ULAR MENGGIGIT GERGAJI

ular-lawan-gergaji

 

Seekor ular tertusuk gergaji yang tergeletak di tanah, ia mengira gergaji besi itu telah menyerangnya.. maka ular tsb balik menyerang gergaji tsb, namun ia justru semakin tersakiti terluka di sana sini. Maka saking marahnya ular itu mengerahkan sekuat tenaga membelit gergaji tsb, maka tubuh ular tsb akhirnya terpotong potong. Keesokan harinya orang-orang heran menemukan ular yang terpotong-potong di tanah.

Terkadang kemarahan itu justru membuat kita tidak mampu berfikir dengan jernih dan menganalisa apa sebenarnya yang menimpa kita. Yang ada setiap kali kita melancarkan kemarahan, justru saat itu kita sedang menyakiti diri sendiri. Dan akhinya kemarahan tsb dapat membinasakan kita.

Amarah bisa menghilangkan kewaspadaan. Hilang sandal, lalu sibuk marah eh tau-tau malah kecopetan HP. Jadi terkadang kita harus pandai mengendalikan emosi karena emosi membuat perilaku kita tidak terkendali. Sementara musuh yang semula tidak memiliki celah untuk menyerang justru menemukan celah ketika kita terlalu marah.

Pelajaran dari perumpamaan sang ular di atas adalah, ia lebih mengedepankan emosi, sehingga lupa untuk mempelajari dan mengenali siapa lawannya, dan ia juga salah dalam menganalisa motivasi dan niat si gergaji. Sang ular salah paham menilai gergaji akan menyerangnya, padahal tidak. Sang ular tidak berhasil memahami kenapa ia tertusuk gergaji. Ia hanya paham bahwa dirinya terluka berarti dirinya diserang.

Hendaknya kita tidak boleh terburu emosi sehingga salah menganalisa situasi. Amarah kita juga menyebabkan kita salah lupa atau terlewat tidak sempat mempelajari siapa lawan dan musuh kita. Seandainya ular itu tahu, gergaji itu bukanlah musuhnya, justru ia bisa memanfaatkan gergaji sebagai senjata untuk melindunginya.

Sang ular juga gagal memahami situasi. Ia cenderung menyalahkan pihak lain. Padahal sandainya ular itu tahu, bahwa gergaji tidak bergerak apa-apa. Ia tertusuk karena kelalaiannya sendiri, dan bukan karena gergaji menyerangnya. Nah janganlah kita bersikap demikian. Karena emosi, kita cenderung menyalahkan pihak lain. Padahal diri kita terluka karena kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

MENGHILANGKAN RASA IRI

MENGHILANGKAN RASA IRI

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Iri ialah menginginkan hal yang sama seperti yang diperoleh atau dialami orang lain karena menganggap yang diperoleh atau dialami orang lain itu lebih baik dari pada apa yang diperoleh atau dialami dirinya.

Jadi intinya iri itu karena ada sesuatu pada diri orang lain yang kita pandang atau kita anggap lebih baik. Dan intinya iri itu karena menganggap apa yang diperoleh atau dialami pada diri kita itu lebih buruk daripada orang lain alami.

Nah jadi menekan rasa iri berkisar pada 2 hal itu, yaitu : 1. menganggap lebih baik (yaitu yang ada pada orang lain) dan 2. menganggap lebih buruk (yaitu yang ada pada orang lain). Jadi intinya adalah merasa oran lain lebih dan merasa driri kurang. Jika kita telah berhasil menekan 2 hal ini maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Maka jika 2 hal di atas dipersempit lagi ternyata keduanya sama-sama bermuara pada yang namanya ANGGAPAN dan ini berasal dari CARA PANDANG. Jika berhasil mengubah cara pandang maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Contoh, wanita yang bertubuh gemuk, merasa iri dengan temannya wanita yang bertubuh langsing. Hal ini karena adanya ANGGAPAN bahwa tubuh langsing itu lebih sexy lebih dikagumi singkat kata lebih baik daripada tubuh yang gemuk. Jika ANGGAPAN dan PANDANGAN terhadap tubuh gemuk dan langsing ini bisa diubah misal bahwa ternyata ada lho yang seleranya justru dengan wanita gemuk, ada lho ras dan bangsa tertentu justru menganggap wanita gemuk itu sexy (misal di ras polynesia, india dan arab) dan ada lho pria yang menganggap kurus itu tidak menarik, maka Anda tidak akan iri lagi karena ANGGAPAN merasa orang lain lebih dan merasa diri kurang itu telah berubah.

Nah cara-cara mengubah ANGGAPAN dan CARA PANDANG terhadap perbandingan diri sendiri dengan orang lain diantaranya sebagai berikut :

1. Percayalah bahwa setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka tak ada orang yang melulu hanya memiliki kelebihan dan melulu hanya memiliki kekurangan. Ada sih memang segelintir orang yang sepintas full dengan kekurangan namun prosentasenya sedikit sekali dan ada hikmah lain di balik kekurangannya dan mungkin ia tidak dimintai pertanggung jawaban penuh sebagaimana orang lain.

2. Maka tugas kita adalah mengalihkan perhatian dari kekurangan diri kita dan kelebihan orang lain dokus pada kelebihan diri kita saja.

3. Maka tugas kita adalah menemukan apa kelebihan diri kita dan pupuk kelebihan itu secara maksimal. Arahkan kelebihan itu sehingga berguna bagi orang banyak. Karena tak ada gunanya kelebihan itu jika tidak bermanfaat bagi orang lain.

4. Cara menemukan kelebihan diri kita adalah banyak mencoba berbagai hal dan mengamati diri kita sendiri. Satu-satu nya cara menemukan bakat diri kita adalah rajin mencoba berbagai hal dan menggali potensi diri kita sendiri. Sekali bakat itu ditemukan pupuk habis-habisan hingga menjadi nomor satu dalam bidang tersebut.

5. Carilah lingkungan yang mendukung mencuatnya bakat kita. Carilah lingkungan yang menghargai bakat kita. Terkadang lebih baik menjadi ikan paling besar di kolam yang kecil ketimbang menjadi ikan kecil atau biasa saja di kolam yang besar. Jadi kadang potensi diri kita tidak terlihat karena kita berada di kolam yang penuh dengan potensi potensi lain yang menonjol. Maka sejenak menyepi di lingkungan yang lebih terbatas kadang ada gunanya agar nampak bakat dan potensi diri kita

6. Jangan mencoba meniru atau mengejar kelebihan orang lain karena setiap orang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Jadilah diri sendiri dan tak ada gunanya menjadi orang lain karena itu menipu diri dan menyiksa diri.

7. Setiap orang akan dimudahkan Allah untuk apa yang telah menjadi jatahnya (bagiannya) maka temukanlah apa yang telah menjadi bagian kita dan tak ada gunanya menyibukkan diri memikirkan apa yang menjadi jatah orang lain.

8. Orang lain bahagia tapi pasti punya masalah dan diri kita mungkin punya masalah namun pasti bisa bahagia.

9. Orang lain beruntung tapi bisa jadi itu awal musibah bagi dirinya sedangkan diri kita mengalami musibah namun bisa jadi adalah awal keberuntungan kita.

10. Orang lain beruntung namun bisa jadi ia tidak bersyukur dan itu adalah musibah bagi dia, sedangkan kita mungkin mengalami musibah namun jika bersyukur maka itu adalah awal keberuntungan kita. Karena jika kita bersyukur Allah akan menambahkan kenikmatan pada diri kita.

11. Berhentilah menganggap diri orang lain besar dan belajarlah untuk lebih menghargai apa yang ada dalam diri sendiri. Karena orang lain tak akan menghargai apa yang ada pada diri kita jika kita sendiri tidak menghargai nya.

