DEVIDE ET IMPERA, ADU DOMBA MEMECAH BELAH UMAT

EDISI HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER

devide-et-impera

Advertisements

ULAR MENGGIGIT GERGAJI

ular-lawan-gergaji

 

Seekor ular tertusuk gergaji yang tergeletak di tanah, ia mengira gergaji besi itu telah menyerangnya.. maka ular tsb balik menyerang gergaji tsb, namun ia justru semakin tersakiti terluka di sana sini. Maka saking marahnya ular itu mengerahkan sekuat tenaga membelit gergaji tsb, maka tubuh ular tsb akhirnya terpotong potong. Keesokan harinya orang-orang heran menemukan ular yang terpotong-potong di tanah.

Terkadang kemarahan itu justru membuat kita tidak mampu berfikir dengan jernih dan menganalisa apa sebenarnya yang menimpa kita. Yang ada setiap kali kita melancarkan kemarahan, justru saat itu kita sedang menyakiti diri sendiri. Dan akhinya kemarahan tsb dapat membinasakan kita.

Amarah bisa menghilangkan kewaspadaan. Hilang sandal, lalu sibuk marah eh tau-tau malah kecopetan HP. Jadi terkadang kita harus pandai mengendalikan emosi karena emosi membuat perilaku kita tidak terkendali. Sementara musuh yang semula tidak memiliki celah untuk menyerang justru menemukan celah ketika kita terlalu marah.

Pelajaran dari perumpamaan sang ular di atas adalah, ia lebih mengedepankan emosi, sehingga lupa untuk mempelajari dan mengenali siapa lawannya, dan ia juga salah dalam menganalisa motivasi dan niat si gergaji. Sang ular salah paham menilai gergaji akan menyerangnya, padahal tidak. Sang ular tidak berhasil memahami kenapa ia tertusuk gergaji. Ia hanya paham bahwa dirinya terluka berarti dirinya diserang.

Hendaknya kita tidak boleh terburu emosi sehingga salah menganalisa situasi. Amarah kita juga menyebabkan kita salah lupa atau terlewat tidak sempat mempelajari siapa lawan dan musuh kita. Seandainya ular itu tahu, gergaji itu bukanlah musuhnya, justru ia bisa memanfaatkan gergaji sebagai senjata untuk melindunginya.

Sang ular juga gagal memahami situasi. Ia cenderung menyalahkan pihak lain. Padahal sandainya ular itu tahu, bahwa gergaji tidak bergerak apa-apa. Ia tertusuk karena kelalaiannya sendiri, dan bukan karena gergaji menyerangnya. Nah janganlah kita bersikap demikian. Karena emosi, kita cenderung menyalahkan pihak lain. Padahal diri kita terluka karena kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

POLLING APAKAH MENURUT ANDA PERNYATAAN AHOK TERMASUK MENISTAKAN ISLAM?

APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA = PEMIMPIN ? (JILID 1)

PEMBAHASAN ARTI KATA AULIYA (JILID 1)

arti-kata-auliya

Q.S. Al-Maidah : 51 adalah ayat yang sedang jadi trending topic dan menjadi primadona sampai ramai-ramai dijadikan DP atau foto profil. Walau persoalan ini oleh pihak tertentu berusaha diredam dan sudah mulai senyap gaungnya namun masih tetap bergulir domino effect-nya.

Ibarat anekdot supir bis ugal-ugalan yang membuat para penumpang nya ngeri, dari mulai penumpang, copet dan tukang ngamen semuanya jadi ikut menyebut dzikir nama Allah, istighfar, bahkan mungkin komat kamit berdoa. Akhirnya yang tadinya tidak pernah berdoa tidak pernah berdzikir jadi ikut-ikutan berdoa dan berdzikir. Demikianlah kita harus berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membuat “geger” berbagai elemen masyarakat sehingga ramai-ramai membahas Q.S. Al-Maidah : 51 (termasuk saya akhirnya gak tahan juga ikut latah membahas masalah yang sbenarnya sudah ramai dibahas banyak orang)

Pendekatan Linguistik

Berbagai macam komentar para ulama dan cerdik pandai melakukan “akrobatik otak” untuk membahas makna kata “auliya” dalam Q.S. Al-Maidah : 51.

