APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA = PEMIMPIN? (JILID 4)

TAFSIR AYAT YANG MEMUAT KATA AULIYA (SAMBUNGAN)

abbasiyah-07

Pada jilid ke-4 ini sampailah kita pada ayat yang disebut-sebut oleh Ahok, sampai terjadi pro kontra di masyarakat. Mari kita lihat apa menurut kitab-kitab tafsir :

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 51 & 55, 56

Q.S. Al-Maidah [5] yang disebut-sebut dalam pernyatakan ahok harus dilihat dari ayat 51 s/d 56 karena merupakan satu rangkaian pembiccaraan yang saling terkait, sehingga harus ditafsirkan bersamaan

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya (mu); sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Q.S.Al-Maidah [5] : 51)

Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (Q.S.Al-Maidah [5] : 55)

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi walinya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang (Q.S. Al-Maidah [5] : 56)

As-Samarqandi  ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan asbabun nuzul ayat ini bahwa ketika Nabi s.a.w berhijrah ke Madinah, Beliau didatangi oleh Bani Asad bin Khuzaimah. Mereka berjumlah tujuh ratus orang, laki-laki dan perempuan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah diasingkan dan diputus dari kabilah dan keluarga kami. Lalu siapakah yang menolong kami?” Kemudian turunlah ayat ini (tafsir Bahr Al-‘Ulum, Jilid 1 Hal. 445)

Abu Hayyan Al-Andalusi ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan , kata al-waliyy dalam (Q.S.Al-Maidah [5] : 55) berarti an-nashir (penolong), al-mutawalli al-amr (yang mengurusi perkara), atau al-muhibb (yang mencintai).(Tafsir Al-Bahr al-Muhith, Jili . 3 Hal. 524)

Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa di sini Allah menyebut wali bagi orang beriman ada tiga yaitu Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin. Walaupun ada 3, namun Allah menyebutnya dengan bentuk tunggal yaitu “waliyukum” dan bukan dengan bentuk jamak “auliyaukum”. (Tafsir Al-Kasysyaf, Jilid 1 Hal. 635)

Al-Qasimi menjelaskan ayat ini bahwa walaupun ada tiga komponen, namun semuanya berpangkal kepada satu yaitu berwalikan Allah saja. Artinya siapa yang memilih RasulNya dan orang beriman menjadi walinya, adalah bagian dari menjadikan Allah sebagai walinya. (Mahasin At-Ta’wiil, Jilid . 4, Hal. 175)

Hal ini berbeda ketika Allah menyebut larangan jangan mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, yaitu  menggunakan bentuk jamak auliya. Mengapa? Karena pada dasarnya pemimpin orang kafir itu bukan hanya satu dan tidak pula menginduk kepada satu pihak. (Al-Ajili, Al-Futuhat Al-Ilaahiyyah, Jilid  2, Hal. 256)

Mengapa tiga hal yang dijadikan wali yaitu Allah, RasuNya dan orang-orang  mukmin pada pokoknya bermuara pada satu pihak? Dijelaskan oleh Nizamuddin An-Naishaburi karena Allah adalah “ashal” (titik pangkal dari semua perwalian) sementara wali-wali yang lain (yaitu Rasul dan orang beriman) hanyalah sebagai ittiba’ (ikutan/derivatif) (Tafsir Ghara’ib Al-Qur’an,Jilid 2, Hal. 205).

Maka dalam ayat lain, ketiga komponen itu disebutkan hanya satu saja, yaitu Allah saja sebagai wali orang-orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah : 257. Oleh karena itu mengangkat Gubernur, Menteri atau Wazir ,Presiden atau Khalifah dari kalangan mukmin adalah implementasi (penerapan) dari menjadikan “orang beriman” sebagai wali, sedangkan itu merupakan bagian dari menjadikan Allah sebagai wali.