TRADISI NYADRAN

ANTARA ZIARAH KUBUR DAN NYADRAN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Timbul pertanyaan di forum ini apakah nyadran itu boleh dilakukan oleh umat Islam? Aakah ada dalil yang menjadi sandaran bagi kegiatan ini? Pertama-tama perlu dipahami bahwa tradisi “nyadran” ini berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sang penanya menguraikan tradisi nyadran berupa ziarah kubur menjelang bulan ramadhan, membersihkan kuburan kerabat dan ada beberapa keluarga yang menambahinya dengan memberi shodaqoh pada fakir miskin. Sebagian keluarga lain ada yang mengadakan kenduri, kumpul dengan sanak keluarga, mirip seperti mudik lebaran.

Namun di tempat yang disebut nyadran disamping mengadakan ziarah kubur juga melakukan makan-makan di kuburan beramai-ramai dengan menggelar daun pisang. Sedangkan di beberapa daerah di pantai utara Jawa, tradisi nyadran ini disertai dengan melarung sesaji ke laut ada yang disertai dengan pagelaran wayang kulit, orkes dangdut dll. Maka pembahasan mengenai boleh tidaknya nyadran ini tidak bisa dipukul rata, melainkan harus ditinjau berdasarkan apa motovasinya (niatnya), dan kedua, bagaimana teknis pelaksanaannya (acaranya).

ASAL USUL ISTILAH NYADRAN

Dalam buku kalangwan (tahun 1974) karangan seorang orientalis Belanda bernama P.J. Zoetmulder, istilah nyadran sendiri berasal dari istilah sadran, sraddha, nyraddha, nyraddhan yang disebut-sebut dalam kiitab Kidung Buwana Sekar yaitu upacara sekar (bunga) untuk memperingati kematian Ratu Tribuwana Tungga Dewi tahun 1350. Upacara sraddha ini berlangsung sejak jaman Majapahit. Dari sini pula timbul istilah lain dari ziarah kubur di jawa yaitu “nyekar”.

Kalau melihat asal muasal kata nyadran maka timbullah antipati dari sebagian orang karena kecemburuan dan ketidak relaan karena istilah ini berasal dari upacara agama Hindu di Jawa. Lalu mereka menampilkan hadits bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum maka termasuk dalam kaum itu.

Hadits ini benar namun tidak bisa dipukul rata bahwa setiap hal yang sama itu pasti meniru. Jika umat Islam melakukan ziarah kubur dan umat non-muslim juga melakukan ziarah kubur maka tidak bisa dikatakan bahwa hal ini menyerupai non-muslim. Karena ziarah kubur memang juga diperintahkan dalam Islam. Sebagaimana pula jika umat Islam puasa lalu umat lain puasa, maka tidak berarti ini meniru-niru umat lain.

Bahwasanya asal muasal istilah nyadaran itu dari upacara Hindu Majapahit, maka itu wajar karena memang sebagian besar nenek moyang bangsa indonesia adalah mantan Hindu. Sehingga apa yang memang dibolehkan dalam Islam, ya tradisi itu boleh dilakukan. Sedangkan apa yang tidak dibolehkan dalam Islam, maka tradisi itu tidak boleh dilakukan.

Adapun jika dipahami bahwa aktifitas nyadran itu meniru upacara memperingati kematian Tribuwana Tungga Dewi, bisa ya bisa tidak. Dari segi istilah iya, namun dari segi aktifitasnya berbeda. Kita tidak tahu persis bagaimana tata cara upacara sradha Tribuwana Tungga Dewi jaman Majapahit dulu, saya yakin tidak semata menziarahi kuburan Tribuwana Tungga Dewi melainkan juga ada ritual lainnya.

Saya yakin menziarahi kuburan Tribuwana Tungga Dewi dahulu tidak dilakukan sebelum Ramadhan, karena bulan Ramadhan saja mereka tidak kenal. Yang ada pada zaman Majapahit memiliki kalender sendiri. Sedangkan nyadran pada zaman sekarang pun aktifitas nya bermacam-macam, ada yang memahaminya sebagai ziarah kubur ada juga yang melarung sesaji ke laut. Maka pembahasan boleh tidaknya nyadran tidak tepat jika ditinjau dari segi istilah, melainkan harus ditunjau segi aktifitasnya.

ZIARAH KUBUR DIANJURKAN AGAMA

Pertama perlu dipahami bahwa ziarah kubur itu pada awalnya memang dimakruhkan terutama untuk kaum wanita karena dikhawatirkan kebiasaan meratapi mayit yang berlebihan serta berbagai khurafat kepercayaan di masa jahiliyah :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Juhadah ia berkata; saya mendengar Abu Shalih menceritakan dari Ibnu Abbas berkata : “Rasulullah s.a.w. melaknat para wanita yang menziarahi kuburan (H.R. Abu Daud No. 2817)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. melaknat wanita-wanita yang menziarahi kuburan. (H.R. Tirmidzi No. 976) Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Ini merupakan hadits hasan shahih.
Namun pada masa berikutnya Rasulullah s.a.w. memberikan keringanan (rukhshoh) dibolehkan melakukan ziarah kubur :

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’id Al Jauhari berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh berkata, telah menceritakan kepada kami Bistham bin Muslim ia berkata; aku mendengar Abu At Tayyah berkata; aku mendengar Ibnu Abu Mulaikah dari ‘Aisyah berkata, “Rasulullah s.a.w. memberi keringanan untuk ziarah kubur. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1559)

Dan kemudian akhirnya bahkan Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk menziarahi kuburan untuk mengigatkan manusia akan kematian dan hari akhirat :

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid dari Yazid bin kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan akhirat. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1558)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Mu’arrif bin Washil dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “(Dulu) Aku melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (H.R. Abu Daud No. 2816)

Maka larangan ziarah kubur dari Rasulullah s.a.w. ini telah dibatalkan :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar dan Mahmud bin Ghailan dan Al Hasan bin Ali Al Khallal mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim An Nabil telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat.” (H.R. Tirmidzi No. 974)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata “Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan ziarah kubur adalah sebelum adanya keringanan dari Nabi s.a.w. mengenai bolehnya menziarahi kuburan. Setelah beliau memberikan keringanan di dalamnya, termasuk di bagi laki-laki maupun perempuan. Adapun sebagian ulama berpendapat tetap makruhkan wanita berziarah kubur karena sedikitnya kesabaran dan banyaknya keluh kesah mereka sehingga dikhawatirkan meratap di kuburan.”

Selanjutnya Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarok (tokoh tabi’in), Syafi’i (madzhab syafi’i), Ahmad bin Hambal (madzhab hambali) dan Ishaq

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, jika nyadran itu didefinisikan sebagai ziarah kubur itu boleh bahkan dianjurkan. Namun perlu dipahami bahwa sebenarnya ziarah kubur tidak harus sebelum ramadhan, melainkan kapan saja bisa dilakukan. Namun jika momen yang ada adalah sebelum ramadhan maka hal itu tidak mengapa asalkan jangan timbul keyakinan bahwa jika ziarah di waktu lain tidak afdhol, dan juga salah jika ada keyakinan bahwa jika tidak melakukan nyadran sebelum bulan ramadhan maka puasanya tidak sah atau hidupnya bakal tidak berkah. Maka keyakinan yang salah itu adalah salah. Adapun ziarahnya tetap benar.

SHODAQOH SEBELUM RAMADHAN

shodaqoh dan memberi makan fakir miskin dan anak yatim jelas dianjurkan dalam agama.

Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin (Q.S. Al-Haaqah [69] : 33-34)

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin (Q.S. Al-Mudatsir [74] : 43-44)

Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (Q.S. Al-Maa’uun [107] : 2-3)

Jika nyadran itu disertai dengan shodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim, baik itu berupa uang, atau diberikan makanan nasi kotak, atau sembako, maka hal itu adalah baik. Tradisi ini pernah dilakukan oleh Mush’ab bin Az-Zubair r.a. yang membagikan uang kepada para pembaca qur’an di kota Kufah. Tentu saja hal ini belum pernah dilakukan pada zaman Rasulullah s.a.w. dan semata inisiatif Mush’ab bin Az-Zubair r.a.