Ada tokoh Isam yang membahas dari ilmu linguistik, subyek – predikat – obyek. Sehingga yang menghasilkan kesimpulan yang bahwa yang dituduh membohongi dan membodohi bukan obyeknya (yaitu Al-Qur’an) melainkan subyeknya (Yaitu politisi pesaing yang rasis dan pengecut). Kungfu lidah cara ini sungguh lucu, memang yang dituduh membodohi adalah subyeknya, namun Al-Qur’an di sini bukan obyek melainkan keterangan predikat. Subyeknya adalah politisi pesaing yang rasis dan pengecut menurut Ahok.

Sedangkan membohongi dan membodohi adalah predikat. Dan kata “pake Al-Maidah : 51” adalah keterangan predikat. Yaitu alat yang dipakai untuk membohongi dan membodohi, adalah Al-Maidah : 51. Jadi Q.S. Al-Maidah : 51 adalah alat yang digunakan untuk aksi membohongi dan membodohi. Siapa yang memakai alat ini? Yah itu tadi politisi pesaing yang rasis dan pengecut. Masalahnya yang memakai alat ini tidak hanya politisi, melainkan juga ulama.

Pendekatan Leksikologi

Ada tokoh Islam yang membahas dari segi terjemahannya (leksikologi), konon hanya terjemahan versi Depag saja yang mengartikan kata “auliya” dalam Q.S. Al-Maidah : 51 sebagai “pemimpin”. Konon kata ahli ini, “auliya” artinya adalah “pelindung”. Sehingga yang dilarang itu adalah memilih orang Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung.

Demikian pula ketika Ahok mengatakan “dibohongi dan dibodohi” itu berasal dari terjemahan yang mungkin pernah didengar oleh Pak Ahok, bahwa arti kata “auliya” adalah “teman” atau “sahabat” dan bukannya “pemimpin”. Dalam hal ini Ahok sebagai non-muslim tidak salah.

Info yang diterima Ahok perihal terjemahan auliya mungkin berdasarkan terjemahan yang dijadikan pegangan oleh kalangan orientalis seperti Prof. Daniel Pipes Ph.D. Kamus modern written arabic oleh Hans Wehr hal 1100 B menjelaskan arti kata auliya = “friendship amity benevolance good will fidelity fealty allegiance devotism loyalty clientage” (pertemanan, persahabatan, kebajikan, niat baik, kesetiaan, loyalitas, fanatisme pelanggan).

Jadi tidak salah juga jika Ahok menyangka arti kata auliya adalah “pertemanan, persahabatan” sehingga pihak lain, orang / ulama yang mengartikan sebagai “pemimpin” disangka oleh Ahok sebagai tindakan “membohongi dan membodohi”. Karena mungkin tahunya seperti itu. Namun seharusnya Ahok menyadari dirinya sebagai non-muslim (berlaku juga bagi mayarakat awam yang merasa dirinya awam dalam bahasa Arab dan masalah agama) seharusnya bersikap hati-hati karena bisa jadi ada kemungkinan dirinya tidak mengetahui persis arti dari kata auliya / wali.

Arti Auliya Menurut Kamus

Yang sedang kita bahas saat ini adalah “auliya” yang merupakan berntuk jamak dari “wali” yang digunakan dalam firman Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an yang diturunkan 1.438 tahun yang lalu. Jadi kita harus berpatokan pada makna kata yang digunakan pada saat wahyu tersebut diturunkan.

