APAKAH BENAR KOMUNIS TIDAK KEJAM? FAKTA SEJARAH BERBICARA

Advertisements

ADA APA DENGAN 4 NOVEMBER?

mereka-tidak-mengerti

Bukan ada apa dengan cinta. Tapi ada apa dengan 4 November? Fenomena ini menjadi topik hangat yang dibahas di berbagai media cetak dan elektronik arus utama di manca negara. Mereka mencoba menganalisa mengapa fenomena Ahok ini sampai menggelembung sedemikian besarnya?

Membaca berbagai analisa terkait fenomena betapa cepat dan betapa menggelembungnya ajakan untuk demo 4 November soal Ahok ini, ternyata di situ saya bisa melihat banyak yang tidak bisa menangkap esensi dari persoalan ini.

Ternyata banyak orang yang gagal memahami , fenomena ini. Karena memang pemahaman mereka berbeda dengan pelaku-pelaku demo ini. Banyak orang yang gagal merasakan persoalan ini. Karena memang perasaan mereka tidak bisa merasakan apa yang dirasakan pelaku-pelaku demo ini. Ketidakpahaman mereka berbanding lurus dengan siapa diri mereka.

Analisa mereka mencerminkan siapa diri mereka. Ketika ia tidak bisa memahami, menunjukkan memang mereka tidak satu pemahaman. Ketika mereka gagal merasakan, menunjukkan mereka memang tidak satu perasaaan. Sehingga bermuara pada satu kesimpulan “Mereka memang tidak mengerti”.

Ada yang mengatakan bahwa menggelembungnya persoalan Ahok ini karena ada pihak yang melakukan “propaganda yang masif” – logika “propaganda yang masif” ini diamini dan dipakai berulang-ulang oleh pihak-pihak yang setuju dengan premis ini—bahkan disamakan dengan propaganda ISIS. Konon katanya ISIS memiliki 50.00 akun twiter palsu. Dan dalam 1 minggu output ISIS muncul dalam 261 media dalam 6 bahasa. Ck..ck..ck…Rasanya demo 4 Nov tidak secanggih itu, akun-akun yang mengganti DP dengan tulisan Al-Maidah : 51 asli semua, karena kami mengenal orangnya. Bukannya yang canggih canggih seperti itu kerjaannya CIA dan Mossad? Bukannya yang gemar bikin akun-akun palsu itu kerjaannya Jasmev?

Ada yang mengatakan orang yang berdemo ini berotak kerdil. Ada yang mengatakan ternyata propaganda kehidupan akhirat lebih menakutkan daripada kehidupan dunia. Bagi orang ini, memang kehidupan akhirat tidak menakutkan. Mungkin dia tidak percaya surga dan neraka. Kehidupan akhirat pun disebut propaganda. Untung saja ia tidak menuduh Allah lah yang melakukan propaganda mengenai kehidupan akhirat. Ck..ck..ck..jangan-jangan kalian tidak percaya surga dan neraka?

Ada yang melecehkan bahwa orang yang berdemo ini dibayangi fantasi bermain seks dengan 72 bidadari surga. Ada yang mengatakan karena dibiayai Prabowo, dibiayai SBY puluhan milyar. Sehingga bermuara pada satu kesimpulan “Mereka memang tidak mengerti”. Ck..ck..ck..segitu picik-nya-kah kalian?

Sebetulnya sederhana saja menganalisanya. Yaitu dengan cara bertanya dan berandai-andai. Andai…Andaikan..Misalkan…yang menjadi isu bukan Al-Maidah : 51, walaupun dengan propaganda masif didanai 10 milyar? Apakah akan menjadi sebesar ini?

Andai…Andaikan..Misalkan…yang menjadi isu adalah penggusuran pedagang kecil..tidak berpihak pada rakyat keci walaupun dengan propaganda masif didanai 100 milyar? Disebarkan masif melalui medsos, Apakah hasilnya akan menjadi sebesar ini?