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami Abdus Sallam dari Abdullah bin Al walid Al Muzani dari ‘Ubaid bin Al Hasan ia berkata: “Ketika memasuki bulan Ramadlan, Mush’ab bin Az Zubair membagikan hartanya kepada para qari` kota Kufah kemudian ia mengirimkan untuk Abdur Rahman bin Ma’qil sebanyak dua ribu dirham sambil berkata: ‘Gunakan uang ini untuk keperluanmu sebulan ini’. Tetapi Abdur Rahman bin Ma’qil berkata: ‘Kami tidak membaca Al-Qur`an untuk hal ini’ “. (Atsar R. Ad-Darimi No. 573) Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan sanadnya shahih.

Dari atsar di atas kita tahu tercatat dalam sejarah inisiatif yang dilakukan oleh Mush’ab bin Az-Zubair r.a. membagikan uang kepada para qori’
Nyadran Dengan Makan-Makan Di Kuburan

Demikian pula jika nyadran itu diisi dengan shodaqoh, memberi makan anak yatim dan faqir miskin, itu sangat dianjurkan oleh agama. Namun kalaupun makan-makan nya itu hanya di kalangan kerabat dan keluarga, maka memberi makan kerabat dan sanak saudara itu juga baik dan tetap bernilai shodaqoh dan mendapat pahala jika tidak disertai dengan pamer atau riya’.

Jika makan-makan itu dilakukan di kuburan, dengan menggelar daun pisang dijajar memanjang, maka hal ini adalah tidak sepantasnya demikian. Tidak selayaknya pula kita mengadakan kenduri di kuburan lebih baik acara makan-makan itu di rumah. Namun, jika maka yang diziarahi itu berada jauh di luar kota, lalu rombongan kerabat ini datang dari jauh mengendari bis atau mencarter minibus, lalu selesai ziarah mereka makan karena lapar, maka hal itu boleh-boleh saja, asalkan tidak di areal kuburan. Boleh dilakukan di dalam bis, atau menyingkir keluar dari areal kuburan.

NYADRAN DENGAN MELARUNG SESAJI DI LAUT

Jika nyadran itu disertai dengan persembahan sesaji (sesajen) kepada jin, nyai loro kidul (ratu jin pantai selatan) maka jelas hal ini adalah haram dan merupakan bid’ah yang dlolalah (sesat). Demikian pula persembahan dan sesaji kepada arwah leluhur adalah sesat. Karena arwah itu berada di alam barzakh dan tidak butuh makanan fisik. Apa yang sering disebut-sebut sebagai arwah yang muncul di alam kita itu hanyalah rekayasa dan tipu daya jin, yang menjelma dan mengaku-ngaku sebagai arwah orang yang sudah meninggal.

Baik waktu nyadran maupun waktu apapun, kita tidak boleh menyembah jin terlebih jin-jin yang minta sesaji itu pasti adalah jin kafir.

Keyakinan bahwa jin itu adalah penguasa atau penunggu wilayah tertentu, gunung, pohon, batu, bangunan tertentu dan lain-lain adalah keyakinan yang sesat. Karena jin itu hanyalah makhluk Allah biasa sebagaimana anjing, kucing, tumbuhan, bakteri, virus dan makhluk hidup ciptaan Allah lainnya, hanya bedanya jin itu tidak kelihatan dan satu dua jin memiliki kemampuan tertentu.

Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin kebanyakan mereka beriman kepada jin itu “ (Q.S. Saba [34]:41)

Keyakinan bahwa jin itu bisa mendatangkan rezeki atau keberkahan jelas adalah keyakinan yang sesat. Karena jin itu tidak mengetahui hal yang ghaib, dan ia tidak menguasai rezeki manusia. Adapun jin memang bisa saja bertingkah merusak hasil panen, mengusir ikan di laut, hal ini sebagaimana perilaku preman dan tukan peras jika tidak dikasih uang ia akan berulah dan membuat onar. Maka aksi premanisme oleh jin seperti ini harus dilawan dan diberantas dan bukan dilestarikan.

Keyakinan bahwa jin itu bisa mendatangkan malapetaka jika tidak diberi sesaji maka hal itu juga sama seperti aksi preman dari bangsa manusia. Jika tidak diberi uang, maka jalan kita akan dihalangi, dagangan kita menjadi tidak laku, panen kita menjadi gagal, tangkapan nelayan menjadi sedikit dan bahkan nyawa kita diancam. Maka memberi sesaji pada jin itu sama saja dengan memberi upeti kepada preman dan penjahat, agar kita terlindung dari kejahatan mereka.

Barangsiapa yang menjadikan syaithan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata” (Q.S. An-Nisaa [4] : 119)

Sungguh bodoh orang yang berlindung dan memohon pertolongan kepada jin-jin terkutuk itu. Karena sesunguhnya jin itu tidak mau menolong manusia

Sesungguhnya setan itu tidak mau menolong manusia (Q.S. Al-Furqon [25] : 29)

Maka kalau pun setan itu menolong manusia pasti ada maunya dan akan meminta imbalan kekafiran dan kezhaliman. Banyak sekali orang yang meminta kekayaan dan meminta kesaktian kepada jin, harus melakukan syarat-syarat yang keji seperti memakan darah dan mayat, membunuh orang, menyobek Al-Qur’an dll.

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (Q.S. Al-Jin [72] : 6)

Maka kalaupun setan itu memberikan rezeki dan kemakmuran kepada manusia sungguh tidak sepadan ditukar dengan kesyirikan, kesesatan dan kerusakan yang ditimbulkan di belakang hari. Maka segala ritual penyembahan dan pemberian sesaji kepada jin dan arwah (buatan jin) adalah haram.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 27).

Wallahua’lam

BOLEHKAH TIDUR DI DALAM MASJID?

BOLEHKAH TIDUR DI DALAM MASJID?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Dalam bulan puasa ini kita sering menjumpai orang tidur-tiduran di dalam masjid. Sementara pada zaman sekarang ini banyak masjid yang memasang pengumuman dilarang tidur di masjid. Sebagian orang juga mengatakan bahwa tidur di masjid membuat pemandangan tidak indah dan menampakkan Islam itu loyo dan lemah. Bagiamana sebenarnya hukum masalah ini? Apakah memang  tidur di masjid di larang dalam Islam?

Telah menceritakan kepada kami Sa’id? bin Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Daud bin Abu Hindun dari Abu Harb bin Abu Asad Ad Dili dari Pamannya dari Abu Dzar ia berkata, “Nabi s.a.w. datang kepadaku sementara saya sedang tidur di masjid, kemudian beliau mengoyang-goyangku menggunakan kakinya. Beliau berkata: “Kenapa aku melihat kamu tidur dalam masjid?” Aku lalu menjawab, “Aku terkalahkan oleh rasa kantuk.” (H.R. Darimi No. 1363)

Hadits di atas seolah mengisyaratkan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang seseorang tidur di masjid

Beberapa sahabat pernah melarang seseorang untuk tidur-tiduran di masjid :

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata; “Jangan kalian jadikan ia (masjid) sebagai tempat untuk tidur siang atau tidur malam.”

Abu Isa (Tirmidzi) berkata : “Sebagian ahli ilmu melarang orang tidur di masjid berdasarkan ucapan Ibnu Abbas tersebut “

Namun kita jumpai dalam berbagai hadits bahwa Rasulullah s.a.w. pernah tidur di masjid :

Telah bercerita kepada kami Isma’il berkata telah bercerita kepadaku saudaraku dari Sulaiman dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namir, aku mendengar Anas bin Malik bercerita kepada kami tentang perjalanan malam isra’ Nabi s.a.w. dari masjid Kabah (Al Haram). Ketika itu, beliau didatangi oleh tiga orang (malaikat) sebelum beliau diberi wahyu, saat sedang tertidur di Masjidil Haram. (H.R. Bukhari No. 3305)

Beberapa sahabat juga pernah tidur di masjid, misalnya Ali bin Abi Thalib r.a. :

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abu Hazim dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’d dia berkata; “Tidak ada nama (julukan) yang paling disukai Ali selain Abu Turab, dan dia sangat senang bila dipanggil dengan nama tersebut, suatu ketika Rasulullah s.a.w. datang ke rumah Fatimah, namun beliau tidak menjumpai Ali di rumahnya. Maka beliau bertanya; ‘Di manakah anak pamanmu? ‘ Fatimah menjawab; ‘Sebenarnya antara saya dan dia ada permasalahan, malah dia memarahiku. Setelah itu, ia keluar dan enggan beristirahat siang di sini.’ Lalu Rasulullah s.a.w  bersabda kepada seseorang; ‘Lihatlah, di manakah dia berada! ‘ Tidak lama kemudian, orang tersebut datang dan berkata; ‘Wahai Rasulullah, sekarang dia tengah tidur di masjid. (H.R. Bukhari No. 5808)

Demikian pula Ibnu Umar r.a. juga pernah tidur di masjid

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata : “Pada masa Rasulullah s.a.w. kami tidur di masjid, sedang waktu itu kami masih muda.” (H.R. Tirmidzi No. 295 dan Ibnu Majah No. 473)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata : “Hadits dari Ibnu Umar ini derajatnya hasan shahih. Sebagian ahli ilmu memberi keringanan untuk dibolehkannya tidur di masjid.”

