HUTANG INDONESIA TERUS NAIK, NEGERI INI MAKIN TERBELENGGU HUTANG, SAMPAI KAPAN?

hutang-ln-indonesia-sejak-2000

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tahun depan pemerintah masih akan berutang untuk membayar bunga utang luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan jumlah defisit primer dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar Rp 109 triliun.

Dengan pembiayaan utang yang cukup besar tersebut, maka untuk asumsi defisit anggaran tahun depan (2018) diasumsikan sebesar Rp 330,2 triliun. Surat Berharga Negara (SBN) akan diterbitkan sebesar Rp400 triliun untuk menutupi defisit anggaran. Jadi tahun depan (2018) pemerintah masih akan menambah hutang lagi sebesar Rp 400 Triliun. Dengan rencana ini maka diperkirakan tahun 2018 hutang pemerintah Indonesia mencapai

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) mencatat total utang luar negeri (ULN) Indonesia sampai Juli 2016 adalah Rp 4.247 Triliun (US$ 324,2 Milliar dengan kurs 13.000) Berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor swasta. mencapai USD164,5 miliar sementara ULN pemerintah sebesar USD159,7 miliar (Rp 2.076,1 Triliun)

Kalau kita lihat statistik ULN yang dirilis BI, maka di akhir 2015, ULN Indonesia adalah US$ 304,593 Mlliiar (atau Rp 3.959,7 Triliun). Artinya dalam 7 bulan naik US$ 19,6 Milliar atau naik Rp 286,987 triliun. Maka rata-rata sebulan ULN naik Rp 40,998 Triliun atau Rp 1,366 Triliun per hari.

Jika kita tinjau lebih mundur lagi, pada 2014 (akhir masa pemerintahan SBY), hutang pemerintah Indonesia mencapai US$ 293,763 Milliar (Rp 2.604,93 triliun) Artinya dalam periode 19 bulan naik Rp 1.642 Triliun. Maka rata-rata ULN naik Rp 86,,4 Triliun per bulan atau Rp 2,88 Triliun per hari.

Dengan kata lain pada masa pemerintahan Jokowi hutang Indonesia naik Rp 86,4 Triliun per bulan atau Rp 2,88 Triliun per hari. Memang ini adalah hutang pemerintah plus swasta. Namun hutang swasta ini termasuk BUMN dan sektor perbankan. Seharusnya pemerintah bisa mengendalikan pertambahan hutang luar negeri Indonesia

Yang menarik adalah jika hutang ke negara lain berkurang, namun hutang ke China justru melonjak drastis. Hutang Indonesia (gabungan pemerintah & swasta ) ke negeri Tirai Bambu, per Februari 2016, tumbuh melesat sebesar 59,05% dibanding periode yang sama tahun 2015. Besar hutang mencapai US$ 13,91 miliar naik dari setahun sebelumnya sebesar US$ 8,75 miliar. Jika Februari tahun lalu China masih merupakan kreditor nomor lima, maka tahun ini sudah ada di posisi ketiga.

Pinjaman ke Cina menjadi pilihan karena berbunga rendah dan tenor jangka panjang, yaitu 10 tahun. Selain itu Indonesia semakin banyak mengimpor barang dari Cina sedangkan ekspor Indonesia stagnan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjelaskan “Indonesia itu lebih terpengaruh apa yang terjadi di China daripada Amerika Serikat. Apa yang membuat ekonomi Indonesia melambat dari 2012 sampai 2016 kan itu apa yang terjadi di China,”

Pinjaman lunak pihak Asing ini terkadang dibarengi dengan deal-deal-deal kepentingan strategis lainnya (tidak murni bisnis semata). Kadang kala pinjaman lunak dari negara asing disertai dengan kesepakatan harus menggunakan kontraktor dari negara pemberi hutang, harus menggunakan suku cadang dari negara pemberi hutang, harus membeli dari suppier dari negara pemberi hutang, sampai sekian persen menggunakan tenaga ahli dan pekerja dari dari negara pemberi hutang. Semoga hutang ini tidak menjadikan pemerintah terdikte oleh kepentingan Asing dan rakyat semakin menjadi jongos di negeri sendiri. Wallahua’lam

ULAR MENGGIGIT GERGAJI

ular-lawan-gergaji

 

Seekor ular tertusuk gergaji yang tergeletak di tanah, ia mengira gergaji besi itu telah menyerangnya.. maka ular tsb balik menyerang gergaji tsb, namun ia justru semakin tersakiti terluka di sana sini. Maka saking marahnya ular itu mengerahkan sekuat tenaga membelit gergaji tsb, maka tubuh ular tsb akhirnya terpotong potong. Keesokan harinya orang-orang heran menemukan ular yang terpotong-potong di tanah.