Andai…Andaikan..Misalnya…yang menjadi isu adalah seorang Bupati bicara taik lu! Goblok lu!..lalu isu ini diekspose besar-besaran, diback-up dengan propaganda masif didanai 1.000 Milyar ?  Apakah orang-orang akan bersedia mengganti DP dan Profile di Facebooknya dengan “meme” bertuliskan Taik lu .. Goblok lu?

Andai…Andaikan..Misalkan…yang menjadi persoalan adalah seorang Menteri kedapatan memimpin rapat sambil menenggak bir!..lalu isu ini diekspose besar-besaran, diback-up dengan propaganda masif didanai 1 Trilyun? Apakah akan datang berdemo dari berbagaai penjuru tanah air?”

Mereka mengatakan ini semua adalah sebagai hasil “Power of Propaganda”. Mereka mengatakan “betapa dahsyatnya medsos”. Mereka mengatakan “betapa dahsyatnya dana Prabowo” Mereka mengatakan “betapa kecilnya otak para pendemo” Mereka mengatakan “betapa dahsyat ketakutan akan hari akhirat” Mereka mengatakan : “betapa menggiyurkan nya propaganda 72 bidadari” Ck..ck..ck….

Kesimpulannya : mereka memang tidak paham karena tidak sepaham. Mereka tidak merasakan karena tidak satu perasaan. Dan yang seperti ini banyak.

Seperti surat –konon perwira TNI yang sedang di Malaysia alumniAkabri laut 82 Apa bener? Apa iya? Entahlah– tapi ia berhasil memahami fenomena ini berhasil merasakan. Ia menyatakan ini adalah power of Al-Qur’an. Ini adalah power of Allah.

Tanpa perlu biaya besar mereka, tak perlu membayari pulsa, tidak perlu mendanai nasi bungkus, tak perlu ngasi ongkos kopaja, tanpa komando, serentak rela mengganti DP-DP mereka, serentak mengganti Gambar Profile mereka..padahal mereka ini ada yang sholatnya masih belang bentong, padahal ada yang masih waktu adzan masi main catur. Tapi mereka semua tergerak ketika yang dinistakan adalah Al-Qur’an.

Persoalannya bukan soal Habib Rizieq atau FPI karena orang yang rela mengganti DP-DP dan mengganti Gambar Profile ini kemarinnya adalah orang yang membenci FPI.

Persoalannya bukan soal Ahook atau Aseng, karena orang yang rela mengganti DP-DP dan mengganti Gambar Profile ini kemarinnya pendukung Ahok dan sampai sekarang masih bekerja pada Aseng.

Persoalannya bukan karena gubernur atau kondektur. Persoalannya bukan karena momentum pilkada atau pil koplo. Persoalannya adalah karena yang dinistakan adalah Al-Qur’an.
Tak butuh Prabowo atau SBY. Tidak perlu dana milyaran, karena rakyat spontan bikin dapur umum di Condet. Silakan diboikot BBM silakan diboikot mobil-mobil bis dan kopaja, karena rakyat spontan merelakan mengantar pendemo.

Kesimpulannya : mereka memang tidak paham karena tidak sepaham. Mereka tidak bisa merasakan karena tidak satu perasaan. Dan yang seperti ini banyak.

Pakailah Nurani mu..ada apa ini? Dunia mulai merasakan getaran Energy surat Almaidah..

Ini fakta..Sabang sampai Marauke..mulai terasa tanpa komando..perintah apalagi Korlap dan Provokator.. demikian kata alumni Akabri laut 82 — Apa bener? Apa iya?– Entahlah– tapi ia berhasil memahami fenomena ini

Bagaimana dengan Anda Mr. Presiden? “Demo memang hak rakyat”. Sudah? Sampai disitu saja? Akankah Anda merasakan? Tidakkah Anda paham?