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Dulu pada zaman Rasulullah s.a.w., kami biasa tidur dan istirahat di masjid, saat itu kami masih remaja.” (H.R. Ahmad No. 4378)

Demikian pula ketika Rasulullah s.a.w. mengakhirkan sholat Isya hingga tengah malam, para sahabat pun menungguh sholat Isya berjamaah sambil tidur di masjid :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada saya Nafi’ telah menceritakan kepada saya Abdullah bin Umar bahwasanya pada suatu malam Rasulullah s.a.w. disibukkan dari Shalat Isya (karena persiapan perang), oleh karena itu beliau mengakhirkan pelaksanaannya, sehingga kami tidur di masjid, kemudian bangun, lalu tidur kembali, kemudian bangun, lalu tidur kembali, kemudian beliau keluar menemui kami seraya bersabda: “Tidak ada seorang pun yang menunggu shalat selain kalian.” (H.R. Abu Daud No. 171)

Bahkan telah termasyhur di kalangan ahli sejarah bahwa pada masa itu, di teras masjid Rasulullah s.a.w. terdapat sekelompok orang-orang miskin yang tidak memiliki tempat tinggal dan mereka tinggal serta tidur di teras masjid. Mereka dikenal dengan sebutan “ahlu shufah” yang kemudian sekarang disebut dengan “sufi”.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnul Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam ia berkata; telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Yahya bin Abu Katsir ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Ya’isy bin Thakhfah bin Qais Al Ghifari ia berkata, “Bapakku termasuk ahli suffah.” Rasulullah s.a.w.lalu bersabda: “Jika kalian mau silahkan menginap (di sini), dan jika mau silahkan tidur di dalam masjid.” Perawai berkata, “Ketika aku tidur dalam masjid dengan telungkup, tiba-tiba di waktu sahur seseorang membangunkan aku dengan kakinya. Laki-laki itu berkata, “Ini adalah cara tidur yang dibenci oleh Allah.” Aku lalu melihatnya, dan ternyata laki-laki itu adalah Rasulullah s.a.w.” (H.R. Abu Daud No. 4383) Abu Daud menyatakan hadits ini shahih.

Hadits di atas menceritakan bapaknya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman (Abdurrahman bin ‘Auf) yaitu Thakhfah bin Qais Al Ghifari r.a. termasuk ahlu shufah yang tinggal dan tidur di masjid.

Dan Abu Hurairah adalah salah satu dari “ahlu shufah” yang tinggal dan tidur di masjid :

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah r.a. berkata; “ saudara-saudaraku dari kalangan Anshar mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dalam mengurus harta mereka, sedangkan aku (Abu Hurairah) saat itu adalah salah satu orang miskin dari kalangan orang-orang miskin Ahlush Shuffah sehingga aku dapat mengingat hadits saat mereka lupa, (H.R. Bukhari No. 1906)

Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair telah menceritakan kepadaku Umar bin Dzarr telah menceritakan kepada kami Mujahid dari Abu Hurairah berkata: Ahlush shuffah adalah tamu-tamu orang Islam, mereka tidak punya tempat untuk menempatkan keluarga dan harta mereka. Demi Allah yang tidak ada Ilah selainNya, dulu pernah kubungkukkan badanku sambil duduk di atas tanah karena lapar dan aku mengikatkan batu diperutku.. (H.R. Tirmidzi No. 2401) Berkata Abu Isa (Tirmidzi) : Hadits ini hasan shahih.

Pada masa remaja dan belum menikah, Ibnu Umar tinggal di masjid Rasulullah s.a.w.

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Nafi’ berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa ia pernah tidur di masjid Nabiss.a.w.saat dia masih pemuda lajang dan belum punya keluarga.”(H.R. Bukhari No. 421 Nasa’i No. 714 Darimi No. 1364)

Shafwan bin Umayyah ia berkata, “Aku tidur di dalam masjid  (H.R. Abu Daud No. 3819 Ahmad No. 14771)

Telah menceritakan kepadaku Farwah bin Abu Al Maghra’ telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah r.ah. berkata : “Sejak saat itu hamba sahaya itu mendapat tempat tinggal berupa kemah atau gubuk di masjid”. Ia (Aisyah) berkata : “Maka ia biasa mendatangiku dan berbicara denganku”. (H.R. Bukhari No. 3548)

Ibnu Hajar Asqolani menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa maksudnya hamba sahaya itu tinggal menetap dalam masjid. Hadits ini menunjukkan bolehnya bermalam dan tidur siang di masjid bagi kaum muslimin yang tidak memiliki tempat tinggal baik laki-laki maupun perempuan jika aman dari fitnah. Boleh bernaung di dalam masjid dengan mendirikan kemah atau semacamnya.” (Fathul Bari Jilid 3 Hal. 178)

Pendapat Para Imam Mahzhab

Ibnu Hajar Asqolani ketika menjelaskan tentang hadits-hadits di atas menuliskan : Bab tidurnya laki-laki di masjid (pada kitab jami’ shahih bukhari) menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut (yaitu tidur di masjid). Tapi ada pendapat Ibnu Abbas r.a. bahwa hukum perbuatan tersebut (yaitu tidur di masjid) makruh (dibenci atau tidak disukai) kecuali bagi mereka yang hendak shalat. Sedangkan Ibnu Mas’ud r.a. menyatakan makruh secara total (dalam semua kondisi). Sedangkan Imam Malik (Madzhab Maliki) membedakan antara orang yang memiliki rumah dan yang tidak. Bagi mereka yang memiliki rumah maka makruh tidur di masjid. Adapun yang tidak memiliki rumah atau tempat tinggal, boleh tidur di masjid. (Fathul Bari Jilid 3 hal 180)

Tentu saja dengan catatan semua hadits di atas mengisahkan mereka masih lajang, maka tidak boleh suami isteri tinggal di dalam masjid atau di teras masjid walaupun tidak memiliki rumah atau tempat tinggal.

Tidur Di Masjid Di Luar Waktu Tidur

Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya tidur di masjid tidak bisa dipukul rata pada semua kondisi dan semua keadaan. Perlu dicermati bahwa hadits di atas sebagian besar menceritakan bahwa tidur di masjid itu dilakukan di waktu tidur yaitu malam. Rasulullah s.a.w. ketika tidur di masjidil haram ketika peristiwa Isra’ Mi’raj memang tidur di malam hari. Demikian pula hadits Ibnu Umar yang tidur di masjid terjadi pada malam hari.

Demikian pula kisah sahabat-sahabat yang memang tinggal di masjid sebagai ahlul shufah, mereka tidur di waktu tidur dan tidak berarti bahwa mereka tidur-tiduran terus di masjid walaupun di waktu siang yang seharusnya orang-orang bekerja atau memiliki kegiatan.

Maka tidur di waktu siang atau di saat orang seharusnya berkegiatan menunjukkan kemalasan. Sehingga tidur-tiduran di masjid pada jam-jam produktif di mana seseorang seharusnya berkeja atau memiliki kegiatan, boleh saja dilarang.