Terkadang kemarahan itu justru membuat kita tidak mampu berfikir dengan jernih dan menganalisa apa sebenarnya yang menimpa kita. Yang ada setiap kali kita melancarkan kemarahan, justru saat itu kita sedang menyakiti diri sendiri. Dan akhinya kemarahan tsb dapat membinasakan kita.

Amarah bisa menghilangkan kewaspadaan. Hilang sandal, lalu sibuk marah eh tau-tau malah kecopetan HP. Jadi terkadang kita harus pandai mengendalikan emosi karena emosi membuat perilaku kita tidak terkendali. Sementara musuh yang semula tidak memiliki celah untuk menyerang justru menemukan celah ketika kita terlalu marah.

Pelajaran dari perumpamaan sang ular di atas adalah, ia lebih mengedepankan emosi, sehingga lupa untuk mempelajari dan mengenali siapa lawannya, dan ia juga salah dalam menganalisa motivasi dan niat si gergaji. Sang ular salah paham menilai gergaji akan menyerangnya, padahal tidak. Sang ular tidak berhasil memahami kenapa ia tertusuk gergaji. Ia hanya paham bahwa dirinya terluka berarti dirinya diserang.

Hendaknya kita tidak boleh terburu emosi sehingga salah menganalisa situasi. Amarah kita juga menyebabkan kita salah lupa atau terlewat tidak sempat mempelajari siapa lawan dan musuh kita. Seandainya ular itu tahu, gergaji itu bukanlah musuhnya, justru ia bisa memanfaatkan gergaji sebagai senjata untuk melindunginya.

Sang ular juga gagal memahami situasi. Ia cenderung menyalahkan pihak lain. Padahal sandainya ular itu tahu, bahwa gergaji tidak bergerak apa-apa. Ia tertusuk karena kelalaiannya sendiri, dan bukan karena gergaji menyerangnya. Nah janganlah kita bersikap demikian. Karena emosi, kita cenderung menyalahkan pihak lain. Padahal diri kita terluka karena kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

TIDAK USAH HERAN, KENAPA BANYAK PENGHIANAT DI NEGERI INI

Memperingati sumpah pemuda dan hari pahlawan 10 November. Tahukah Anda ada 13.000 bangsa indonesia yang dahulu bersedia bergabung dengan Tentara KNIL ? Tentara KNIL yang dahulu dijuluki Anjing Nica, sebagai tentara penjajah, tentu mereka harus berhadapan dengan bangsa sendiri. Ini belum termasuk 6.000 tentara merchausssee (marsose) yang dahulu  memerangi Aceh.

menyembah-penjajah-02

Kalau kita belajar sejarah bangsa Nusantara, pasti dipenuhi dengan kisah pengkhianatan bangsa sendiri. Tidak sulit menemukan bangsa pribumi yang bersedia memihak kepada penjajah.Tidak sulit menemukan bangsa pribumi yang bersedia memberi info, memberitahu persembunyian pejuang, bahkan disuruh membunuh pejuang bangsa sendiri, dengan imbalan uang yang amat kecil.

Sejarah juga mencatat raja-raja Nusantara amat mudah diadu domba dan dipecah belah, memerangi saudara kandung sendiri, demi memperebutkan kekuasaan. Bahkan semenjak Penjajah belum menginjakkan kaki di bumi Nusantara ini pun, kaum pribumi sudah saling sikut saling injak, saling fitnah bahkan saling bunuh untuk memperebutkan kekuasaan.