Untuk ini kita harus merujuk pada literatur klasik yang tidak jauh dari masa dimana ayat tersebut diturunkan. Kitab Al-‘Ain ditulis oleh Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (786 M) ditulis 154 tahun setelah Rasulullah s.a.w wafat. Ini merupakan salah satu kamus tertua. Beliau adalah guru dari Sibawaih, Al-Asmaa’i, Al-Kisa’i, Harun bin Musa An-Nahwi, Wahb bin Jurair dan Al-Juhdumi

Dalam Al-‘Ain oleh Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (786 M) dikatakan : Wali : bentuk mashdar (bentuk kata benda dari kata kerja) dari muwalah (cinta) dan wilaayah (kecintaan) adalah mashdar dari wali. Dan walaa (loyalitas, menolong, mengikuti)

Kamus Lisanul Arab disusun oleh Ibnu Manzur (1232 M – 1311 M) yang ditulis 600 tahun setelah wafatnya Rasulullah s.a.w. Sehingga ini masih relevan digunakan untuk menelusuri arti dari sebuah kosa kata yang digunakan dalam Al-Qur’an sebagaimana bangsa Arab memahami arti kata tersebut pada masa itu.

Auliya adalah bentuk jamak dari “wali” yaitu seseorang yang memiliki “walayah” sehingga dengan itu seorang wali berhak mendapat “wala” dari orang. “Wala” atau “wali” dalam Kamus Lisanul Arab memiliki arti shiddiq (teman), maula fii diin (pemimpin agama) (Lisanul Arab Juz 15 hal 408), mahabbah (kecintaan), nushroh (pertolongan) dan ittiba (mengikuti) dan al-qurb / qurbah (kedekatan). Dalam istilah modern, al-wala sering diartikan dengan “loyalitas atau kesetiaan” (Lisanul ‘Arab Juz 15 hal 411)

Lebih lanjut dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan : Dalam kalam Bahasa Arab, “Wali” dan “Maula” adalah satu (memiliki makna yang sama). Dari sinilah makna sabda Rasulullah s.a.w. “ayyuman amroatin nakahat bi ghoiri izni maulaha” (tidak ada nikah tanpa izin walinya).

Diriwayatkan dari Ibnu Salam dari Yunus, Beliau berkata : Al Maula mempunyai beberapa peletakan (makna ) dalam Kalam bahasa Arab. Diantaranya adalah lafadz Al Maula di dalam (masalah) agama yaitu ( bermakna ) Waliy. sebagaimana Firman Allah Ta’ala : Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah maula orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai maula (Q.S. Muhammad [47] : 11)

Maksud dari “Tidak ada Maula bagi mereka” adalah “Tidak ada wali bagi mereka” (Lisanul ‘Arab Juz 15 hal 405)

Ar-Raghib Al-Isfahaani (1109 M)menyebutkan bahwa tiga huruf akar kata wa-la-ya mengandung arti bahwa : “… dua orang atau lebih muncul dengan cara sedemikian dimana tidak ada di antara mereka yang tidak berasal dari diri mereka, dan ini secara metafora digunakan untuk menunjukkan kedekatan dalam hal lokasi, relasi dan dalam hal keagamaan, persahabatan, dan pertolongan untuk saling memberi kekuatan (aliansi) dan saling percaya, sedangkan kata “wilaayah” adalah untuk mendukung dan “walaaya” adalah perwakilan untuk suatu hubungan.” (Mufradaat Al-Gharib Qur’an Al-Quran, Al-Isfahani)

Dalam Tuhfah Al-Ariib bima fil Qur’an minal Gharib oleh Ibnu Hayyan Al-Gharmati (1344 M) dijelaskan :

arti-wali-at-tuhfah

Wali (pemberian mandat) : dengan kemenangan pertolongan dan dengan peran pemerintahan. Waliyuhum : ancaman dan intimidasi misalnya membiarkan kuasa jahat mengancam. Maulana : wali kami. Mawali : pengawal, bodyguard, pelindung atau segala yang diutamakan/diprioritaskan atau kongsi atau persekutuan.

Oleh karena itu dalam fiqih Islam, wali adalah seseorang yang diberi mandat untuk mengurus urusan orang yang memberi mandat. Misal seorang wanita bisa menikah jika mendapat ijin dari walinya, yaitu ayah atau saudara lelakinya. Di sini ayah dan kakak lelakinya adalah orang yang diberi mandat. Demikian pula seorang anak yatim yang belum baligh maka hartanya diurus oleh walinya.