Hal ini sering terjadi di bulan ramadhan dimana para pegawai yang seharusnya bekerja pada jam-jam kerja kemudian malah tidur-tiduran di masjid. Pertama mereka telah korupsi waktu dan melalaikan amanah sebagai pegawai, karena mereka digaji untuk bekerja, dan bukan untuk tidur-tiduran.

Kecuali jika tiduran di masjid itu dilakukan pada saat jam istirahat maka itu boleh-boleh saja sebagaimana hadits tentang Ali bin Abi Thalib r.a. yang tidak menceritakan kapan kejadiannya dan kemungkinan di siang hari.

Ibnu Hajar Asqolani menambahkan dalam syarah hadits Bukhari menuliskan : “Hadits dari Sahl bin Sa’ad (yang menceritakan Ali tidur di masjid)  memuat faidah antara lain ialah bolehnya istirahat siang di masjid”  (Fathul Bari Jilid 3 hal 181)

Perlu dipahami bahwa bangsa Arab ketika itu memiliki tradisi tidur siang setelah shalat zhuhur, karena panasnya cuaca gurun pasir di siang hari. Dengan demikian cerita Ali bin Abi Thalib r.a. tidur di masjid di siang hari ini pun masih dalam konteks waktu tidur. Sedangkan di luar waktu tidur tentunya para sahabat memiliki aktifitas dan bukan tidur-tiduran santai di masjid.

Jika para pemuda Islam di pagi dan siang hari tidur-tiduran di masjid padahal seharusnya mereka bisa bekerja dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat maka boleh saja pengurus masjid menegur dan melarangnya bukan karena tidak boleh tidur di masjid melainkan karena bukan saat nya untuk tidur.

Wallahua’lam

BENARKAH BAJU WANITA HARUS POLOS DAN TIDAK BOLEH BERCORAK BUNGA-BUNGA?

BENARKAH BAJU WANITA HARUS POLOS DAN TIDAK BOLEH BERCORAK BUNGA-BUNGA?

Oleh : Abu Akmal Mubarok
Image

Sebagian kelompok kaum muslimin ada yang berkeyakinan bahwa baju muslimah yang beriman haruslah bermotif polos dan berwarna gelap. Kalau pun mereka tidak menganggapnya wajib, paling tidak ada anggapan bahwa busana polos dan berwana gelap itu lebih Islami, lebih tinggi derajat ke-Islam-an nya. Maka merea beranggapan wanita muslimah yang memakai baju warna warni atau kain bercorak atau bermotif menunjukkan dangkalnya keimanan dan sifat yang genit atau berusaha menarik perhatian lawan jenis.

Saya pribadi pernah mendapat pertentangan dan dikecam ketika memimpin bisnis busana muslimah kemudian mempelopori pembuatan busana muslimah dengan motif bunga kecil-kecil. Pada masa itu memang belum marak busana muslimah seperti sekarang ini, dan kalaupun ada yang mengenakan busana muslimah memang rata-rata polos tanpa motif dan berwarna gelap bahkan hitam.

Walhasil kami berbagai tudingan pun terlontar. Dari mulai tudingan tidak islami, tabaruj jahiliyah, busana seperti itu menggoda lelaki, dan lain sebagainya. Lalu apakah benar Islam melarang busana muslimah dibuat dari kain bermotif?

Maka dalam kesempatan ini kami hendak menyampaikan hadits-hadits yang menceritakan bahwa busana wanita muslimah tidaklah wajib polos dan tidak haram memakai motif bunga-bunga.

Dan berkata, kepadaku ‘Amru bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim berkata, Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami, berkata,, telah mengabarkan kepada saya ‘Atho’ ketika Ibnu Hisyam melarang para wanita untuk thawaf bersama kaum lelaki, ia (‘Atho’) berkata : “Dan aku bersama ‘Ubaid bin ‘Umair pernah menemui ‘Aisyah r.ah. yang sedang berada disisi gunung Tsabir. Aku bertanya: “Hijabnya apa? Ia menjawab: “Ia berada di dalam tenda kecil buatan Turki. Tenda itu memiliki penutup yang tipis dan tidak ada pembatas antara kami dan beliau selain tenda itu, dan aku melihat beliau mengenakan gamis bermotif mawar“. (H.R. Bukhari No. 1513)

Hadits di atas adalah hadits shahih riwayat Bukhari. Dan dalam hadits tersebut diceritakan bahwa ummul mukminin (istri Rasulullah s.a.w.) yaitu Aisyah r.ah. mengenakan pakaian gamis bermotif bunga mawar. Dari sini kita mengetahui bahwa pakaian muslimah tidak wajib polos dan boleh bermotif bunga.

Dalam hadits lain diceritakan bahwa puteri Rasulullah s.a.w. dari hasil perkawinannya dengan Khadijah r.a.h yaitu Ummu Kultsum r.ah. pernah mengenakan kain yang bersulam.

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa dia pernah melihat Ummu Kultsum r.ah. puteri Rasulullah s.a.w. mengenakan kain yang bersulam sutera.” (H.R. Bukhari No. 5394)

Adanya sulaman ini menunjukkan bahwa kain tersebut tidak polos. Dalam hadits yang lain Rasulullah s.a.w. juga menghadiahkan dan mengenakan pakaian berrenda sutera serta berwarna hijau atau kuning kepada Ummu Khalid.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sa’id dari ayahnya Sa’id bin Fulan yaitu ‘Amru bin Sa’id bin Al ‘Ash dari Ummu Khalid binti Khalid bahwa Nabi s.a.w. pernah diberi kain kecil yang ada renda suteranya. Lalu beliau bertanya: “Menurut kalian siapa yang paling berhak untuk mendapat kain ini?”, orang-orang pun diam. Beliau lalu bersabda: “Datangkanlah Ummu Khalid kepadaku.” Beliau lantas memberikan kain tersebut dan memakaikannya kepadanya. Setelah itu beliau bersabda: ‘Semoga tahan lama hingga Allah menggantinya dengan yang baru (panjang umur).’ Beliau kemudian melihat corak berwarna hijau atau kuning yang ada pada kain bersulam sutera tersebut, beliau bersabda: “Wahai Ummu Khalid, ini sanah, sanah.” Sanah adalah perkataan bahasa Habasyah yang berarti bagus.” (H.R. Bukhari No. 5375)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abu Fakhitah telah menceritakan kepadaku Hubairah bin Yarim dari Ali, bahwa telah di hadiahkan pakaian yang terbuat dari sutera kepada Rasulullah s.a.w., yaitu yang panjang atau lebar kainnya dan bersulamkan sutera. Kemudian beliau mengirimnya kembali kepadaku, lantas kudatangi beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuperbuat dengannya? Apakah aku boleh mengenakannya?” beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi buatlah kerudung untuk Fatimah.” (H.R. Ibnu Majah No.3586)

Perkataan kain bersulam dan berenda menunjukkan bahwa kain itu tidak polos saja melainkan ada jahitan atau bordiran atau sulaman sebagai hiasan. Demikian pula kalimat bahwa kain itu berwarna hijau atau kuning menunjukkan kebolehan pakaian wanita muslimah berwarna lain selain hitam.

Ada yang mengemukakan dalil haramnya wanita memakai baju berwarna dan bercorak berdasarkan hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Al Fadllu bin Dukain Telah menceritakan kepada kami Abdus Salam bin Harb dari Hisyam dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung lebih dari tiga hari kecuali terhadap suaminya. Maka ia tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai pakaian yang berwarna (bercorak) kecuali pakaian yang terbuat dari bahan dedaunan.” (H.R. Bukhari No. 4924)

Maka hadits di atas sama sekali tidak menunjukkan keharaman wanita mengenakan pakaian berwarna dan bercorak. Hadits di atas menceritakan masa ihdad atau berkabung dimana selama masa berkabung itu wanita memang tidak boleh mengenakan pakaian berwarna atau bermotif, lalu memakai celak (berhias) dan memakai wewangian. Dan masa berkabung itu maksimal adalah 3 hari. Kecuali jika yang meninggal itu adalah suaminya, maka dibolehkan selama 40 hari. Adapun setelah lewat masa berkabung, wanita boleh mengenakan pakaian berwarna, mengenakan celak mata dan menggunakan wewangian.