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 57

Hai orang-orang yang beriman, janganlah orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)dijadikan sebagai auliya. (Q.S. Al-Maidah [5] : 57)

As Sa’di menjelaskan: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang yang menjadikan agama sebagai ejekan dan permainan. Siapakah mereka itu? Yaitu ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang pernah diberik kitab. Orang mukmin dilarang menjadikan mereka ini sebagai auliya. Yaitu sebagai pihak  yang dicintai dan yang diserahkan loyalitas padanya. Juga larangan memaparkan kepada mereka rahasia-rahasia kaum mu’minin juga larangan meminta tolong pada mereka pada sebagian urusan yang bisa membahayakan kaum muslimin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jika pada diri seseorang itu masih ada iman, maka konsekuensinya ia wajib meninggalkan loyalitas kepada orang kafir. Dan menghasung mereka untuk memerangi orang kafir” (Tafsir As Sa’di, Hal. 236)

Siapakah orang yang ejek dan mengolok-olok agama? Salah satunya adalah orang munafik.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Q.S. At-Taubah [9] : 65)

Siapakah mereka di sini? Hal itu bisa kita lihat pada ayat sebelumnya, yaitu Allah sedang membicaraan kelakuan orang munafik :

Orang-orang yang munafik itu…. (Q.S. At-Taubah [9] : 64)

Orang semacam ini tidak boleh diangkat sebagai wali atau auliya. Orang seperti ini tidak layak dipercaya dan diberi mandat. Jangankan diangkat sebagai auliya, duduk bersama mereka pun tidak boleh, yaitu ketika mereka memperolok ayat Al-Qur’an, apalagi mengangkatnya menjadi pemimpin.

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zholim itu sesudah teringat (akan larangan ini). (Q.S. Al-An’aam [6] : 68)

 

Tafsir Q.S. Al-Maidah [5] : 80-81

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (Q.S. Al Maidah [5]: 80)

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi auliya, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” (Q.S. Al Maidah [5]: 81)

Ath Thahawi menjelaskan makna ayat ini: “Andaikan sebagian orang dari Bani Israil yang loyal terhadap orang kafir itu mereka benar-benar mengimani Allah dan mentauhidkan-Nya, juga benar-benar mengimani Nabi-Nya s.a.w. sebagai Rasul yang diutus oleh Allah, serta lebih mempercayai apa yang ia bawa dari Allah daripada petunjuk yang lain, maka mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat dan penolong padahal ada orang-orang Mu’min. Namun dasarnya mereka itu adalah orang-orang yang gemar membangkang perintah Allah menujuk maksiat, serta gemar menganggap halal apa yang Allah haramkan dengan lisan dan perbuatan mereka” (Tafsir Ath Thabari, Jiid 10 Hal 498).

Imam Mujahid  menafsirkan bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum munafik (Tafsir Ath Thabari, Jilid 10 Hal. 498).

Ibnu Katsir menjelaskan kalimat niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi auliya,yaitu sekiranya mereka beriman dengan sesungguhnya kepada Allah, RasulNya dan Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan terjerumus menjadikan orang kafir menjadi penolong-penolong mereka serta memusuhi orang beriman. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 Hal. 609)

Siapa yang dimaksud dengan kata ganti “mereka” di sini? Imam Mujahid mengatakan mereka adalah orang-orang munafik. Kebanyakan mereka ber-wala (berpihak atau loyal atau tolong menolong) dengan orang kafir. Keika menjelaskan kalimat “amat buruk lah..” Ibnu Katsir mengatakan : keburukan itu yaitu berpihak kepada orang kafir dan meninggalkan orang mukmin. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 Hal. 606)

 

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 3

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti auliya selain-Nya” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 3)

Terkait ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan : janganlah kalian menyimpang dari apa yang telah disampaikan Rasul kepada kalian dengan menempuh jalan lainyang akhirnya menyebabkan kalian menyimpang dari hukum Allah (Tafsir Ibnu Katsir Jilid Juz 8 Hal 229)