Maka wajar saja Bangsa Belanda yang penduduknya cuma beberapa juta bisa menjajah Nusantara yang penduduknya lebih banyak berkali-kali lipat.

Menurut Dr. Amien Rais, mentalitas Inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita.

Persoalan fundamental negeri ini adalah belum tubuhnya rasa kepercayaan diri dan masih dihinggapi perasaan minder, memandang bangsa asing lebih superior dan bangsa sendiri lebih inferior.

Tidak terkecuali hal ini menghinggapi umat Islam. Dalam konteks umat Islam, maka rasa minder dan tidak percaya diri ini, melihat umat lain lebih superior, karena kenyataanya umat lain lebih maju teknologinya, lebih banyak duitnya, lebih makmur duniawinya.

Sehingga segala hal yang berasal dari asing dianggap lebih hebat. Lebih bangga menggunakan buatan asing ketimbang buatan sendiri. Lebih parah lagi, adalah hilangnya produktifitas dan enggan mencoba untuk memproduksi sendiri. Karena untuk apa memproduksi sendiri karena pasti lebih jelek dan pasti tidak laku.

Demikian pula lebih rela bosnya orang asing daripada bangsa sendiri. Kalau yang menjadi bos adalah bangsa asing, orang pribumi cenderung lebih patuh. Karena merasa wajar bangsa asing yang ngatur. Kalau bangsa sendiri yang jadi majikan, cenderung lebih berani melawan. Kalau bangsa sendiri yang jadi bos, cenderung lebih sulit diatur. Karena menganggap “aku dan dia kan sama-sama pribumi, jadi kenapa dia perintah2 aku? Kita sama sederajat kok” Kira-kira begitu pikirannya.

Maka umat Islam harus lebih mempelajari sejarah peradaban Islam, harus lebih mengetahui bahwa supremasi peradaban itu dipergilirkan antara bangsa-bangsa di dunia. Kebetulan saja saat ini Bangsa Barat yang memimpin. Itu pun kalau ditinjau dari sisi duniawinya. Adapun dari sisi ukhrawi moral dan spiritualnya, orang Timur justru lebih baik daripada orang Barat.

Di satu sisi Bangsa-Bangsa Barat maju dari segi iptek, namun kehidupan akhlak, moral dan spirituanya mengalami kemerosotan. Sayangnya Bangsa Timur justru terpengaruh Bangsa Barat dalam pola berpikir materialis. Sehingga kurang mempertimbangkan aspek non fisik ini.

POLLING / JAJAK PENDAPAT : MENURUT ANDA FENOMENA MENGGELEMBUNGNYA DEMO 4 NOV INI KARENA APA? (BERGUNA BAGI PIHAK YANG TERTARIK INGIN MEMAHAMI FENOMENA SOSIAL INI)

This polling about 4 november action / demonstration will usefull for anyone who curious ini this social phenomenon. Lots of analysis have written only based on prejudice and subjective opinion. So we also curios to understand what people says about this phenomenon. So don’t be hasitate to fill the polling
Polling / jajak pendapat ini berguna bagi siapa saja yang tertarik ingin memahami fenomena sosial ini, karena banyak yang mencoba menganalisanya dan kemudian mereka-reka sendiri dengan opini subyektif pikirannya sendiri kemudian salah memahami fenomena ini. Kami pun ingin tahu ada apa sebenarnya dalam pikiran masyarakat.

ADA APA DENGAN 4 NOVEMBER?

mereka-tidak-mengerti

Bukan ada apa dengan cinta. Tapi ada apa dengan 4 November? Fenomena ini menjadi topik hangat yang dibahas di berbagai media cetak dan elektronik arus utama di manca negara. Mereka mencoba menganalisa mengapa fenomena Ahok ini sampai menggelembung sedemikian besarnya?

Membaca berbagai analisa terkait fenomena betapa cepat dan betapa menggelembungnya ajakan untuk demo 4 November soal Ahok ini, ternyata di situ saya bisa melihat banyak yang tidak bisa menangkap esensi dari persoalan ini.