Walaupun demikian kami tetap menghormati kelompok yang berpendapat wajibnya wanita muslimah mengenakan busana polos tanpa motif karena toh tidak ada larangan untuk mengenakan busana dari kain polos tanpa motif. Hanya saja jika hal ini mereka yakini sebagai kewajiban dan menganggap bahwa muslimah yang berbusana dengan kain bermotif adalah kurang imannya, dan mereka yang berbusana dengan kain polos itu lebih Islami, maka kami katakan keyakinan seperti ini tidak tepat. Adapun jika ada wanita yang lebih menyukai busana polos tanpa motif, maka hal itu sah saja.

Wallahua’lam

BENARKAH MENCIUM TANGAN DAN SUNGKEMAN BID’AH? (JILID 1)

BENARKAH MENCIUM TANGAN DAN SUNGKEMAN BID’AH? (JILID 1)

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Image

Sebagian sahabat Pondok Curhat (http://www.facebook.com/groups/305579689614/) bertanya apakah benar mencium tangan guru atau kyai adalah syirik atau bid’ah? Karena dijumpai sebuah tulisan di dunia maya dikutip perkataan Seorang Ustad yang mengatakan, “Kini, saya tidak mau lagi mencium tangan guru-guru saya lagi, karena saya tidak pernah melihat para sahabat mencium tangan Nabi s.a.w.”

Saya takjub dengan sebagian sikap orang yang terlalu bersemangat dalam menyalahkan perbuatan kaum muslimin, apakah mereka menyangka bahwa kaum muslimin dan para ulama itu melakukan suatu hal tanpa landasan? Jika kita negative thinking dengan imej bahwa dunia ini telah dipenuhi khurafat dan bid’ah maka belum apa-apa kita akan cenderung berprasangka bahwa perbuatan sebagian saudara kita adalah bid’ah. Namun jika kita positive thinking dan berprasangka baik, maka kita akan berusaha mengetahui lebih dahulu apa yang menjadi landasan perilaku mereka dan berprasangka baik bahwa tindakan itu mungkin saja ada dasarnya.

Firman Allah Tentang Penghormatan Kepada Nabi Atau Orang Yang Sholeh

Di dalam Al-Qur’an diceritakan bagaimana kedua orang tua Nabi Yusuf a.s. merebahkan diri seraya bersujud kepada Nabi Yusuf a.s. Ketika itu Nabi Yusuf a.s. menduduki jabatan sebagai menteri keuangan negeri Mesir setelah sebelumnya dibohongi dan dimasukkan sumur oleh saudara-saudaranya, lalu dilaporkan telah meninggal kepada Bapaknya yaitu Nabi Ya’qub a.s.

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf (khorrulahu sujjadan). Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu. (Q.S. Yusuf [12] : 100)

Maka karena hormat dan takjub dengan takdir Allah yang telah menyelamatkan Nabi Yusuf a.s. dari segala tipu daya, kedua orangtuanya merebahkan diri (khorrulahu sujjadan). Padahal bapaknya Nabi Yusuf a.s. juga seorang Nabi, yaitu Nabi Ya’qub a.s. anak Nabi Ishaq a.s. cucu Nabi Ibrahim a.s. Maka jangankan mencium tangan dan membungkukkan badan, bahkan tersungkur dan bersujud pun boleh karena hal itu bukan dimaksudkan untuk menyembah makhluk melainkan sujud penghormatan.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini tidak menafikkan makna merebahkan diri dan bersujud itu. Ibnu Katsir berkata : maksud khorrulahu sujjadan yaitu bersujud kepada Yusuf kedua orangtuanya dan semua saudara kandungnya yang jumlahnya ada sebelas orang (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 13 hal 58)

Hal ini untuk membantah sebagian kaum muslimin yang terlalu bersemangat dalam ghiroh Islam kemudian secara berlebihan menganggap cara penghormatan dengan mencium tangan dan membungkuk adalah sebagai pebuatan bid’ah bahkan syirik. Kita tidak bisa memvonis dan menyimpulkan suatu perbuatan hanya dari melihat perilaku lahiriyah atau tampak luarnya saja. Apakah setiap orang yang membungkuk, atau bahkan tersungkur di hadapan sesuatu lantas dipastikan maksud tujuannya adalah menyembah sesuatu tersebut? Tentu saja tidak. Hanya orang bodoh yang secara serampangan mengambil kesimpulan seperti itu. Semestinya kita tanyakan dulu apa maksud Anda membungkuk atau bersujud itu? Apakah menyembahnya?

Di hari raya Lebaran orang Jawa dan sebagian Sunda memiliki tradisi “sungkeman”, yaitu memohon maaf pada orang tua dengan cara mencium lutut orang tua dan kakek nenek. Sebagian kalangan muda Islam yang baru getol getolnya belajar agama dengan serta merta menolak hal itu dan menganggap hal ini sebagai bid’ah atau pengkultusan pada orang tua. Memang, kadang kala semangat seperti ini bagi sebagian darah muda terasa heroik karena nyata benar bedanya antara kondisi dia setelah “mengaji” dengan ketika belum kenal “pengajian”. Namun apakah benar Islam mengharamkan hal ini??

Hadits-Hadits Tentang Mencium Tangan Yang Derajatnya Shahih atau Hasan

Sebenarnya hadits-hadits yang menerangkan bahwa para sahabat mencium tangan Nabi s.a.w. diriwayatkan oleh berbagai perawi hadits. Bahkan sebagian ulama ahli hadits seperti Abu Bakar Ibn Al-Muqri’ Al- Ashbihani, menulis kitab khusus membahas masalah mencium tangan berjudul Juz’ fii Taqbil Al-Yad. Berikut ini adalah  beberapa hadits shahih yang menyebutkan tentang mencium tangan dan kaki Rasulullah s.a.w.

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali dan Ibnu Basysyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Isra’il dari Maisarah bin Habib dari Al Minhal bin Amru dari ‘Aisyah binti Thalhah dari Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. ia berkata, “Jika Fatimah datang menemui beliau, maka beliau berdiri, meraih tangannya, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau datang menemuinya, maka ia akan meraih tangan beliau, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya.” (H.R. Abu Daud No. 4540) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Ath-Thabba’ berkata, telah menceritakan kepada kami Mathar bin ‘Abdurrahman Al A’naq berkata, telah menceritakan kepadaku Ummu Aban bintil Wazi’ bin Zari’ dari kakeknya Zari’ saat itu ia sedang bersama rombongan utusan Abdu Qais, ia berkata, “Ketika kami tiba di Madinah, kami saling berlomba memacu kendaraan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki beliau s.a.w.”  (H.R. Abu Daud No. 4548) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan.

Dan dari hadits yang Jayyid (bagus sanadnya) adalah riwayat Azzari’ Al-’Abdi, ketika Wafd Abdulqis berkata : “kami berebutan turun dari tunggangan kami, dan kami mencium tangan Nabi s.a.w dan kaki beliau s.a.w. (H.R. Abu Daud No 2271) Hadits yang senada juga diriwayatkan dari Mazidah Al Ashrii dengan riwayat yang sama, dan dari hadits Usamah bin Syariik, berkata kami berdiri untuk mencium tangan Nabi s.a.w, dengan sanad yang  kuat.

Diriwayatkan dari Abu Jahiifah r.a. : “Kulihat para sahabat mengambil kedua tangan beliau dan mengusapkannya ke wajah mereka, maka kuambil pula tangan beliau dan kututupkan ke wajahku, maka sungguh tangan itu lebih sejuk dari es dan lebih lembut dari sutra” (H.R. Bukhari No. 3289 Bab Manaqib).