Imam Baghowi terkait ayat di atas menjelaskan bahwa maksudnya jangan menjadikan selain golonganmu sebagai pemimpin karena nantinya akan mengajak kamu untuk bermaksiat kepada Allah (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 213)

Imam Qurtubi menjelaskan, apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dalam firman Allah  Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (Q.S. Al-Hasyr [59] : 7) Yaitu perintah Nabi  terhadap  umatnya. Baik untuk urusan seluruh manusia dan selainnya. Misalnya mengikuti agama Islam dan Al-Qur’an , ikuti baik yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Mengikuti perintahnya dan hindari larangannya. Menunjuk pada ayat selanjutya tentang larangan untuk mengikuti, telah jelas nash nya.  Allah berfirman : wa laa tattabi’uu min dunihi auliyaa-a (jangan kamu ikuti) yaitu dari selain golongan mu, dan dari selainNya dan  Karena akan mengajak berpaling dari kesucian Rabb. Dan maknanya : Jangan beribadah kepada selainNya. Dan jangan ikuti terhadap siapa yang menjadikan mereka auliya. Dari Malik bin Dinar ketika membaca ayat “tattabi’uu min duunih auliyaa-a” berkata bahwa maksudnya jangan sekali-kali mengajari dan minta ditolong ( orang kafir). (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Jilid 9 Hal 105-106)

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 27 & 30

Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu auliya bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-A’raaf [7] : 27)

Setan bisa menjadi auliya. Pengertian auliya dalam ayat ini adalah pemberi petunjuk dan orang yang diikuti, dijadikan guru dan panutan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memperingatkan anak Adam agar waspada terhadap Iblis dan teman-temannya karena Iblis itu musuh bebuyutanbapak seluruh manusia yaitu Nabi Adam a.s. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8, Hal. 273)

Imam Qurthubi ketika menjelaskan kalimat Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu auliya bagi orang-orang yang tidak beriman : yaitu sebagai tambahan hukuman dan kami samakan di antara mereka dalam urusan kebenaran (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Qurthubi Jilid 9, Hal. 189)

Baghowi menjelaskan yang dimaksud auliya-a bai orang tidak beriman adalah syaitan itu menjadi kawan dan penolong orang tidak beriman. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 224)

Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan sebagai auliya selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (Q.S. Al-A’raaf [7] : 30)

Ibnu Jarir menyatakan bahwa ayat di atas merupakan dalil yang jelas kekeliruan orang yang meyakini bahwa Allah tidak akan meng-adzab seseorang karena kemaksiatan yang dikerjakan atau kesesatan yang diyakininya, melainkan bila ia melakukan sesudah ada pengetahuan darinya yang membenarkan sikapnya itu. Bila demikian tentu tidak ada bedanya orang yang mengira dirinya mendapat petunjuk dengan orang yang benar-benar mendapat petunjuk. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 10 Hal. 286)

Baghowi menjelaskan ayat di atas menjelaskan ayat di atas, mengutip hadits dri Abu Sufyan dari Jabir bin Abdullah Rasululah s.a.w. bersabda diutus kepada setiap manusia apa yang ditetapkan baginya, orang mukmin dengan iman, orang kafir dengan kekufurannya. Kata ganti mereka di sini adalah orang yang tidak beriman sebagaimana di ayat 27. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghowi Jilid  3 Hal 224)

 

Tafsir Q.S. Al-A’raaf [7] : 196

Sesungguhnya waliku  ialah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia menjadi wali  orang-orang yang saleh (Q.S.Al-A’raaf [7] : 196)

Jalalluddin Al-Mahalli dan Jalalluddin As-Suyuthi menafsirkan  “Sesungguhnya waliku ialah (dia) Yang telah menurunkan Al Kitab (Al-Quran)(yaitu Allah) dan Dia me-wali-i orang-orang yang saleh (Q.S.Al-A’raaf [7] : 196), wali disini maksudnya pemimpin mereka. Juga ketika menafsirkan  (Tafsir Jalalain, Darul Hadits, Kairo, Jilid 1 Hal. 225).