Ternyata banyak orang yang gagal memahami , fenomena ini. Karena memang pemahaman mereka berbeda dengan pelaku-pelaku demo ini. Banyak orang yang gagal merasakan persoalan ini. Karena memang perasaan mereka tidak bisa merasakan apa yang dirasakan pelaku-pelaku demo ini. Ketidakpahaman mereka berbanding lurus dengan siapa diri mereka.

Analisa mereka mencerminkan siapa diri mereka. Ketika ia tidak bisa memahami, menunjukkan memang mereka tidak satu pemahaman. Ketika mereka gagal merasakan, menunjukkan mereka memang tidak satu perasaaan. Sehingga bermuara pada satu kesimpulan “Mereka memang tidak mengerti”.

Ada yang mengatakan bahwa menggelembungnya persoalan Ahok ini karena ada pihak yang melakukan “propaganda yang masif” – logika “propaganda yang masif” ini diamini dan dipakai berulang-ulang oleh pihak-pihak yang setuju dengan premis ini—bahkan disamakan dengan propaganda ISIS. Konon katanya ISIS memiliki 50.00 akun twiter palsu. Dan dalam 1 minggu output ISIS muncul dalam 261 media dalam 6 bahasa. Ck..ck..ck…Rasanya demo 4 Nov tidak secanggih itu, akun-akun yang mengganti DP dengan tulisan Al-Maidah : 51 asli semua, karena kami mengenal orangnya. Bukannya yang canggih canggih seperti itu kerjaannya CIA dan Mossad? Bukannya yang gemar bikin akun-akun palsu itu kerjaannya Jasmev?

Ada yang mengatakan orang yang berdemo ini berotak kerdil. Ada yang mengatakan ternyata propaganda kehidupan akhirat lebih menakutkan daripada kehidupan dunia. Bagi orang ini, memang kehidupan akhirat tidak menakutkan. Mungkin dia tidak percaya surga dan neraka. Kehidupan akhirat pun disebut propaganda. Untung saja ia tidak menuduh Allah lah yang melakukan propaganda mengenai kehidupan akhirat. Ck..ck..ck..jangan-jangan kalian tidak percaya surga dan neraka?

Ada yang melecehkan bahwa orang yang berdemo ini dibayangi fantasi bermain seks dengan 72 bidadari surga. Ada yang mengatakan karena dibiayai Prabowo, dibiayai SBY puluhan milyar. Sehingga bermuara pada satu kesimpulan “Mereka memang tidak mengerti”. Ck..ck..ck..segitu picik-nya-kah kalian?

Sebetulnya sederhana saja menganalisanya. Yaitu dengan cara bertanya dan berandai-andai. Andai…Andaikan..Misalkan…yang menjadi isu bukan Al-Maidah : 51, walaupun dengan propaganda masif didanai 10 milyar? Apakah akan menjadi sebesar ini?

Andai…Andaikan..Misalkan…yang menjadi isu adalah penggusuran pedagang kecil..tidak berpihak pada rakyat keci walaupun dengan propaganda masif didanai 100 milyar? Disebarkan masif melalui medsos, Apakah hasilnya akan menjadi sebesar ini?

Andai…Andaikan..Misalnya…yang menjadi isu adalah seorang Bupati bicara taik lu! Goblok lu!..lalu isu ini diekspose besar-besaran, diback-up dengan propaganda masif didanai 1.000 Milyar ?  Apakah orang-orang akan bersedia mengganti DP dan Profile di Facebooknya dengan “meme” bertuliskan Taik lu .. Goblok lu?

Andai…Andaikan..Misalkan…yang menjadi persoalan adalah seorang Menteri kedapatan memimpin rapat sambil menenggak bir!..lalu isu ini diekspose besar-besaran, diback-up dengan propaganda masif didanai 1 Trilyun? Apakah akan datang berdemo dari berbagaai penjuru tanah air?”

Mereka mengatakan ini semua adalah sebagai hasil “Power of Propaganda”. Mereka mengatakan “betapa dahsyatnya medsos”. Mereka mengatakan “betapa dahsyatnya dana Prabowo” Mereka mengatakan “betapa kecilnya otak para pendemo” Mereka mengatakan “betapa dahsyat ketakutan akan hari akhirat” Mereka mengatakan : “betapa menggiyurkan nya propaganda 72 bidadari” Ck..ck..ck….

