapat yang rajih (kuat) terkait tafsir Q.S. Ali Imran [3]:55 (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyelamatkan kamu dengan menidurkan kamu (mutawaffika) kemudian mengangkat mu ke langit…

Ialah Allah menidurkan atau membuat pingsan Nabi Isa a.s. kemudian Allah mengangkatnya ke langit (dalam keadaan hidup) untuk menyelamatkan dari tentara Romawi yang hendak menangkapnya. Maka ketika tentara Romawi hendak menangkapnya yang ditemukan adalah 12 orang hawariyyun (murid / sahabat Nabi Isa .a.s) dan salah satunya di situ ada yang diserupakan wajahnya dengan Nabi Isa (mungkin Yudas atau Sarjis).

Dan menuru keyakinan para ulama, kini Nabi Isa a.s. masih dalam keadaan hidup di sidratul muntaha (langit ke tujuh) dengan mendapatkan rezeki dari sisi Allah dan kelak akan diturunkan kembali ke bumi sebelum kiamat besar (qiyamah kubro). Setelah itu Nabi Isa akan mematahkan salib dan membunuh babi dan akan hidup selama 40 tahun sampai kemudian Allah mewafatkannya dan disholatkan oleh umat Islam sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikut :

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi), kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya(qobla mautihi) ….”(QS. An-Nisaa’ [4] : 159)

Perkataan qobla mautihi pada ayat di atas adalah Nabi Isa a.s. baru benar-benar diwafatkan oleh Allah nanti setelah turun kembali ke bumi dan hidup 40 tahun di bumi sebagaimana telah dijelaskan pada hadits sebelumnya.

Wallahua’lam bi showab.

Artikel terkait :

Apakah Nabi Isa (Yesus) Mengetahui Datangnya Hari Kiamat

APAKAH NABI ISA (YESUS) MENGETAHUI DATANGNYA HARI KIAMAT?

APAKAH NABI ISA (YESUS) MENGETAHUI DATANGNYA HARI KIAMAT?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Yesus Akan Datang

Salah satu ayat yang menjadi  ujian bagi umat Islam adalah Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61. Arti ayat ini sering diplesetkan sebagai berikut : “Dan sesungguhnya Isa (Yesus) itu benar-benar mengetahui tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu (dengan Yesus)  dan ikutilah Aku (Yesus). Inilah shirothol mustaqim (jalan yang lurus)”.

Dikatakan menjadi ujian karena ayat ini sering digunakan sebagian misionaris untuk memurtadkan umat Islam. Menjadi ujian karena bimbang lah hati umat Islam yang awam. Kalau benar Nabi Isa (Yesus) itu mengetahui tentang kapan datangnya kiamat, maka sungguh luar biasa Yesus itu, karena Nabi Muhammad s.a,w, saja mengatakan tidak tahu mengenai kapan datangnya kiamat.

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Q.S. Al-A’raf [7] : 187)

Benarkah arti ayat itu demikian ? Jika benar seperti itu berarti Allah SWT tidak konsisten, karena pada surat yang sama pada ayat yang lain Allah menyatakan hanya Allah sajalah yang mengetahui kapan kiamat tiba.

di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 85)

Maka para misionaris pun membantah : “Ooh tidak bertentangan kok”. Mengapa Yesus mengetahui kapan datangnya kiamat? Tentu saja, karena Yesus itu adalah Tuhan itu sendiri. Sehingga ia mengetahui kapan datangnya kiamat. Maka ayat di atas sering dipakai sebagai hujjah bagi non-muslim untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an pun meng-amini konsep ketuhanan Yesus.

Lebih celaka lagi bunyi ayat selanjutnya diplintir seolah artinya adalah : jangan ragu-ragu mengikuti Yesus dan ikutilah dia. Kemudian Yesus lah sesungguhnya shiroothol mustaqim (jalan yang lurus). Padahal selama ini umat Islam selalu membaca Surah Al-Fatihah dalam sholatnya yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti shiroothol mustaqim (jalan yang lurus).

Maka seolah-olah ayat ini sangat telak mengugkapkan bahwa Yesus mengetahui kapan datangnya hari kiamat karena ia adalah Tuhan itu sendiri, dan janganlah ragu dengan Yesus, maka ikutilah Yesus karena dia lah yang dimaksud sebagai shiroothol mustaqiim (jalan yang lurus) dimana umat Islam selama ini selalu menyebutnya di dalam shalat.

Tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang yangs sengaja memelintir ayat  Al-Qur’an Arti yang benar dari Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61 adalah “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberi pengetahuan (mengajarkan keimanan )tentang saa’ah (hari kiamat). Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku (Allah). Inilah shiroothol mustaqim jalan yang lurus

Sahabat Nabi s.a.w. yaitu Ibnu Abbas r.a. ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “saa’ah”  adalah saat sebelum kiamat besar dimana Nabi Isa a.s. akan turun ke muka bumi.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas menjelaskan : bahwa yang dimaksud “karena itu janganlah kalian ragu tentangnya”, maksudnya adalah ragu tentang peristiwa diturunkannya Nabi Isa a.s. saat sebelum kiamat, karena peristiwa itu pasti terjadi. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Juz 25 hal 281)

Dalam hadits Nabi s.a.w. dikatakan bahwa Nabi Isa a.s. akan diturunkan ke muka bumi ini untuk kedua kalinya yaitu sebelum hari kiamat untuk membunuh Dajjal.

“Akan muncul Dajjal di tengah-tengah umatku…. Lalu Allah SWT mengutus Isa ibnu Maryam, seolah-olah dia itu Urwah bin Mas’ud, lalu mencari Dajjal, lantas membunuhnya.” (H.R. Muslim)

Al-Qur’an pun menyatakan bahwa Isa akan turun ke muka bumi sebelum kiamat :

Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159

Ayat yang menyatakan bahwa “Isa (Yesus) akan menjadi saksi pada hari kiamat” juga sering dipelintir oleh sebagian misionaris dengan mengatakan bahwa Yesus akan turun pada hari Pantekosta untuk menuai (memanen) yaitu memilih orang-orang yang percaya pada Yesus (sebagai Tuhan). Maka pada hari itu, siapa yang tidak percaya pada Yesus akan celaka.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjadi saksi ialapada waktu kiamat adalah seperti dijelaskan pada Q.S. Az-Zukhruf [43] : 63:

Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku (Isa) datang (turun ke bumi) kepadamu dengan membawa hikmat

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hikmat” pada ayat tsb yaitu nikmat kenabian dan untuk menjelaskan apa-apa yang selama ini kamu perselisihkan”. Ibnu Jarir menjelaskan : “hikmata yaitu perkara-perkara agama dan bukan perkara keduniawian”. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Juz 25 hal 282)

Dalam hadits dijelaskan bahwa maksud turunnya Isa bin Maryam a.s. ke bumi adalah :

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kemudian Isa bin Maryam akan menjadi seorang hakim yang adil dikalangan ummatku dan seorang pemimpin yang bijaksana, ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah dan menyuburkan sedekah,… (H.R. Ibnu Majah No. 4067)

Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah penjelasan Nabi Isa a.s maka akan menjadi jelaslah keyakinan yang salah dan keyakinan yang benar. Kaum Nasrani semua nya akan beriman masuk Islam sebelum kiamat, karena Nabi Isa (Yesus) akan menjelaskan kesalahan dari aqidah Nasrani yang menganggap dirinya sebagai Tuhan yang mati di tiang salib

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159)

Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “ikutilah jalan Ku yaitu Shiroothol Mustaqiim (jalan yang lurus)” sebagai berikut : Jalan yang lurus maksudnya adalah peribadatan semata kepada Allah, dan janganlah mengikuti persangkaan orang Nasrani yang mempertuhankan Yesus. Hal ini sebagaimana pada ayat selanjutnya :

Sesungguhnya Allah, Dialah (yaitu Allah) Tuhanku (Tuhannya Yesus) dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia (Allah), ini lah shirothool mustaqim (jalan yang lurus). (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 64)

Ayat ini menjelaskan orang yang ingin memelesetkan dan mempelintir ayat sebelumnya (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61) bahwa yang dimaksud dengan shiroothol mustaqim adalah Isa (Yesus). Maka Allah telah memperingatkan pada satu ayat sebelumnya :

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Q.S. Az-Zukhruf [43] : 63)

Maka orang yang mengikuti persangkaan yang dibisikkan setan berselisih dan mengungkapkan teori-teori ke-tuhan-an yang menyimpang karena mengira bahwa Isa (Yesus) itu Tuhan itu sendiri yang menjelma menjadi anak manusia.

“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka “ (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 65)

Hal ini lah yang terjadi pada abad pertengahan, ketika Kaisar Agustinus melalui konsili Nicea memaksakan doktrin “ketuhanan Yesus”. Maka sebagan dari kaum Nasrani mempertahankan ke-esa-an Allah dan tidak mau menuhankan Yesus. Mereka ini disebut golongan Unitarian. Mereka kemudian dicap sebagai kelompok yang sesat, karena berlawanan dengan doktrin Kristen versi Pemerintah Romawi ketika itu. Kebanyakan dari mereka kemudian melarikan diri ke Timur Tengah dan Afrika. Mereka ini kemudian dikejar dan dibunuh oleh tentara Romawi dan apabila tertangkap dijadikan makana singa dalam ajang Gladiator di Roma. Untuk melindungi aqidahnya yang masih murni meng-esakan Allah, mereka menyembunyikan salinan-salinan Taurat dan Injil yang asli. Dokumen inilah yang kemudian ditemukan oleh para arkeolog pada masa kini. Salah satunya adalah manuskrip yang ditemukan di Wadi Qumran.