Kesimpulannya : mereka memang tidak paham karena tidak sepaham. Mereka tidak bisa merasakan karena tidak seperasaan. Maka bagimu amalanmu dan bagiku amalanku. Biarlah Allah dan Malaikat yang menilainya

Wallahu’alam

Abu Akmal Mubarok

APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA = PEMIMPIN (JILID 3)

TAFSIR AYAT-AYAT YANG MEMUAT KATA AULIYA / WALI (SAMBUNGAN)

abbasiyah-06

Seperti disampaikan pada tulisan sebelumnya, banyak ayat Al-Qur’an yang memuat kata “auliya” atau “wali” disertai dengan larangan menjadikan orang kafir sebagai “auliya” atau “wali”. Berikut ini lanjutannya :

Tafsir Q.S. Ali Imran [3] : 118

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi auliya (teman kepercayaanmu) orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. (Q.S.Ali-Imran [3] : 118)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 118 menjelaskan Allah melarang hamba-hambaNya yang mukmin mengambil orang munafiksebagai teman kepercayaan dengan menceritakan rahasia kaum muslim kepada mereka. Karena kata “bithonah” artinya teman dekat yang mengetahui segala rahasia pribadi. Dunikum orang yang diluar kalangan kalian maksudnya adalah kalangan yang tidak seagama. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 Hal. 104)

Imam Suyuthi ketika membahas Q.S. Ali Imran : 118 mengutip hadits dari Ibnu Syaiban dan Abu Hatim, dari Abud Dihqanah yang menceritakan” bahwa pernah dilaporka kepada Khalifah Umar bin Khattab r.a. “Sesungguhnya di sini terdapa pelayan dari penduduk  Al-Hairah yang ahli dalam pembukuan dan surat menyurat, bagaimanakah jika engkau mengambilnya sebagai juru tulismu? Maka Khalifah Umar bin Khattab r.a. menjawab : Kalau begitu , berarti aku mengambil teman kepercayaan selain dari kalangan orang mukmin” (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 738)

Ibnu Katsir juga memuat Atsar Umar bin Khattab melarang merekrut pegawai Nasrani sebagai penerapan dari ayat ini. kemudian menjelaskan : Atsar di atas merupakan dalil yang menunjukkan tidak boleh mengambil orang kafir dalam kedudukan sebagai sekretaris dan kedudukan lain yang menyebabkan ia mengetahui rahasia kaum muslimin. (Tafsir Ibnu Katir Jilid 4 Hal. 106)

Lebih lanjut Ibnu Katsir mengutip hadits dari Abu Ya’la yang meriwayatkan dari Al Azhar Ibnu Rasyid datang kepada Anas r.a. yang menceritakan sebuah hadits : “bahwa Nabi s.a.w. bersabda : Janganlah kalian meminta penerangan dari api kaum musyrik.. mereka tidak mengerti makud kalimat Raulullah s.a.w. tersebut kemudian datang kepada Al-Hasan..maka Al-Hasan mengataka : “Janganlah kalian mengambil api penerangan dari kaum musyrik ialah janganlah meminta penerangan dari kaum musyrik terkait urusan kalian. Kemudian Al-Hasan mengatakan bahwa hal yang membenarkan hal tersebut berada dalam Kitabullah yaitu melalui firmanNya Q.S. Ali Imran [3] : 118” (H.R. Abu Ya’la)

Ath-Thabari ketika menjelaskan ayat ini mengutip Ibnu Abbas r.a. menjelaskan makna ayat ini: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang orang beriman untuk menjadikan orang kafir sebagai walijah (orang dekat, orang kepercayaan) sementara masih ada orang mu’min. Kecuali jika orang-orang kafir menguasai mereka (menjajah mereka), sehingga kaum mu’minin menampakkan kebaikan pada mereka namun tetap (dalam hatinya) menolak mereka dalam masalah agama. Inilah mengapa Allah Ta’ala berfirman: ‘kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka‘” (Tafsir Ath-Thabari, Jilid 3 Hal. 825).