Kesimpulannya : mereka memang tidak paham karena tidak sepaham. Mereka tidak merasakan karena tidak satu perasaan. Dan yang seperti ini banyak.

Seperti surat –konon perwira TNI yang sedang di Malaysia alumniAkabri laut 82 Apa bener? Apa iya? Entahlah– tapi ia berhasil memahami fenomena ini berhasil merasakan. Ia menyatakan ini adalah power of Al-Qur’an. Ini adalah power of Allah.

Tanpa perlu biaya besar mereka, tak perlu membayari pulsa, tidak perlu mendanai nasi bungkus, tak perlu ngasi ongkos kopaja, tanpa komando, serentak rela mengganti DP-DP mereka, serentak mengganti Gambar Profile mereka..padahal mereka ini ada yang sholatnya masih belang bentong, padahal ada yang masih waktu adzan masi main catur. Tapi mereka semua tergerak ketika yang dinistakan adalah Al-Qur’an.

Persoalannya bukan soal Habib Rizieq atau FPI karena orang yang rela mengganti DP-DP dan mengganti Gambar Profile ini kemarinnya adalah orang yang membenci FPI.

Persoalannya bukan soal Ahook atau Aseng, karena orang yang rela mengganti DP-DP dan mengganti Gambar Profile ini kemarinnya pendukung Ahok dan sampai sekarang masih bekerja pada Aseng.

Persoalannya bukan karena gubernur atau kondektur. Persoalannya bukan karena momentum pilkada atau pil koplo. Persoalannya adalah karena yang dinistakan adalah Al-Qur’an.
Tak butuh Prabowo atau SBY. Tidak perlu dana milyaran, karena rakyat spontan bikin dapur umum di Condet. Silakan diboikot BBM silakan diboikot mobil-mobil bis dan kopaja, karena rakyat spontan merelakan mengantar pendemo.

Kesimpulannya : mereka memang tidak paham karena tidak sepaham. Mereka tidak bisa merasakan karena tidak satu perasaan. Dan yang seperti ini banyak.

Pakailah Nurani mu..ada apa ini? Dunia mulai merasakan getaran Energy surat Almaidah..

Ini fakta..Sabang sampai Marauke..mulai terasa tanpa komando..perintah apalagi Korlap dan Provokator.. demikian kata alumni Akabri laut 82 — Apa bener? Apa iya?– Entahlah– tapi ia berhasil memahami fenomena ini

Bagaimana dengan Anda Mr. Presiden? “Demo memang hak rakyat”. Sudah? Sampai disitu saja? Akankah Anda merasakan? Tidakkah Anda paham?

Kesimpulannya : mereka memang tidak paham karena tidak sepaham. Mereka tidak bisa merasakan karena tidak seperasaan. Maka bagimu amalanmu dan bagiku amalanku. Biarlah Allah dan Malaikat yang menilainya

Wallahu’alam

Abu Akmal Mubarok

APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA = PEMIMPIN? (JILID 4)

TAFSIR AYAT YANG MEMUAT KATA AULIYA (SAMBUNGAN)

abbasiyah-07

Pada jilid ke-4 ini sampailah kita pada ayat yang disebut-sebut oleh Ahok, sampai terjadi pro kontra di masyarakat. Mari kita lihat apa menurut kitab-kitab tafsir :

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 51 & 55, 56

Q.S. Al-Maidah [5] yang disebut-sebut dalam pernyatakan ahok harus dilihat dari ayat 51 s/d 56 karena merupakan satu rangkaian pembiccaraan yang saling terkait, sehingga harus ditafsirkan bersamaan

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya (mu); sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Q.S.Al-Maidah [5] : 51)

Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (Q.S.Al-Maidah [5] : 55)

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi walinya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang (Q.S. Al-Maidah [5] : 56)

As-Samarqandi  ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan asbabun nuzul ayat ini bahwa ketika Nabi s.a.w berhijrah ke Madinah, Beliau didatangi oleh Bani Asad bin Khuzaimah. Mereka berjumlah tujuh ratus orang, laki-laki dan perempuan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah diasingkan dan diputus dari kabilah dan keluarga kami. Lalu siapakah yang menolong kami?” Kemudian turunlah ayat ini (tafsir Bahr Al-‘Ulum, Jilid 1 Hal. 445)