Wallahua’lam

 

PUASA SYAWAL DAN QODHO PUASA WAJIB

PUASA SYAWAL DAN QODHO PUASA WAJIB

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Telah sampai kepada kami pertanyaan mengenai apakah benar puasa sunnah bulan Syawal tidak boleh dilakukan sebelum dibayar hutang puasa ramadhannya? Dengan pertimbangan bahwa yang wajib lebih utama untuk dilaksanakan sebelum melaksanakan yang sunnah.

Sebagaimana sama-sama diketahui bahwa puasa sunnah bulan syawal itu memiliki keutamaan yang luar biasa, dimana orang yang berpuasa ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal sama pahalanya dengan puasa setahun penuh

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far telah mengabarkan kepadaku Sa’d bin Sa’id bin Qais dari Umar bin Tsabit bin Harits Al Khazraji dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu ‘anhu, bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa” (H.R. Muslim No. 1984 Abu Daud No. 2078, Tirmidzi No. 690, Ibnu Majah No. 1706 Ad-Darimi No.1689 dan Ahmad)

Ibnu Al-Mubarak mengatakan : “Telah diriwayatkan di sebagian hadits, bahwa puasa ini lanjutan dari puasa Ramadlan, Ibnu Mubarak memilih dan lebih menyukai berpuasa enam hari di awal bulan berturut-turut namun tidak mengapa jika ingin berpuasa enam hari tidak berurutan”. 

Sementara itu ada orang yang mengatakan tidak sah puasa sunnah jika belum mengqadha puasa ramahdhannya adalah berdasarkan hadits ini :

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abu Al Aswad dari Abdullah bin Rofi’ dari Abu Hurairah dari Rasulullah s.a.w., beliau bersabda: “Barangsiapa mendapati ramadhan sedangkan ia masih memilki tanggungan ramadhan yang belum ia qadha`, maka Allah tidak akan menerima puasa ramadhannya, dan barangsiapa berpuasa sunnah padahal ia masih memiliki tanggungan ramadhan yang belum ia qadha`, maka Allah tidak akan menerima puasanya sehingga ia meng-qadha-nya.” (H.R. Ahmad No. 8267) 

Salah seorang perawinya adalah Ibnu Lahi’ah dimana Muhammad bin Sa’d dan Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah perawi dla’if. Sedangkan Abu Zur’ah mengatakan ia laa yadlbuth (tidak kuat) sedangkan Al-Hakim mengatakan dzahibul hadits. Walaupun demikian Abu Lahi’ah dikatakan oleh Ibnu Hajar Asqolani sebagai orang yang shaduuq (jujur) dan ia adalah salah seorang perawi hadits muslim.

Namun hadits di atas bertentangan dengan hadits yang lebih kuat mengenai qadha puasa ramadhan kita jumpai riwayat dari Aisyah yang menyatakan :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku mendengar ‘Aisyah r.ah. berkata: “Aku berhutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali pada bulan Sya’ban”. (H.R. Bukhari No. 1814)

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sa’d bin Al Hakam dia berkata; pamanku telah menceritakan kepada kami, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Yazid, Ibnul Had menceritakan kepadanya, bahwasanya Muhammad bin Ibrahim menceritakan kepadanya dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari ‘Aisyah dia berkata : “Sungguh salah seorang dari kami (istri Nabi s.a.w. ) pernah berbuka pada bulan Ramadlan, kemudian tidak sanggup untuk mengqadhanya hingga masuk bulan Sya’ban”. (H.R. Nasa’i No. 2149)

Pada hadits di atas Aisyah menyatakan bahwa ia tidak biasa mengqadha puasa ramadhannya kecuali pada bulan Sya’ban. Sementara kita tidak yakin bahwa gara-gara baru dapat mengqadha hutang puasa wajibnya pada bulan Sya’ban, lantas pada tahun itu Aisyah tidak melaksanakan puasa sunnah bulan syawal, mengingat puasa sunnah bulan di syawal itu sangat besar. Demikian pula rasanya tidak mungkin gara-gara belum bisa meng-qadha puasa ramadahannya sampai bulan Sya’ban maka sepanjang tahun Aisyah r.ah. tidak melaksanakan puasa sunnah lainnya seperti ayyamul bidh dan puasa senin kamis.

Maka pendapat yang lebih kuat adalah hal ini tidak mengapa jika melaksanakan puasa sunnah sementara hutang puasa ramadhan belum di-qadha. Adapun jika memang hutang puasa ramadhannya hanya sedikiit (misal 3 hari saja) sementara bulan syawal masih panjang, memang alangkah baiknya jika dibayar hutang puasa ramadhannya dulu. Namun jika baru sempat berpuasa di akhir bulan syawal , maka boleh puasa syawal dulu dan meng-qadha ramadhan setelah syawal. Karena jika tidak, momentum puasa syawal itu akan lewat.

Wallahua’lam