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 5)

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 2)

Mawali artinya juga ahli waris atau ‘ashobah (ahli waris laki-laki) sebagaimana dalam ayat :

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan mawalinya (pewarisnya) (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 33)

Ibnu Jarir mengatakan, orang Arab menamakan saudara sepupu  (anak paman) dengan sebutan maula. Seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas dalam salah satu bait sya’irnya :

syair-ibnu-abbas

Tunggulah hai anak-anak paman kami, mawali kami, jangan sekali-kali tampak di antara kita hal-hal yang sejak dahulu terpendam

Dalam At-Ta’rifat oleh Syarif Al Jurjani (1413 M) diuraikan :

arti-wali-al-jurjani
Wali : fa’iil bi ma’na faa’al yaitu siapa yang bersedia ditaati tidak diiringii dengan pembangkangan. Atau dengan makna : yang diikuti orang dalam kebaikan dan keutamaan. Dan wali adalah orang yang kualitasnya dikenal oleh Allah (dicintai Allah) karena ketaatannya dan tidak mengotori dirinya dengan maksiyat, atau memperlihatkan kecenderungan dalam hura-hura dan syahwat yang tidak terkendali.

Jadi wali adalah orang yang ditaati atau orang yang dicintai.

Dalam Al-Asas Al-Balaghoh oleh Zamakhsyari (1143 M) dikatakan :

arti-wali-al-asas-balaghoh

Walayah waliyan : yang dengannya ia mendapat loyalitas, kesetiaan atau diikuti dan semua yang mengikutinya dan duduk orang yang mengikutinya…..dia wali negeri dan gubernur / pemerintah. Dengan rahmat Allah yang tinggi, ia adalah pemerintah yang adil dan mengikat mereka.

Zamakhsyari mengaitkan auliya dan wali dengan kepemimpinan dan pemerintahan. Jadi tidak salah terjemahan Depag yang mengartikan auliya dengan pemimpin. Maka orang atau ulama yang mengartikan auliya sebagai pemimpin, gubernur, pemerintah tidaklah membohongi dan membodohi orang bukan memelintir ayat dan bukan pula memanipulasi ayat.

Dalam Al-Mu’jam al-Wasith disebutkan bahwa arti dari wali adalah: “Setiap orang yang menguasai atau mengurus suatu perkara atau orang yang melaksanakannya” (Al-Mu’jam Al Wasith Hal 1020)

Wali juga diartikan orang yang diberi hak perwakilan yaitu suatu wewenang syar’i atas seseorang, yang dilimpahkan kepada orang yang lebi sempurna akalnya, karena kekurangan tertentu pada orang yang dikuasai tersebut, demi kemaslahatan orang yang diwakili itu. Jadi perwakilan di sini adalah pemberian mandat (Al-Munjid fi Al-Lughoh Darul Masyriq Beirut, Hal. 919)

Oleh karena itu di dalam sejarah Kekhalifahan Islam, ada sebutan “waliyul amri” dimana wali di sini adalah orang yang diberi mandat mengurusi urusan orang banyak dan “amri” adalah urusan umum atau publik.

Demikianlah makna kata “wali” (jamak : auliya) dimana tidak salah mengartikan sebagai teman setia, sahabat dekat, penolong, pelindung. Namun juga tidak salah mengartikan sebagai pemimpin karena memang itu adalah salah satu arti dari wali / auliya.

Wallahua’lam

Abu Akmal Mubarok

LIHAT TULISAN TERKAIT :

https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/ahok-menistakan-agama-atau-tidak-sih/
https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/24/anekdot-ayat-babi/

ANEKDOT AYAT BABI

yang-membodohi-siapa

Suatu hari di negeri sebelah heboh soal pernyataan kontroversial tukang jual bakso babi yang menyatakan : “Soal bapak ibu mau beli atau tidak beli bakso babi saya itu terserah hak bapak ibu…tapi jangan mau dibohongi orang yang mengutip Q.S. Al-Baqarah [2] : 173 jangan mau dibodohi kalau makan bakso saya masuk neraka.. karena maksud ayat itu bukan itu….”