Terkait ayat di atas, Imam Qurtubi menjelaskan : waliku maksudnya adalah penolongku dan pelindungku, pemeliharaku adalah Allah. Yang mencegah dari hal-hal yang mudharat. Kitab di sini maksudnya adalah Al-Qur’an. Dan terkait kalimat Dia me-wali-i orang-orang yang saleh, maka wali di sini  maksudnya adalah pelindung. Hadits shahih Muslim dari Amru bin Al-Ash r.a. berkata saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : nyatakanlah jangan dirahasiakan Kemudian seseorang berseru : “Sesungguhnya wali kami adalah Allah dan orang mukmin yang sholeh”. Ada juga yang membacanya “Yang telah menurunkan Al-Kitab” yaitu jibril. Ini adalah qiraah Ashim Al-Jahdari (namun cara qiraah ini dinyatakan dlo’if). Sedangkan qiroah awal menyatakan ditulis wahuwa yatawalla sholihiin. (Tafsir Jami’ Ahkamul Qur’an Al-Qurtubi Jilid 9 Hal 417)

Baghowi menjelaskan yang dimaksud Al-Kitab pada ayat tersebut adalah Al-Qur’an, Auliya di sini menganggap sebagai pelindungku, penolongku sebagaimana Dia  mendukungku dengan menurunkan Kitab (sebagai petunjuk bagiku). Ketika menjelaskan kalimat Dia me-wali-i orang-orang yang saleh : Berkata Ibnu Abbas r.a. ketahuilah barangsiapa kalian tidak menyekutukan Allah, maka Allah akan membela mereka dengan pertolongannya, maka tidak akan membahayakan kalian, permusuhan orang yang memusuhi. Inilah yang dimaksud orang yang sholeh yaitu yang tidak menyekutukan Allah. Dan orang seperti ini berhak mendapat wala/perwalian yaitu pembelaan dari Allah. (Tafsir Ma’alim Tanzil Baghawi Jilid 9 Hal. 315)

BERSAMBUNG JILID 5

APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA = PEMIMPIN (JILID 3)

TAFSIR AYAT-AYAT YANG MEMUAT KATA AULIYA / WALI (SAMBUNGAN)

abbasiyah-06

Seperti disampaikan pada tulisan sebelumnya, banyak ayat Al-Qur’an yang memuat kata “auliya” atau “wali” disertai dengan larangan menjadikan orang kafir sebagai “auliya” atau “wali”. Berikut ini lanjutannya :

Tafsir Q.S. Ali Imran [3] : 118

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi auliya (teman kepercayaanmu) orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. (Q.S.Ali-Imran [3] : 118)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 118 menjelaskan Allah melarang hamba-hambaNya yang mukmin mengambil orang munafiksebagai teman kepercayaan dengan menceritakan rahasia kaum muslim kepada mereka. Karena kata “bithonah” artinya teman dekat yang mengetahui segala rahasia pribadi. Dunikum orang yang diluar kalangan kalian maksudnya adalah kalangan yang tidak seagama. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 Hal. 104)

Imam Suyuthi ketika membahas Q.S. Ali Imran : 118 mengutip hadits dari Ibnu Syaiban dan Abu Hatim, dari Abud Dihqanah yang menceritakan” bahwa pernah dilaporka kepada Khalifah Umar bin Khattab r.a. “Sesungguhnya di sini terdapa pelayan dari penduduk  Al-Hairah yang ahli dalam pembukuan dan surat menyurat, bagaimanakah jika engkau mengambilnya sebagai juru tulismu? Maka Khalifah Umar bin Khattab r.a. menjawab : Kalau begitu , berarti aku mengambil teman kepercayaan selain dari kalangan orang mukmin” (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 738)