 

Tafsir Q.S. An-Nisaa’ [4] : 89

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka sebagai auliya (mu), sampai mereka mau berhijrah ke jalan Allah (Q.S An-Nisa [4] : 89)

Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat di atas mengutip perkataan Al-Aufi dari Ibnu Abbas bahwa dahulu ada segolonan orang yang sudah masuk Islam, namun tidak mau ikut berhijrah ke Madinah memenuhi perintah Rasulullah s.a.w. dan tetap berada di Mekah. Kemudian ketika terjadi Perang Uhud antara kaum muslimin dengan Kafir Quraisy, maka sebagian orang Islam yang  masih ada di Mekah ini malah membantu kaum Musyrik Mekah.

Maka suatu ketika kaum ini pun keluar untuk berniaga. Maka reaksi sebagian kaum muslimin di Madinah terbagi menjadi 2 kelompok. Yang mengatakan : ‘Ayo kita kejar mereka dan kita bunuh mereka, karena mereka telah membantu musuh melawan kita” Karena menganggap mereka adalah pengkhianat. Sedangkan sebagian lagi tidak setuju membunuh mereka, karena mereka masih dianggap sesama kaum muslimin. Mereka berkata : “Maha Suci Allah apakah kalian akan membunuh suatu kaum yang pembicaraannya sama (maksudnya se-agama) hanya karena mereka tidak ikut hijrah, dan tidak mau meninggalkan rumah mereka?”

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? (Q.S An-Nisa [4] : 88)

Maka Allah menurunkan ayat yang menjelaskan bahwa mereka adalah kaum munafik, karena tidak mau berhijrah dan berperang di pihak kaum muslimin bahkan justru berpihak dan membantu kepada kaum musyrikin Mekah melawan umat Islam.

Maka Ibnu Katsir mengatakan menurut Al-Aufi dan Ibnu Abbas bahwa perkataan “supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah kafir, maksudnya adalah agar umat Islam yang di Madinah juga kembali ke Mekah dan menahan diri dari memerangi Musyrikin Mekah. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 hal. 357)

Maka orang seperti ini (yaitu munafik) jangan dijadikan auliya (yaitu dianggap sekutu atau kelompok orang beriman). Ibnu Katsir berkata wali di sini artinya adalah janganlah menjadikan mereka teman dan penolong dalam menghadapi musuh-musuh Allah selagi sikap mereka masih tetap tidak mau hijrah.

tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi waliyan (penolong), dan jangan (pula) menjadi nashiiron (penolong) (Q.S An-Nisa [4] : 88)

Imam Suyuthi ketika menafsirkan ayat ini mengutip sebuah hadits dari Abdurrahman bin Auf bahwa beberapa orang Arab datang kepada Rasulullah s.a.w. di Madinah. Lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa demam Madinah, karena itu mereka kembali kafir lalu mereka keluar dari Madinah. Kemudian mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah.

Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa demam Madinah. Sahabat-sahabat berkata: Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah? Sahabat-sahabat terbagi kepada dua golongan dalam hal ini. Yang sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sedang yang sebahagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini yang mencela kaum Muslimin karena menjadi dua golongan itu, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, karena mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain (H.R. Ahmad Jilid 3 Hal 203 No. 1667 Hadits ini dikatakan dlo’if karena dalam sanadnya ada Muhammad bin Ishaq yang dikenal mudalis) (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 4, Hal. 573)

Maka Allah membenarkan sikap kaum muslimin yang berpendapat untuk mengejar dan membunuh mereka karena mereka adalah pengkhianat walaupun mengaku sebagai muslim. Dan tidak boleh menjadikan orang seperti ini (pengkhianat Islam) sebagai wali (pelindung) dan sebagai nashir (penolong). Maka larangan menjadikan “auliya” di sini maksudnya dilarang menganggap mereka (yang berbalik membelot) sebagai golongan mukmin, sebagai kelompok mukmin, termasuk grup atau pendukung mukmin, padahal mereka berbalik mendukung kaum kafir. Maka hukuman pembelot dalam perang adalah dihukum mati.