Perlu diketahui isi Q.S. Al-Baqarah [2] : 173 artinya adalah “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi” Berdasarkan ayat ini maka ulama Islam mengharamkan makan daging babi.

Kita tidak menemukan tafsir lain dari makna ayat di atas kecuali memang daging babi diharamkan….sehingga kalau ada ulama, kalau ada sama-sama pedagang, yang menyampaikan kepada orang lain agar jangan makan daging babi karena diharamkan itu bukan lah membohongi dan bukan pula membodohi.

“Saya ini 9 tahun sekolah Islam dan sudah sejak 2013 jualan bakso, dan saya sering menjumpai sesama penjual bakso yang rasis dan pengecut menggunakan ayat ini untuk mempengaruhi pembeli agar jangan beli bakso saya… jangan bawa2 Al-Qur’an dalam masalah dagang!! Itu namanya memanfaatkan ayat Al-Qur’an !“ Kata pedagang bakso babi yang merasa kesal dan dirugikan dengan banyaknya orang yang mengutip ayat tersebut sehingga ia khawatir dagangannya tidak laku.

Sebetulnya disebut rasis gak juga sih. Kebetulan saja yang jual bakso babi itu orang tionghoa…maka dia menuduh pedagang bakso lain sebagai rasis. Yang jadi larangan makan babinya kok bukan soal ras nya. Andaikata yang jual bakso babi itu orang jawa sekalipun, maka pedagang bakso yang sama-sama orang jawa pun akan tetap dikatakan jangan beli bakso babi, karena Islam melarang makan dagin babi. Lha memang Islammelarang makan babi kok. Ini bukan sebuah pembodohan dan bukan pula pembohongan.

“Lho saya tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an membohongi dan membodohi !!” Kata penjual tukang baso ketika ditanya wartawan. “Yang membohongi dan membodohi itu adalah sesama penjual bakso yang iri melihat bakso saya laku.. lalu menggunakan ayat untuk menghalangi orang memilih bakso saya!!! ….maksud ayat itu bukan itu….maksudnya kan jangan berteman bersahabat dengan tukang bakso babi” kata tukang baso membela diri.

Nah kok tukang bakso bisa ngomong maksud ayat itu bukan itu?? Kok “sampeyan” lebih tahu maksud ayat itu dibanding para ulama sejak zaman dahulu kala ya? Jadi kalau ayat itu maksudnya bukan mengharamkan makan babi lalu maksudnya apa dong??? Tanya masyarakat pada si penjual bakso itu? Berdasarkan tafsir apa tukang bakso itu bisa bilang makna ayat itu bukan seperti itu?

Jelas dalam ayat Q.S. Al-Baqarah [2] : 173 kata “babi” ya maknanya “babi”. Mana mungkin maknanya adalah “ketoprak” atau “sayur jengkol” ???? Ya mau gimana lagi memang Al-Qur’an melarang hal itu kok. Masing-masing kan ada rejekinya. Yang non-muslim mau makan babi silakan. Kalau yang muslim ya semestinya mengindahkan larangan Allah ini. Tidak perlu mencari alasan atau merasa tidak enak dengan orang lain.

Yang lebih lucu lagi ada tokoh Islam tiba-tiba dengan gaya bijak berkata “sudah jelas faktanya bahwa apa yang dikatakan tukang bakso itu sama sekali tidak ada penghinaan ayat Al-Qur’an”

Lho, kalau sudah jelas maknanya memang “babi” lalu dikatakan maknanya “bukan babi” ini bisa disebut melecehkan gak ya? Bisa disebut menghina gak ya? Lalu yang membohongi dan membodohi ini sebenarnya siapa??

Lalu seorang tokoh mengatakan “betul itu..ini bukan penghinaan..ini Cuma persaingan bisnis antar pedagang bakso aja !!!”