Abu Lubabah dan Ka’ab bin Malik, serta dua sahabat lainnya (yang diboikot karena tak mengikuti perang tabuk) mencium tangan Nabi s.a.w. ketika taubat mereka diterima oleh Allah. (H.R. Baihaqi)

Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin mencantumkan hadits dari Ibnu ‘Umar ra. Menceritakan sebuah kisah yang di dalamnya terdapat kalimat: “Kemudian kami mendekatkan diri kepada Nabi s.a.w. dan mencium tangan beliau”. (H.R.  Abu  Daud)

Dalam hadits lainnya bahkan Nabi s.a.w. membiarkan seorang Yahudi mencium tangan dan kakinya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan telah menceritakannya kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murrah ia berkata, saya mendengar Abdullah bin Salamah menceritakan dari Shafwan bin Assal berkata, Yazid Al Muradi berkata, “Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya, “Berangkatlah bersama kami untuk menemui Nabi s.a.w.” ….Kemudian kedua orang Yahudi itu pun mencium tangan dan kaki beliau s.a.w.” Yazid menyebutkan, “Kedua tangan dan kedua kaki beliau, lalu keduanya berkata, “Kami bersaksi bahwa anda adalah seorang Nabi.” Nabi s.a.w. lantas bertanya: “Lalu apa yang menghalangi kalian berdua untuk mengikutiku?” Kedua orang itu berkata, “Sesungguhnya Daud a.s. pernah berdoa agar di antara keturunannya ada yang masih bisa menjadi Nabi. Jika kami masuk Islam, maka kami khawatir orang-orang Yahudi akan membunuh kami.” (H.R. Ahmad No. 17397) Semua perawi hadits ini tsiqah, sedangkan Abdullah bin Salamah dikatakan shaduuq (jujur) oleh Ibnu Hajar Asqolani dan Ibnu Adi mengatakan laa ba’sa bih (tidak masalah dengan dia).

Rasulullah s.a.w. tidak mengecam orang yang mencium tangan bahkan memuji orang yang berbuat hal tersebut walaupun ia dari kalangan ahlul kitab.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Abdul Aziz bin Umar dari Abdullah bin Mauhab berkata; Aku mendengar Tamim Ad-Dari, ia berkata; “Aku berkata; ‘Wahai Rasulullah! Perbuatan sunnah apa yang ada pada laki-laki dari ahli kitab dengan bersalaman mencium tangan orang lain? ‘ Rasulullah s.a.w. menjawab: ‘Ia (yang mau mencim tangan orang lain) adalah orang yang paling utama, di saat hidup dan matinya’.” (H.R. Ibnu Majah No. 2742) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan.

Dalam hadits di atas Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa mencium tangan merupakan tindakan yang baik dan utama.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dan Ghundar dan Abu Usamah dari Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Shafwan bin ‘Assal, bahwa sekelompok orang Yahudi mencium tangan dan kedua kakinya Nabi s.a.w.” (H.R. Ibnu Majah No. 3695)

Dalam hadits di atas Rasulullah s.a.w. membiarkan saja seorang Yahudi mencium tangan dan kaki Nabi s.a.w. Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if namun hal ini bisa diperdebatkan lagi, karena hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari 3 jalur berbeda yang mana semua perawinya tsiqah dan dinyatakan minimal shaduuq / jujur oleh berbagai ulama lain (shaduuq derajatnya di bawah tsiqoh namun masih termasuk katagori ta’dl /menganggap perawi adil / dapat dipercaya dan bukan pernyataan jarh / menganggap cacat perawi). Telah mafhum di kalangan ahli hadits kalaupun benar anggapan bahwa hadits-hadits (dari masing-masing jalur) itu dla’if, namun jika terdapat banyak jalur yang meriwayatkannya, maka akan saling menguatkan dan menaikkan derajat hadits tersebut menjadi hasan.

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala` dari Ibnu Idris, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amr bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Shafwan bin ‘Assal ia berkata : “Seorang Yahudi berkata kepada temannya; pergilah bersama kami kepada Nabi ini. …..Lalu mereka mencium tangan dan kaki beliau s.a.w. dan berkata :  kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang Nabi” (H.R. Nasa’i No. 4010)

Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if namun hal ini bisa ditinjau lagi, karena Yahya bin Main dan Ibnu Hajar Asqolani men-tsiqoh-kan semua perawi dalam hadits ini kecuali Abdullah bin Salamah bin Qa’nab adalah seorang Tabi’in kalangan tua dari Kufah yang dinyatakan shaduuq (jujur) oleh Ibnu Hajar Asqolani. Al Ajli dan Ya’qub bin Syaibah menyatakan ia adalah tsiqoh (terpercaya). Ibnu Adi mengatakan ia laa ba’sa bih (tidak mengapa). Ibnu Hibban menyebutkan biografinya pada kitab Ats-Tsiqaat (termasuk perawi perawi yang terpercaya). Sedang Adz-Dzahabi mengatakan suwailih (sedikit sholih / sholih kecil). Dalam Mizanul I’tidal istilah suwailih oleh Dzahabi ini setara dengan Mahalluhu ash-Shidq, Jayyid al-Hadits, Shalih al-Hadits, Syaikh Wasath, Syaikh Hasan al-Hadits, Shaduuq Insya Allah masih termasuk pada lafadz ta’dl peringkat ke-empat di bawah perkataan Shaduuq, La ba’sa bih, dan laisa bihi Ba’sun. Sehingga istilah suwailih bukanlah lafadz jarh (menganggap cacat perawi) melainkan masih termasuk katagori ta’dl (menganggap perawi adil / dapat dipercaya).

Sementara itu ada hadits lain yang diriwayatkan dari Abdullah bin Salamah bin Qa’nab, namun Nashiruddin Al-Albani men-shahih-kannya . Misalnya dalam hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah ia berkata; Aku mendengar Ali berkata; “Sebaik-baik manusia setelah Rasulullah s.a.w. adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik manusia setelah Abu Bakar adalah Umar.” (H.R. Ibnu Majah No. 103) Hadits ini dinyatakan shahih oleh Nashiruddin Al-Albani.

(Bersambung)

BENARKAH MENCIUM TANGAN DAN SUNGKEMAN BID’AH? (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Hadits-Hadits Tentang Mencium Tangan Yang Dla’if

Memang ada beberapa hadits tentang mencium tangan yang derajatnya dla’if. Namun kita tidak boleh secara berat sebelah hanya mengutip hadits-hadits yang dla’if-dlaif saja dalam rangka membenarkan kecenderungan kita yang mem-bid’ah-kan perbuatan mencium tangan dan sungkeman.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad, bahwa Abdurrahman bin Abu Laila telah menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar berkata : “…kemudian kami duduk menunggu Rasulullah s.a.w. sebelum Shalat Subuh. Kemudian tatkala beliau keluar maka kami berdiri menuju kepadanya dan kami katakan; kami adalah orang-orang yang melarikan diri (dari peperangan). Lalu beliau menghadap kepada kami dan berkata: “Tidak, melainkan kalian adalah orang-orang yang kembali berperang.” Ibnu Umar berkata; kemudian kami mendekat dan mencium tangan beliau s.a.w. Lalu beliau s.a.w. berkata: “Kami adalah kelompok orang-orang muslimin (bukan kafir / murtad).” (H.R. Abu Daud No. 2276)

Hadits ini dla’if karena Yazid bin Abi Ziyad dikatakan laisa bi qowiy (tidak kuat) oleh Yahya bin Ma’in, An-Nasa’i dan Abu Hatim, sedangkan Ibnu Hajar Asqolani, Abu Sa’d dan Abu Qoni mengatakan ia perawi yang dla’if. Alasan jahr (cacat) nya menurut Adz-Dzahabi karena ia tertuduh beraliran syi’ah.