Ibnu Katsir juga memuat Atsar Umar bin Khattab melarang merekrut pegawai Nasrani sebagai penerapan dari ayat ini. kemudian menjelaskan : Atsar di atas merupakan dalil yang menunjukkan tidak boleh mengambil orang kafir dalam kedudukan sebagai sekretaris dan kedudukan lain yang menyebabkan ia mengetahui rahasia kaum muslimin. (Tafsir Ibnu Katir Jilid 4 Hal. 106)

Lebih lanjut Ibnu Katsir mengutip hadits dari Abu Ya’la yang meriwayatkan dari Al Azhar Ibnu Rasyid datang kepada Anas r.a. yang menceritakan sebuah hadits : “bahwa Nabi s.a.w. bersabda : Janganlah kalian meminta penerangan dari api kaum musyrik.. mereka tidak mengerti makud kalimat Raulullah s.a.w. tersebut kemudian datang kepada Al-Hasan..maka Al-Hasan mengataka : “Janganlah kalian mengambil api penerangan dari kaum musyrik ialah janganlah meminta penerangan dari kaum musyrik terkait urusan kalian. Kemudian Al-Hasan mengatakan bahwa hal yang membenarkan hal tersebut berada dalam Kitabullah yaitu melalui firmanNya Q.S. Ali Imran [3] : 118” (H.R. Abu Ya’la)

Ath-Thabari ketika menjelaskan ayat ini mengutip Ibnu Abbas r.a. menjelaskan makna ayat ini: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang orang beriman untuk menjadikan orang kafir sebagai walijah (orang dekat, orang kepercayaan) sementara masih ada orang mu’min. Kecuali jika orang-orang kafir menguasai mereka (menjajah mereka), sehingga kaum mu’minin menampakkan kebaikan pada mereka namun tetap (dalam hatinya) menolak mereka dalam masalah agama. Inilah mengapa Allah Ta’ala berfirman: ‘kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka‘” (Tafsir Ath-Thabari, Jilid 3 Hal. 825).

 

Tafsir Q.S. An-Nisaa’ [4] : 89

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka sebagai auliya (mu), sampai mereka mau berhijrah ke jalan Allah (Q.S An-Nisa [4] : 89)

Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat di atas mengutip perkataan Al-Aufi dari Ibnu Abbas bahwa dahulu ada segolonan orang yang sudah masuk Islam, namun tidak mau ikut berhijrah ke Madinah memenuhi perintah Rasulullah s.a.w. dan tetap berada di Mekah. Kemudian ketika terjadi Perang Uhud antara kaum muslimin dengan Kafir Quraisy, maka sebagian orang Islam yang  masih ada di Mekah ini malah membantu kaum Musyrik Mekah.

Maka suatu ketika kaum ini pun keluar untuk berniaga. Maka reaksi sebagian kaum muslimin di Madinah terbagi menjadi 2 kelompok. Yang mengatakan : ‘Ayo kita kejar mereka dan kita bunuh mereka, karena mereka telah membantu musuh melawan kita” Karena menganggap mereka adalah pengkhianat. Sedangkan sebagian lagi tidak setuju membunuh mereka, karena mereka masih dianggap sesama kaum muslimin. Mereka berkata : “Maha Suci Allah apakah kalian akan membunuh suatu kaum yang pembicaraannya sama (maksudnya se-agama) hanya karena mereka tidak ikut hijrah, dan tidak mau meninggalkan rumah mereka?”

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? (Q.S An-Nisa [4] : 88)

Maka Allah menurunkan ayat yang menjelaskan bahwa mereka adalah kaum munafik, karena tidak mau berhijrah dan berperang di pihak kaum muslimin bahkan justru berpihak dan membantu kepada kaum musyrikin Mekah melawan umat Islam.