“Pusing gua bro.. terserah masing-masing aja menilai ini menghina apa gak? Kata bapak-bapak yang nongkrong di warteg,

Lebih aneh lagi ada seorang habib atau ahlul bait (orang Arab yang konon bermarga kelas tinggi keturunan Nabi s.a.w.) berkata : “Jangan bawa-bawa ayat Al-Qur’an dalam masalah dagang!”

“Waladalah biiib…jadi ayat Al-Qur’an cuma dipake waktu sholat dan tahlilan doang yang Bib?? Kata santri yang sering dikatain bahlul sama kyainya.

“Yang bahlul itu ane apa ente sih Bib??

Ternyata ini hanyalah sekelumit ironi dari negeri sebelah

TULISAN LAIN TERKAIT :
https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/ahok-menistakan-agama-atau-tidak-sih/
https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/apakah-salah-mengartikan-auliya-pemimpin/

ADIL DALAM MENYAMPAIKAN TINJAUAN FIQIH

ADIL DALAM MENYAMPAIKAN TINJAUAN FIQIH
Oleh : Abu Akmal Mubarok
Image

Dunia maya dewasa ini ibarat sebuah perpustakan raksasa dimana kita bisa mencari jawaban atas segala masalah apa saja. Termasuk dalam hal ini adalah masalah masalah agama. Dan orang biasanya mencari jawaban sesuatu dimulai dari “googling” (bertanya pada mbah google). Dari sanalah orang kemudian menemukan website (situs) yang membahas topik yang ia tanyakan.

Namun sayangnya, kita banyak menjumpai tulisan tulisan masalah agama di dunia maya ini yang tidak adil dalam menyampaikan tinjauan fiqih. Tidak adil di sini maknanya adalah tidak mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Kebanyakn tulisan hanya menyampaikan secara instant fatwa akhir (kesimpulan akhir) saja tanpa menjelaskan duduk masalah sebenarnya. Demikian pula tidak jarang kupasan fiqih di dunia maya ini hanya menyampaikan pendapat dari satu pihak saja, pandangan satu kelompok tertentu, satu warna tertentu.

Kemudian mereka meng-klaim bahwa pandangan kelompoknya sajalah yang paling benar berjalan di atas sunnah. Mereka menamakan dirinya sebagai pecinta sunnah. Lalu orang yang memiliki pandangan fiqih berbeda dengan pandangan mereka disebut sebagai ahlul bid’ah (maksunya bid’ah yang sesat). Tentu saja mereka hanya menampilkan dalil-dalil yang mendukung pendapatnya saja. Sehingga pembaca awam digiring untuk melihat dalil-dalil yang mendukung satu pendapat ini saja. Bahkan ada yang bersikap ghuluw (berlebihan) memvobis kafir dan murtad bagi yang berbeda pandangan dengan mereka. (Sebenarnya dengan mencap bid’ah saja otomatis sudah menganggap kafir dan murtad karena bid’ah dlolalah itu masuk neraka).

Tentu saja pihak lain yang berbeda padangan fiqihnya dengan mereka ini menjadi kebakaran jenggot, dan membalas sikap ghuluw dengan sikap ghuluw pula. Mereka menamakan dirinya dengan bendera yang tidak kalah wibawanya misalkan saja pecinta Rasulullah s.a.w. (yah siapa sih yang tidak cinta Rasulullah s.a.w.?) Kelompok ini juga membalas menulis kupasan fiqih yang dengan dalil-dalil yang mendukung pendapatnya pula. Dan kesimpulan akhirnya juga sama. Bahwa pandangan fiqih yang benar adalah kelompok ini dan mereka yang tidak melakukan sesuai dengan fiqih warna ini adalah kafir.