Abu Hayyan Al-Andalusi ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan , kata al-waliyy dalam (Q.S.Al-Maidah [5] : 55) berarti an-nashir (penolong), al-mutawalli al-amr (yang mengurusi perkara), atau al-muhibb (yang mencintai).(Tafsir Al-Bahr al-Muhith, Jili . 3 Hal. 524)

Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa di sini Allah menyebut wali bagi orang beriman ada tiga yaitu Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin. Walaupun ada 3, namun Allah menyebutnya dengan bentuk tunggal yaitu “waliyukum” dan bukan dengan bentuk jamak “auliyaukum”. (Tafsir Al-Kasysyaf, Jilid 1 Hal. 635)

Al-Qasimi menjelaskan ayat ini bahwa walaupun ada tiga komponen, namun semuanya berpangkal kepada satu yaitu berwalikan Allah saja. Artinya siapa yang memilih RasulNya dan orang beriman menjadi walinya, adalah bagian dari menjadikan Allah sebagai walinya. (Mahasin At-Ta’wiil, Jilid . 4, Hal. 175)

Hal ini berbeda ketika Allah menyebut larangan jangan mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, yaitu  menggunakan bentuk jamak auliya. Mengapa? Karena pada dasarnya pemimpin orang kafir itu bukan hanya satu dan tidak pula menginduk kepada satu pihak. (Al-Ajili, Al-Futuhat Al-Ilaahiyyah, Jilid  2, Hal. 256)

Mengapa tiga hal yang dijadikan wali yaitu Allah, RasuNya dan orang-orang  mukmin pada pokoknya bermuara pada satu pihak? Dijelaskan oleh Nizamuddin An-Naishaburi karena Allah adalah “ashal” (titik pangkal dari semua perwalian) sementara wali-wali yang lain (yaitu Rasul dan orang beriman) hanyalah sebagai ittiba’ (ikutan/derivatif) (Tafsir Ghara’ib Al-Qur’an,Jilid 2, Hal. 205).

Maka dalam ayat lain, ketiga komponen itu disebutkan hanya satu saja, yaitu Allah saja sebagai wali orang-orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah : 257. Oleh karena itu mengangkat Gubernur, Menteri atau Wazir ,Presiden atau Khalifah dari kalangan mukmin adalah implementasi (penerapan) dari menjadikan “orang beriman” sebagai wali, sedangkan itu merupakan bagian dari menjadikan Allah sebagai wali.

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 57

Hai orang-orang yang beriman, janganlah orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)dijadikan sebagai auliya. (Q.S. Al-Maidah [5] : 57)

As Sa’di menjelaskan: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang yang menjadikan agama sebagai ejekan dan permainan. Siapakah mereka itu? Yaitu ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang pernah diberik kitab. Orang mukmin dilarang menjadikan mereka ini sebagai auliya. Yaitu sebagai pihak  yang dicintai dan yang diserahkan loyalitas padanya. Juga larangan memaparkan kepada mereka rahasia-rahasia kaum mu’minin juga larangan meminta tolong pada mereka pada sebagian urusan yang bisa membahayakan kaum muslimin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jika pada diri seseorang itu masih ada iman, maka konsekuensinya ia wajib meninggalkan loyalitas kepada orang kafir. Dan menghasung mereka untuk memerangi orang kafir” (Tafsir As Sa’di, Hal. 236)

Siapakah orang yang ejek dan mengolok-olok agama? Salah satunya adalah orang munafik.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Q.S. At-Taubah [9] : 65)

Siapakah mereka di sini? Hal itu bisa kita lihat pada ayat sebelumnya, yaitu Allah sedang membicaraan kelakuan orang munafik :

Orang-orang yang munafik itu…. (Q.S. At-Taubah [9] : 64)

Orang semacam ini tidak boleh diangkat sebagai wali atau auliya. Orang seperti ini tidak layak dipercaya dan diberi mandat. Jangankan diangkat sebagai auliya, duduk bersama mereka pun tidak boleh, yaitu ketika mereka memperolok ayat Al-Qur’an, apalagi mengangkatnya menjadi pemimpin.