Hukum bunuh ini tidak berlaku jika mereka telah menyerah dan kembali memihak ke kaum muslimin, atau meminta suaka ke kaum muslimin, atau bersikap tidak memerangi kaum muslimin (bukan kafir harbi) sebagaimana dalam ayat selanjutnya :

kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai),  atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu …(Q.S.An-Nisaa [4] : 90)

As Sa’di ketika menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Hal ini melazimkan tidak boleh ada kecintaan terhadap orang kafir, karena wilayah (loyalitas) adalah cabang dari mahabbah (kecintaan). Hal ini juga melazimkan kita untuk membenci dan memusuhi mereka (Karena orang kafir itu memusuhi Islam). Karena larangan terhadap sesuatu berarti perintah untuk melakukan kebalikannya. Dan perlakukan ini tidak berlaku jika mereka (orang kafir) ikut hijrah ke Madinah. Jika mereka ikut hijrah, maka mereka diperlakukan sebagaimana kaum muslimin (sebagai warga negara kaum muslimin) . Sebagaimana Nabi s.a.w. memperlakukan orang-orang yang ikut hijrah bersama beliau sebagaimana perlakuan beliau terhadap orang Islam. Baik mereka yang benar-benar mu’min lahir batin, maupun yang hanya menampakan keimanan secara zhahir. Dan jika mereka berpaling atau tidak mau berhijrah berlaku perintah, ‘tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya‘, maksudnya kapan pun dan dimana pun kau menemui mereka”. (Tafsir As Sa’di, Jilid 1 Hal. 191).

Namun As Sa’di menjelaskan 3 jenis orang kafir yang dikecualikan sehingga tidak diperangi berdasarkan ayat selanjutnya (namun tidak kita bahas panjang lebar di sini), mereka adalah:

  1. Orang-orang kafir yang meminta suaka atau menyerah kepada kaum muslimin, yang antara muslimin dan kaum itu diadakan perjanjian damai untuk tidak saling memerangi
  2. Orang-orang kafir yang tidak ingin memerangi kaum Muslimin dan juga tidak memerangi kaumnya, ia adalah penduduk sipil yang tidak terlibat perang.
  3. Orang-orang munafik yang menampakkan keimanan karena takut diperangi oleh kaum muslimin (yaitu masuk Islam karena terpaksa atau munafik pura-pura masuk Islam statusnya dianggap orang Islam) (Tafsir As Sa’di, Hal 191).

 

Tafsir Q.S. An-Nisaa’ [4] : 139

(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi auliya (sekutu/aliansi/ penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? (Q.S.An-Nisaa [4] : 139)

Ibnu Katsir ketika mengupas Q.S. An Nisa : 139 menyatakan : Allah menyebutkan sifat mereka (orang munafik ) yaitu mengambil  orang kafir sebagai pemimpin mereka selain orang mukmin. Dengan kata lain mereka (orang munafik itu) berpihak kepada orang kafir. Apabila kembali kepada orang kafir mereka (orang munafik itu) berkata “sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanya berolok-olok” (Yaitu dengan berpura-pura sependirian dengan orang mukmin). Dan mereka (orang munafik) itu bermaksud mencari kekuatan atau perlindungan orang kafir dengan cara menjadikan orang kafir itu sebagai aulianya. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 hal 570)

Siapa yang dimaksud orang munafik yang dihukumi sama dengan orang kafir pada ayat itu? Hal ini dijelaskan pada ayat sebelumnya, yaitu orang yang bolak balik murtad

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (Q.S. An-Nisaa [ 4] : 137)

Imam Suyuti ketika menjelaskan perkataan “wabtaghuun” Apakah kamu mencari kekuatan dari sisi orang kafir? Mengutip sebuah hadits dari Anas r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda suatu hari : Sesunguhnya kekuatan itu dari sisi Allah maka siapa yang beriman kepada hari akhir, ia akan mendapat kekuatan (H.R.Ad-Dailami dan Ibnu Asakir ) (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 5, Hal. 78)