Akhirnya semua kelompok terseret pada sikap ghuluw (berlebihan). Masing-masing pihak meng-klaim amalan-nya adalah wajib sehingga yang tidak melaksanakannya adalah kafir. Padahal duduk masalah sebenarnya amalan yang mereka ributkan itu bersifat mustahab (lebih disukai) atau Rasulullah s.a.w. pernah melakukannya namun pernah pula meninggalkannya. Jadi tidak benar jika hal itu menjadi diwajibkan, sama saja tidak benarnya dengan kelompok yang menyatakan bahwa hal itu sama sekali tidak ada contohnya dari Rasulullah s.a.w. sehingga mencap bid’ah bagi orang yang melakukannya.

Adapun mengenai dalil-dalil yang mendukungnya, tentu saja masing-masing kelompok memiliki dalil pendukung. Karena dalam masalah fiqih, kadang kala kebenaran itu bukan lah satu. Sehingga boleh begini dan boleh begitu. Karena Rasulullah s.a.w. pernah melakukan begini dan pernah melakukan begitu.

Sejak dahulu kala pun (kadang sejak zaman sahabat Nabi s.a.w. pun) perbedaan fiqih telah terjadi. Sehingga jika Anda mencari dalil yang “pro” dengan pendapat Anda pasti ketemu. Demikian pula jika Anda mencari dalil yang “kontra” dengan pendapat Anda juga pasti ketemu. Jadi jangan heran jika semua kelompok pasti berhasil mengumpulkan dalil yang mendukung pendapatnya.

Ketahuilah bahwa hampir semua masalah fiqih terjadi perbedaan pendapat, tidak hanya satu, dua bahkan kadang mencapai belasan pendapat yang berbeda. Sebagai contoh masalah batasan aurat wanita jika dirinci secara detail mencapai 7 pendapat.

Kita ambil contoh masalah lain, seperti masalah membaca qunut dalam shalat, bisa terdapat 4 atau 5 pendapat : ada yang membolehkan pada saat shalat witir saja, ada yang membolehkan di shalat witir dan subuh, ada yang membolehkan di semua jenis shalat baik fardlu maupun sunnah, ada yang membolehkan hanya ketika situasi umat Islam genting atau mendapat musibah saja. Namun ada 2 kelompok yang sama-sama ghuluw (berlebihan) yaitu yang mewajibkan qunut di semua situasi, atau mewajibkan qunut pada saat shalat subuh dan mengkafirkan yang tidak melakukan qunut. Lalu 1 lagi yang juga ghuluw adalah yang mengatakan bahwa semua hadits tentang qunut adalah dla’if, atau mengatakan Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukan sama sekali, sehingga siapa yang melakukannya adalah bid’ah.

Contoh lainnya satu kelompok menganggap praktek tawasul adalah syirik, tanpa memerinci tawasul itu apa dan tawasul yang bagaimana, sedangkan kelompok lainnya juga sama-sama ghuluw dengan mengatakan bahwa berdoa melalui tawasul adalah wajib, dan yang tidak melakukannya adalah kafir. Jangan heran jika kedua kelompok ini memiliki dalil-dalil yang mendukungnya. Padahal duduk masalah sebenarnya tawasul itu ada yang boleh dan ada yang terlarang, dan tawasul itu bukanlah sesuatu yang wajib, melainkan sesuatu yang boleh.

Maka justru yang bid’ah itu adalah kelompok yang tidak adil dan tidak jujur dalam menyampaikan tinjauan fiqih. Ia hanya menampilkan dalil dan pendapat ulama yang mendukung pendapatnya saja.

Al- Imam Abdurrahman bin Mahdi pernah berkata:

“Ahlussunnah akan menulis apa saja, baik menguntungkam maupun merugikan pendapatnya. Tetapi ahli bid’ah hanya akan menulis apa yang menguntungkan baginya saja.”

Maka kita harus bersikap hati-hati dan kritis dalam mengambil tulisan-tulisan dari dunia maya (sebenarnya sikap yang sama juga harus dilakukan di kajian dunia nyata) agar tidak menelan mentah-mentah semua informasi. Karena zaman sekarang ini orang tidak berilmu pun, atau yang baru ikut kajian setahun dua tahun atau baru ketemu satu dua hadits sudah berani menyimpulkan dan menulis di dunia maya, sembari menuduh bid’ah pihak lain.