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zholim itu sesudah teringat (akan larangan ini). (Q.S. Al-An’aam [6] : 68)

 

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 80-81

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (Q.S. Al Maidah [5]: 80)

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi auliya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” (Q.S. Al Maidah [5]: 81)

Ath Thahawi menjelaskan makna ayat ini: “Andaikan sebagian orang dari Bani Israil yang loyal terhadap orang kafir itu mereka benar-benar mengimani Allah dan mentauhidkan-Nya, juga benar-benar mengimani Nabi-Nya s.a.w. sebagai Rasul yang diutus oleh Allah, serta lebih mempercayai apa yang ia bawa dari Allah daripada petunjuk yang lain, maka mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat dan penolong padahal ada orang-orang Mu’min. Namun dasarnya mereka itu adalah orang-orang yang gemar membangkang perintah Allah menujuk maksiat, serta gemar menganggap halal apa yang Allah haramkan dengan lisan dan perbuatan mereka” (Tafsir Ath Thabari, Jiid 10 Hal 498).

Imam Mujahid  menafsirkan bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum munafik (Tafsir Ath Thabari, Jilid 10 Hal. 498).

Ibnu Katsir menjelaskan kalimat niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi auliya,yaitu sekiranya mereka beriman dengan sesungguhnya kepada Allah, RasulNya dan Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan terjerumus menjadikan orang kafir menjadi penolong-penolong mereka serta memusuhi orang beriman. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 Hal. 609)

Siapa yang dimaksud dengan kata ganti “mereka” di sini? Imam Mujahid mengatakan mereka adalah orang-orang munafik. Kebanyakan mereka ber-wala (berpihak atau loyal atau tolong menolong) dengan orang kafir. Keika menjelaskan kalimat “amat buruk lah..” Ibnu Katsir mengatakan : keburukan itu yaitu berpihak kepada orang kafir dan meninggalkan orang mukmin. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 Hal. 606)

 

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 3

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti auliya selain-Nya” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 3)

Terkait ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan : janganlah kalian menyimpang dari apa yang telah disampaikan Rasul kepada kalian dengan menempuh jalan lainyang akhirnya menyebabkan kalian menyimpang dari hukum Allah (Tafsir Ibnu Katsir Jilid Juz 8 Hal 229)

Imam Baghowi terkait ayat di atas menjelaskan bahwa maksudnya jangan menjadikan selain golonganmu sebagai pemimpin karena nantinya akan mengajak kamu untuk bermaksiat kepada Allah (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 213)

Imam Qurtubi menjelaskan, apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dalam firman Allah  Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (Q.S. Al-Hasyr [59] : 7) Yaitu perintah Nabi  terhadap  umatnya. Baik untuk urusan seluruh manusia dan selainnya. Misalnya mengikuti agama Islam dan Al-Qur’an , ikuti baik yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Mengikuti perintahnya dan hindari larangannya. Menunjuk pada ayat selanjutya tentang larangan untuk mengikuti, telah jelas nash nya.  Allah berfirman : wa laa tattabi’uu min dunihi auliyaa-a (jangan kamu ikuti) yaitu dari selain golongan mu, dan dari selainNya dan  Karena akan mengajak berpaling dari kesucian Rabb. Dan maknanya : Jangan beribadah kepada selainNya. Dan jangan ikuti terhadap siapa yang menjadikan mereka auliya. Dari Malik bin Dinar ketika membaca ayat “tattabi’uu min duunih auliyaa-a” berkata bahwa maksudnya jangan sekali-kali mengajari dan minta ditolong ( orang kafir). (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Jilid 9 Hal 105-106)

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 27 & 30

Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu auliya bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-A’raaf [7] : 27)

Setan bisa menjadi auliya. Pengertian auliya dalam ayat ini adalah pemberi petunjuk dan orang yang diikuti, dijadikan guru dan panutan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memperingatkan anak Adam agar waspada terhadap Iblis dan teman-temannya karena Iblis itu musuh bebuyutanbapak seluruh manusia yaitu Nabi Adam a.s. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8, Hal. 273)