Hadits yang juga didla’ifkan karena diriwayatkan juga oleh Yazid bin Abi Ziyad adalah :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad bahwa ‘Abdurrahman bin Abu Laila menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar menceritakan kepadanya…lalu ia menyebutkan kisahnya. Ia berkata, “Kami mendekat kepada Nabi s.a.w., lalu kami mencium tangannya.” (H.R. Abu Daud No. 4546)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Yazid bin Ziyad dari Abdurrahman bin Abu Lailai dari Ibnu Umar, bahwa ia pernah mencium tangan Nabi s.a.w.” (H.R. Ahmad No. 4520 dan Ibnu Majah No. 3694)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dari Humaid berkata, saya mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Besok akan datang kaum yang mereka sangat kuat hatinya terhadap Islam daripada kalian.” Maka orang-orang Asy’ariyin datang, di antara mereka terdapat Abu Musa al-Asy’ari, tatkala mendekati Madinah, mereka langsung menyanyikan: ‘Besok kita menjumpai yang kita cintai, Muhammad dan kelompoknya’, tatkala nabi dan sahabatnya tiba, mereka saling berjabatan tangan dan merekalah manusia pertama-tama melakukan jabat tangan. (H.R. Ahmad No. 12122) Hadits ini dla’if karena Yahya bin Ayyub dinyatakan laisa bi qowiy (tidak kuat) oleh Nasa’i dan Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan hadits ini pun mengatakan bahwa ia buruk hafalannya.

Dari Jabir r.a. sesungguhnya Umar mencium tangan Nabi s.a.w. “(H.R. Ibnu Al-Muqri).

Dari Usamah bin Syarik mengatakan: “Kami menyambut Nabi s.a.w. dan kami mencium tangannya.” (H.R. Ibnu Al Muqri, Kata Al Hafizh: Sanadnya kuat.”)

Larangan Membungkukkan Badan

Sebagian orang yang berpendapat tidak boleh mencium tangan guru atau kyai berdasarkan hadits yang melarang membungkukkan badan untuk melakukan penghormatan :

Dari Anas bin Malik, Kami bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidak boleh”. Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?”. Nabi bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan” (H.R Ibnu Majah No. 3702) Hadits ini dinilai berderajat hasan oleh Nashiruddin Al-Albani.

Sedangkan orang yang mencium tangan guru atau kyai itu pasti membungkukkan badan. Tidak mungkin mencium tanpa membungkukkan badan. Hadits ini pada asalnya adalah larangan membungkukkan badan namun mengena juga menjadi larangan mencium tangan.

Namun yang dilarang di situ adalah jika semata-mata membungkukkan badan menghormatinya dan bukan membungkukan badan dalam rangka mencium tangan. Karena yang jelas terdapat hadits-hadits yang berderajat hasan yang menceritakan para sahabat mencium tangan bahkan mencium kaki Rasulullah s.a.w. dan beliau tidak melarang atau mengecamnya :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Ath Thabba’ berkata, telah menceritakan kepada kami Mathar bin ‘Abdurrahman Al A’naq berkata, telah menceritakan kepadaku Ummu Aban bintil Wazi’ bin Zari’ dari kakeknya Zari’ saat itu ia sedang bersama rombongan utusan Abdu Qais, ia berkata, “Ketika kami tiba di Madinah, kami saling berlomba memacu kendaraan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki beliau s.a.w.” (H.R. Abu Daud No. 4548) Nashiruddin Al-Albani smengatakan hadits ini hasan.

Pada hadits di atas jelas sekali dinyatakan mereka mencium tangan Nabi s.a.w. bahkan mencium kaki Nabi s.a.w. dan tak ada isyarat kecaman atau larangan dari Nabi s.a.w. atas perbuatan ini. Maka perbuatan mencium kaki Nabi s.a.w. itu pastilah dilakukan dengan membungkukkan badan atau berjongkok. Tidak mungkin Nabi s.a.w. yang mengangkatkan kakiknya ke atas agar bisa dicium oleh orang.

Lalu apakah mencium tangan dan kaki itu dapat dilakukan tanpa membungkukkan badan? Jika Anda membenarkan ada hadits shahih dimana Rasulullah s.a.w. membenarkan perbuatan mencium tangan bahkan mencium kaki, kemudian di sisi lain dilarang membungkukkan badan berarti Anda menyangka Rasulullah s.a.w. lah yang mengangkat tangannya ke atas dan mengangkat kakinya ke atas agar orang itu bisa mencium tanpa membungkukkan badan. Tentu ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Maka penjelasan yang dapat diterima antara kedua hadits yang saling ikhtilaf di atas adalah bahwa Rasulullah s.a.w. melarang menghormati orang dengan membungkukkan badan ansich namun cukup bersalaman saja. Namun dibolehkan bersalaman itu sambil mencium tangan dengan niat sebagai penghormatan dan bukan pengkultusan.

Demikian pula dengan tradisi sungkeman kepada orang tua ketika Lebaran maka hal itu sesuatu yang boleh-boleh saja dan baik-baik saja asalkan dengan niat sebagai penghormatan kepada orang tua. Saya rasa tidak ada orang yang berniat melakukan sungkeman dalam rangka menyembah atau mengkultuskan orang tua. Memang hal ini tidak ada pada jaman Rasulullah s.a.w. namun sebagaimana juga makan ketupat dan sayur opor ayam juga tidak ada pada jaman Rasulullah s.a.w.

Pendapat Bahwa Hadits Mencium Tangan Itu Khusus Kepada Nabi s.a.w.

Sebagian ada yang menyanggah dibolehkannya mencium tangan dengan alasan bahwa penghormatan mencium tangan seperti itu dibolehkan hanya khusus kepada Rasulullah s.a.w. saja. Karena beliau pantas mendapat penghormatan demikian. Karena beliau adalah sebaik-baik manusia. Sedangkan manusia pada masa kini (walaupun orang tua dan guru) tidak pantas mendapat penghormatan sedemikian itu.

Maka di sini kami katakan bahwa alasan tersebut tidak bisa diterima karena para sahabat pun melakukan penghormatan serupa kepada sesama sahabat yang lainnya :

“Ali bin Abi Thalib r.a. mencium tangan dan kaki Abbas r.a. “ (Paman dari Ali bin Abi Thalib r.a.) (Atsar R. Bukhari dalam Adabul Mufrod No. 976)

Dari Ibnu Jad’an ia berkata kepada Anas bin Malik r.a : “Apakah engkau pernah memegang Nabi dengan tanganmu ini ?. Anas bin Malik r.a. berkata : ya, lalu Ibnu Jad’an mencium tangan Anas tersebut. (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Dari Abi Malik al-Asyja’i berkata : saya berkata kepada Ibnu Abi Aufa r.a. “Ulurkan tanganmu yang pernah engkau membai’at Rasul sa.w. dengannya, maka ia mengulurkannya dan aku kemudian menciumnya.” (H.R. Ibnu Al-Muqri).

“Abu Ubaidah mencium tangan Umar ketika datang dari Syam “ (H.R. Sufyan dalam Al Jamii’ & disebutkan oleh Al-Hafizh dalam Al Fath tanpa komentar)

Ketika Zaid bin Tsabit r.a. selesai menyalatkan jenazah, seseorang mengambil kuda beliau. Abdullah bin Abbas r.a. mengambil alih dari orang itu, lalu memegang kendali kuda itu dan menuntunnya untuk diserahkan kepada pemiliknya. Lalu Zaid bin Tsabit r.a. berkata kepada beliau, “Wahai, sepupu Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Beginilah kami diperintah untuk menghormati para ulama kami.” Zaid bin Tsabit r.a. segera mencium tangan beliau dan berkata, “Beginilah kami diperintah untuk memuliakan ahlul bait Rasulullah s.a.w.” (H.R. At Thabari & Ibn Al Maqri. disebutkan dalam Faidul Qadir Juz 3 hal 253)

Berkata Ibnu Hajar Asqolani : “Dan dikatakan oleh Al Abharii bahwa Abu Ubaidah r.a. mencium tangan Umar ra ketika datang. Dan Zaid bin Tsabit r.a. mencium tangan Ibn Abbas ra ketika Ibnu Abbas r.a. memegang tali kudanya” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari oleh Ibn Hajar Asqalani Bab Al Akhdz bilyadain Juz 8 hal 1).

Maka jelaslah di sini bahwa kadang kala para sahabat pun mencium tangan dan kaki sahabat lainnya. Sehngga tidak benar anggapan bahwa mencium tangan dan sungkeman (mencium lutut atau kaki) adalah hal yang bid’ah atau bertentangan dengan syari’at Islam.

(Bersambung)

BENARKAH MENCIUM TANGAN DAN SUNGKEMAN BID’AH? (JILID 2)