Maka selayaknya kita bersikap adil dalam menyampaikan tinjauan fiqih baik yang pro maupun kontra. Kita juga harus jujur menyampaikan berbagai pendapat ulama dalam suatu permasalahan dan tidak boleh menutup-nutupi sembari hanya memilih dalil yang sesuai dengan pendapatnya saja. Penulis yang jujur boleh mengupas kesalahan pada salah satu pendapat, namun tetap menyerahkan penilaian pada pembaca. Ada pun setelah itu si penulis mengungkapkan bahwa dirinya lebih memilih salah satu pendapat itu boleh-boleh saja, namun tidak boleh menggiring pembaca pada salah satu pendapat, sembari menyalahkan, mengharamkan atau membid’ahkan pendapat lain sepanjang hal itu ada landasannya.

Ibnu Taimiyah pernah berkata : “Orang yang mengamalkan pendapat ulama maka tidak boleh diingkari dan tidak boleh ditinggalkan (dimusuhi) dan barang siapa yag mengambil salah satu pendapat juga tidak boleh diingkari dan apabila dalam suatu masalah ada dua pendapat, maka jika pada seseorang tampak pendapat yang lebih kuast, maka hendaknya ia mengambil pendapat yang kuat itu, jika tidak, maka taqlidlah pada sebagian ulama yang dianggap terpercaya dalam menentukan suatu pendapat yang lebih kuat” (Majmu Fatawa Juz 20 Ha; 207)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan : “Saya tidak merasa lega jika para sahabat Rasulullah s.a.w. tidak berbeda pendapat. Sebab jika mereka sepakat hanya pada satu pendapat saja, maka jika suatu saat ada orang yang berbeda pendapat dari kesepakatan tersebut, maka ia akan menjadi dianggap sesat. Sedangkan jika sahabat ada beberapa pendapat, maka orang bisa memilih mengambil pendapat yang satu dan orang yang lain mengambil pendapat yang lain lagi dan kedua orang tersebut tidak sesat”

Demikianlah sikap para ulama salaf dan imam madzhab, walaupun mereka berbeda pendapat dalam masalah fiqih namun tidak pernah saling membid’ahkan dan tidak pernah menganggap dirinya yang paling mengikuti sunnah.

Imam Syafi’i pernah shalat di belakang Imam kota Madinah yang bermadzhab Maliki, walaupun Imam ketika membaca Al-Fatihah tidak membaca basmalah baik keras maupun pelan dan juga tidak membaca qunut. Padahal madzhab Syafi’i berpendapat bacaan basmalah dalam Al-fatihah harus dibaca dan termasuk yang dikeraskan bacaannya, dan juga selalu membaca qunut.

Demikian pula Abu Yusuf pernah shalat di belakang Ar Rasyid yang baru berbekam dan tidak mengulang wudlunya. Padahal Abu Yusuf adalah murid Imam Abu Hanifah (madzhab Hanafi) yang berpendapat berbekam dan mimisan membatalkan wudlu sehingga harus diulang wudlunya. Ar Rasyid mengikuti madzhab Maliki, yang berpendapat berbekam dan mimisan tidak membatalkan wudlu. Abu Yusuf bertindak demikian karena ia orang yang paham, bahwa pendapat Madzhab Maliki adalah pendapat salah seorang tabi’in yang dikenal sholeh dan wara’. Maka ketika Abu Yusuf ditanya ia menjawab : “Bagaimana mungkin Anda tidak mau shalat di belakang Sa’d bin Al Musayyib?”

Perbedaan pendapat dalam masalah fiqih i ni adalah sebuah keniscayaan sehingga Imam Malik mengatakan kepada Abu Ja’far : “Sesungguhnya sahabat-sahabat Nabi s.a.w. telah berpencar ke berbegai pelosok negeri, pada setiap mereka terdapat suatu ilmu, maka jika Anda ingin menggiring pada satu pendapat saja, niscaya akan terjadi fitnah yang besar”. Wallahua’lam.