Imam Qurthubi ketika menjelaskan kalimat Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu auliya bagi orang-orang yang tidak beriman : yaitu sebagai tambahan hukuman dan kami samakan di antara mereka dalam urusan kebenaran (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Qurthubi Jilid 9, Hal. 189)

Baghowi menjelaskan yang dimaksud auliya-a bai orang tidak beriman adalah syaitan itu menjadi kawan dan penolong orang tidak beriman. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 224)

Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan sebagai auliya selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Q.S. Al-A’raaf [7] : 30)

Ibnu Jarir menyatakan bahwa ayat di atas merupakan dalil yang jelas kekeliruan orang yang meyakini bahwa Allah tidak akan meng-adzab seseorang karena kemaksiatan yang dikerjakan atau kesesatan yang diyakininya, melainkan bila ia melakukan sesudah ada pengetahuan darinya yang membenarkan sikapnya itu. Bila demikian tentu tidak ada bedanya orang yang mengira dirinya mendapat petunjuk dengan orang yang benar-benar mendapat petunjuk. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 10 Hal. 286)

Baghowi menjelaskan ayat di atas menjelaskan ayat di atas, mengutip hadits dri Abu Sufyan dari Jabir bin Abdullah Rasululah s.a.w. bersabda diutus kepada setiap manusia apa yang ditetapkan baginya, orang mukmin dengan iman, orang kafir dengan kekufurannya. Kata ganti mereka di sini adalah orang yang tidak beriman sebagaimana di ayat 27. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 224)

 

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 196

Sesungguhnya waliku  ialah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia menjadi wali  orang-orang yang saleh (Q.S.Al-A’raaf [7] : 196)

Jalalluddin Al-Mahalli dan Jalalluddin As-Suyuthi menafsirkan  “Sesungguhnya waliku ialah (dia) Yang telah menurunkan Al Kitab (Al-Quran)(yaitu Allah) dan Dia me-wali-i orang-orang yang saleh (Q.S.Al-A’raaf [7] : 196), wali disini maksudnya pemimpin mereka. Juga ketika menafsirkan  (Tafsir Jalalain, Darul Hadits, Kairo, Jilid 1 Hal. 225).

Terkait ayat di atas, Imam Qurtubi menjelaskan : waliku maksudnya adalah penolongku dan pelindungku, pemeliharaku adalah Allah. Yang mencegah dari hal-hal yang mudharat. Kitab di sini maksudnya adalah Al-Qur’an. Dan terkait kalimat Dia me-wali-i orang-orang yang saleh, maka wali di sini  maksudnya adalah pelindung. Hadits shahih Muslim dari Amru bin Al-Ash r.a. berkata saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : nyatakanlah jangan dirahasiakan Kemudian seseorang berseru : “Sesungguhnya wali kami adalah Allah dan orang mukmin yang sholeh”. Ada juga yang membacanya “Yang telah menurunkan Al-Kitab” yaitu jibril. Ini adalah qiraah Ashim Al-Jahdari (namun cara qiraah ini dinyatakan dlo’if). Sedangkan qiroah awal menyatakan ditulis wahuwa yatawalla sholihiin. (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Al-Qurtubi Jilid 9 Hal 417)

Baghowi menjelaskan yang dimaksud Al-Kitab pada ayat tersebut adalah Al-Qur’an, Auliya di sini menganggap sebagai pelindungku, penolongku sebagaimana Dia  mendukungku dengan menurunkan Kitab (sebagai petunjuk bagiku). Ketika menjelaskan kalimat Dia me-wali-i orang-orang yang saleh : Berkata Ibnu Abbas r.a. ketahuilah barangsiapa kalian tidak menyekutukan Allah, maka Allah akan membela mereka dengan pertolongannya, maka tidak akan membahayakan kalian, permusuhan orang yang memusuhi. Inilah yang dimaksud orang yang sholeh yaitu yang tidak menyekutukan Allah. Dan orang seperti ini berhak mendapat wala/perwalian yaitu pembelaan dari Allah. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghawi Jilid 9 Hal. 315)

BERSAMBUNG JILID 5