Ayat di atas menyatakan bahwa sifat orang munafik yang bolak balik murtad (sebagaimana diterangkan ayat sebelumnya) lebih gemar memilih pemimpin dari kalangan orang kafir karena mengharapkan dukungan kekuatan dari mereka. Hal ini bersumber dari kelemahan iman orang munafirk itu yang hatinya kerdil dan pengecut. Atau karena kecenderungan dan pembelaannya kepada orang kafir. Ia kahwatir jika tidak membela orang kafir, dunianya akan hilang, peragangannya akan tidak lancar, dan alasan duniawi lainnya. Padahal kekuatan itu dari sisi Allah, dan Allah lebih memiliki kekuatan dibandingkan orang kafir.

 

Tafsir Q.S. An-Nisaa’ [4] : 144

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (Q.S.An-Nisaa [4] : 144)

Ketika menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah melarang hamba-hambanya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai teman dekat dan bukannya orang mukmin. Arti “wali” dalam ayat ini adalah berteman dengan mereka, setia dan ikhlas bersama mereka. Sedangkan maksud “meninggalkan orang mukmin (dunil mukminin) yaitu merahasiakan (kepada kaum muslimin) kecintaan dan sikap kasih sayang terhadap kaum kafir, serta (sebaliknya) membuka rahasia kaum muslimin kepada orang kafir. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 hal 595)

Imam Suyuti menjelaskan janganlah kamu ambil orang-orang kafir dan bukan orang-orang mukmin sebagai pelindung! (Tafsir Jalalain)

BERSAMBUNG JILID 4

APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA=PEMIMPIN? (JILID 2)

JILID 2 (SAMBUNGAN )

abbasiyah-02

Nusron Wahid membahas gonjang ganjing pernyataan Ahok mengatakan dalam acara ILC dari segi –katanya sih — “ilmu tafsir” yaitu bahwa kalau kita berhadapan dengan sebuah “teks” selalu multi tafsir. Kalau soal ini sih bener banget. Memang teks itu memungkinkan adanya multi tafsir. Tapi tidak berarti mentang-mentang multi tafsir, lantas bebas menafsirkan seenaknya, khususnya jika itu teks A-Qur’an. Ada kaidah untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Lebih lanjut Nusron Wahid menyataan bahwa yang paling tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri adalah Allah SWT bukan MUI. Karena Allah berfirman “Al-Haqqu mirobbik (kebenaran itu dari Allah)”. Ayat ini benar , namun tidak pas diterapkan pada persoalan menafsirkan Al-Qur’an. Maksud dari kalimat Al-Haqqu min Robbik adalah bahwa apa yang diturunkan dari Allah lah mutlak kebenaran nya.

Untuk apa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia jika hanya Allah saja yang tahu tafsirnya. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Maka percuma saja jika gara-gara Al-Qur’an multi tafsir lantas tidak layak kita jadikan pedoman hidup.

Bahwa memahami text Al-Qur’an memungkinkan terjadi multi tafsir itu ada benarnya. Namun tidak berarti bahwa text Al-Qur’an sangat luas maknanya sehingga tidak ada batasan sama sekali. Menafsirkan ayat Al-Qur’an ada kaidahnya. Sehingga tetap saja ada batasannya. Tidak boleh setiap orang dengan logikanya sendiri bebas menafsirkan ayat Al-Qur’an. Kita tetap bisa membedakan mana tafsiran yang benar dan mana tafsiran yang tanpa dasar.

Yang Paling Tahu Al-Qur’an adalah Allah, namun Allah mengutus RasulNya untuk menjelaskan kepada Manusia

Nusron Wahid menyataan bahwa yang paling tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri adalah Allah SWT. Itu benar. Namun Allah telah mengutus RasulNya untuk menjelaskan Al-Kitab yang diturunkan oleh Allah. Itulah salah satu fungsi Rasul. Oleh karena itu, disamping Allah, maka yang paling tahu tentang Al-Qur’an adalah Rasulullah s.a.w.