Maka Ibnu Katsir mengatakan menurut Al-Aufi dan Ibnu Abbas bahwa perkataan “supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah kafir, maksudnya adalah agar umat Islam yang di Madinah juga kembali ke Mekah dan menahan diri dari memerangi Musyrikin Mekah. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 hal. 357)

Maka orang seperti ini (yaitu munafik) jangan dijadikan auliya (yaitu dianggap sekutu atau kelompok orang beriman). Ibnu Katsir berkata wali di sini artinya adalah janganlah menjadikan mereka teman dan penolong dalam menghadapi musuh-musuh Allah selagi sikap mereka masih tetap tidak mau hijrah.

tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi waliyan (penolong), dan jangan (pula) menjadi nashiiron (penolong) (Q.S An-Nisa [4] : 88)

Imam Suyuthi ketika menafsirkan ayat ini mengutip sebuah hadits dari Abdurrahman bin Auf bahwa beberapa orang Arab datang kepada Rasulullah s.a.w. di Madinah. Lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa demam Madinah, karena itu mereka kembali kafir lalu mereka keluar dari Madinah. Kemudian mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah.

Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa demam Madinah. Sahabat-sahabat berkata: Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah? Sahabat-sahabat terbagi kepada dua golongan dalam hal ini. Yang sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sedang yang sebahagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini yang mencela kaum Muslimin karena menjadi dua golongan itu, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, karena mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain (H.R. Ahmad Jilid 3 Hal 203 No. 1667 Hadits ini dikatakan dlo’if karena dalam sanadnya ada Muhammad bin Ishaq yang dikenal mudalis) (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 4, Hal. 573)

Maka Allah membenarkan sikap kaum muslimin yang berpendapat untuk mengejar dan membunuh mereka karena mereka adalah pengkhianat walaupun mengaku sebagai muslim. Dan tidak boleh menjadikan orang seperti ini (pengkhianat Islam) sebagai wali (pelindung) dan sebagai nashir (penolong). Maka larangan menjadikan “auliya” di sini maksudnya dilarang menganggap mereka (yang berbalik membelot) sebagai golongan mukmin, sebagai kelompok mukmin, termasuk grup atau pendukung mukmin, padahal mereka berbalik mendukung kaum kafir. Maka hukuman pembelot dalam perang adalah dihukum mati.

Hukum bunuh ini tidak berlaku jika mereka telah menyerah dan kembali memihak ke kaum muslimin, atau meminta suaka ke kaum muslimin, atau bersikap tidak memerangi kaum muslimin (bukan kafir harbi) sebagaimana dalam ayat selanjutnya :

kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai),  atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu …(Q.S.An-Nisaa [4] : 90)

As Sa’di ketika menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Hal ini melazimkan tidak boleh ada kecintaan terhadap orang kafir, karena wilayah (loyalitas) adalah cabang dari mahabbah (kecintaan). Hal ini juga melazimkan kita untuk membenci dan memusuhi mereka (Karena orang kafir itu memusuhi Islam). Karena larangan terhadap sesuatu berarti perintah untuk melakukan kebalikannya. Dan perlakukan ini tidak berlaku jika mereka (orang kafir) ikut hijrah ke Madinah. Jika mereka ikut hijrah, maka mereka diperlakukan sebagaimana kaum muslimin (sebagai warga negara kaum muslimin) . Sebagaimana Nabi s.a.w. memperlakukan orang-orang yang ikut hijrah bersama beliau sebagaimana perlakuan beliau terhadap orang Islam. Baik mereka yang benar-benar mu’min lahir batin, maupun yang hanya menampakan keimanan secara zhahir. Dan jika mereka berpaling atau tidak mau berhijrah berlaku perintah, ‘tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya‘, maksudnya kapan pun dan dimana pun kau menemui mereka”. (Tafsir As Sa’di, Jilid 1 Hal. 191).