Selanjutnya, RasulNya mengajarkan kepada para sahabatnya dan para pengikutnya. Sebagian dari sahabat Rasul, hadir pada saat wahyu diturunkan. Demikian juga sebagian istri Rasulullah, menjadi saksi ketika wahyu diturunkan. Sehingga mereka adalah manusia-manusia yang paling tahu konteks tentang apa ayat Al-Qur’an itu diturunkan. Mereka adala orang yang paling mengerti apa yang dibicarakan dan apa yang dimaksudkan oleh ayat Al-Qur’an. Terkadang, Rasulllah s.a.w. menjelaskan maksud dari ayat tersebut. Terkadang mereka bertanya dan Rasulullah s.a.w. menjelaskan.

Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa maksud ayat ini adalah begini dan begitu. Atau sahabat bertanya apa arti dari suatu kata atau istilah yang tidak mereka pahami. Lalu Rasulullah s.a.w. menjelaskan arti kata tersebut.

Maka metoda menafsirkan dan memahami sebuah ayat Al-Qur’an, salah satunya mengacu pada penafsiran para sahabat. Ini harus dipriroitaskan ketimbang penafsiran manusia yang hidup setelah mereka.

Demikian pula selanjutnya, para sahabat mengajarkan kepada generasi tabi’in. Kemudian generasi tabi’in mengajarkan kepada generasi tabiut tabi’in. Kemudian generasi tabiut tabi’in mengajarkan kepada ulama-ulama generasi berikutnya. Maka dalam hal menafsirkan Al-Qur’an, kita harus mengedepankan penafsiran para ahli tafsir generasi terdahulu, dari kitab-kitab tafsir yang paling tua. Karena semakin dekat jaraknya dengan masa kehidupan Rasulullah s.a.w. niscaya akan semakin murni ilmunya dan masih terjaga dari distorsi pemikiran lainnya.

Maka berikut ini dalam beberapa tulisan bersambung akan kami sampaikan tafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat kata “auliya” berdafsarkan kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh generasi terdahulu :

Tafsir Q.S. Al-Baqarah [2] : 257

Allah adalah wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)...” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257)

Al-Qur’an menegasan bahwa wali / auliya hanyalah Allah, Rasul dan orang beriman. Maka pemimpin muslim masuk dalam pengertian orang beriman :

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat Q.S. Al-Baqarah : 257  mengartikan wali adalah penolong dan berkata : “Orang kafir yang menjadi penolongnya hanyalah setan. Setanlah yang menghiasi mereka dengan kebodohan dan kesesatan. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 Hal. 54)

Imam Al-Baidhowi (685 H) menafsirkan ayat Q.S. Al-Baqarah : 257  : Allah adalah wali orang beriman maksudnya adalah yang dicintai oleh mereka dan yang mengatur mereka (Tafsir Baidlowi Darul Fikr Beirut Jilid 1 Hal 558).

Ibnu  Jauzi (597 H) menafsirkan kata wali dalam ayat Allah adalah wali orang beriman maksudnya pengatur mereka, yang menuntun mereka dan mendukung mereka (Zad al-Masir fi ‘Ilm At-Tafsir, Darul Fikr Beirut Jilid 1 Hal 268).

Muhammad bin Ibrahim bin Ta’labi An-Naishaburi (427 H) “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pendukung mereka, dikatakan yang mereka cintai, dan dikatakan yang mengatur mereka. (Tafsir Al-Kasyaf wal Bayan, Ihya-u Ats-Tsurat Beirut, Jilid Hal. 237).

Imam Nasafi ketika menafsirkan “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pemimpin mereka (Tafsir An-Nasafi Jilid 1 Hal 199)

Muhammad bin Ibrahim Al-Kazan (725 H) “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pendukung mereka, dikatakan yang mereka cintai, dan dikatakan yang berhak mengatur mereka. (Al-Lubaab At-Ta’wil fii Ma’ani At-Tanzil, Darul Fikr, Jilid 1 Hal. 272).

Jalalluddin Al-Mahalli dan Jalalluddin As-Suyuthi menafsirkan  “Allah adalah wali orang-orang yang beriman.. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) yaitu pemimpin mereka. (Tafsir Jalalain, Darul Hadits Kairo, Jilid 1 Hal. 216).

Imam Suyuthi ketika menafsirkan Q.S. A-Baqarah: 257 menurut Ibnu Mundzir dan Thabrani mengutip perkataan Ibnu Abbas r.a. tentang ayat Allahuwaliyulladzina amanu yukhrijuhum minadzulumati ilan nuur (Allah adalah wali orang beriman yang mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya) : yang dibicaraakan adalah mereka para pengikut Nabi Isa yang kemudian beriman kepada Muhammad s.a.w. dan terkait ayat selanjutnya.. walladzina kafaru auliya-u-humut thogut yang dibicaraakan adalah mereka para pengikut Nabi Isa yang menolak beriman kepada Muhammad s.a.w. mereka adalah kafir. (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 202)

Tafsir Q.S. Ali Imran [3] : 28

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali  dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat… (Q.S.Ali-Imran [3] : 28)

Yang benar adalah Dalam Tafsir Al-Qurtubi ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28, dikutip hadits dari Ibnu Abbas  r.a. bahwa ayat tersebut (Q.S. Ali Imran : 28) turun terkait dengan Ubadah bin Tsamit Al-Anshori yang berencana berkoalisi dengan Yahudi dalam perang Ahzab (bukan perang Uhud). Ubdah berkata kepada Rasulullah s.a.w. : Wahai Rasulullah, saya memiiki dukungan 500 orang Yahudi, saya kira mereka bisa bergabung dalam pasukan kaum muslimin untuk menghadapi musuh. Maka kemudian turunlah ayat itu.

Sedangkan menurut Ath-Thabari, asbabun Nuzul ayat di atas adalah Al-Hajjaj bin Amr), yang mempunyai teman orang-orang Yahudi yaitu Ka’ab bin Al-Asyraf (pemuka Yahudi yang terkenal sebagai penafsir), Ibnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid kemudian ada beberapa sahabat (Rifa’ah bin Al-Mundzir, Abdullah bin Zubair dan Sa’ad bin Khattamah) yang berkata :”Jauhilah mereka dan kalian harus berhati-hati karena mereka nanti akan memberi fitnah kepada kalian tentang agama kalian dan kalian akan tersesatkan dari jalan kebenaran,  para sahabat yang laianya mengabaikan nasehat tersebut begitu saja, dan mereka masih tetap memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi dan bersahabat dengan mereka, maka turunlah ayat ini. (Tafsir Ath-Thabari Jilid 3, Hal. 228)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28 menjelaskan bahwa Allah melarang hambanya yang mukmin berpihak kepada orang kafir dan menjadikan mereka teman setia. Jadi wali di sini adalah teman setia. Kemudian Ibnu Katsir  menjelaskan bahwa ayat ini terkait dengan Q.S.Al-Mumtahanah [60] : 1 dimana jika orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai teman setia, nantinya akan membeberkan berita rahasia orang mukmin kepada orang kafir karena rasa kasih sayang, berarti ia telah meninggalkan orang mukmin. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 Hal 333)

Imam Suyuthi ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28 menyebukan dari Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas r.a.ketika Ibnu Umar pergi haji bersama rombongan Ka’ab bin Asraf dan Ibnu Abi Duqoiq ada sekelompok orang Anshor yang mengagungkan agama kafir kemudian  dikatakan hindarilah kumpulan orang Yahudi itu, dan jangan kalian agungkan agamanya . (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 505)

BERSAMBUNG JILID 3

TULISAN LAIN TERKAIT :
APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA=PEMIMPIN? (JILID 1 ) http://wp.me/p22fQF-oP