Namun As Sa’di menjelaskan 3 jenis orang kafir yang dikecualikan sehingga tidak diperangi berdasarkan ayat selanjutnya (namun tidak kita bahas panjang lebar di sini), mereka adalah:

  1. Orang-orang kafir yang meminta suaka atau menyerah kepada kaum muslimin, yang antara muslimin dan kaum itu diadakan perjanjian damai untuk tidak saling memerangi
  2. Orang-orang kafir yang tidak ingin memerangi kaum Muslimin dan juga tidak memerangi kaumnya, ia adalah penduduk sipil yang tidak terlibat perang.
  3. Orang-orang munafik yang menampakkan keimanan karena takut diperangi oleh kaum muslimin (yaitu masuk Islam karena terpaksa atau munafik pura-pura masuk Islam statusnya dianggap orang Islam) (Tafsir As Sa’di, Hal 191).

 

Tafsir Q.S. An-Nisaa’ [4] : 139

(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi auliya (sekutu/aliansi/ penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? (Q.S.An-Nisaa [4] : 139)

Ibnu Katsir ketika mengupas Q.S. An Nisa : 139 menyatakan : Allah menyebutkan sifat mereka (orang munafik ) yaitu mengambil  orang kafir sebagai pemimpin mereka selain orang mukmin. Dengan kata lain mereka (orang munafik itu) berpihak kepada orang kafir. Apabila kembali kepada orang kafir mereka (orang munafik itu) berkata “sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanya berolok-olok” (Yaitu dengan berpura-pura sependirian dengan orang mukmin). Dan mereka (orang munafik) itu bermaksud mencari kekuatan atau perlindungan orang kafir dengan cara menjadikan orang kafir itu sebagai aulianya. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 hal 570)

Siapa yang dimaksud orang munafik yang dihukumi sama dengan orang kafir pada ayat itu? Hal ini dijelaskan pada ayat sebelumnya, yaitu orang yang bolak balik murtad

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (Q.S. An-Nisaa [ 4] : 137)

Imam Suyuti ketika menjelaskan perkataan “wabtaghuun” Apakah kamu mencari kekuatan dari sisi orang kafir? Mengutip sebuah hadits dari Anas r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda suatu hari : Sesunguhnya kekuatan itu dari sisi Allah maka siapa yang beriman kepada hari akhir, ia akan mendapat kekuatan (H.R.Ad-Dailami dan Ibnu Asakir ) (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 5, Hal. 78)

Ayat di atas menyatakan bahwa sifat orang munafik yang bolak balik murtad (sebagaimana diterangkan ayat sebelumnya) lebih gemar memilih pemimpin dari kalangan orang kafir karena mengharapkan dukungan kekuatan dari mereka. Hal ini bersumber dari kelemahan iman orang munafirk itu yang hatinya kerdil dan pengecut. Atau karena kecenderungan dan pembelaannya kepada orang kafir. Ia kahwatir jika tidak membela orang kafir, dunianya akan hilang, peragangannya akan tidak lancar, dan alasan duniawi lainnya. Padahal kekuatan itu dari sisi Allah, dan Allah lebih memiliki kekuatan dibandingkan orang kafir.

 

Tafsir Q.S. An-Nisaa’ [4] : 144

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (Q.S.An-Nisaa [4] : 144)

Ketika menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah melarang hamba-hambanya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai teman dekat dan bukannya orang mukmin. Arti “wali” dalam ayat ini adalah berteman dengan mereka, setia dan ikhlas bersama mereka. Sedangkan maksud “meninggalkan orang mukmin (dunil mukminin) yaitu merahasiakan (kepada kaum muslimin) kecintaan dan sikap kasih sayang terhadap kaum kafir, serta (sebaliknya) membuka rahasia kaum muslimin kepada orang kafir. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 hal 595)

Imam Suyuti menjelaskan janganlah kamu ambil orang-orang kafir dan bukan orang-orang mukmin sebagai pelindung! (Tafsir Jalalain)

BERSAMBUNG JILID 4

APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA=PEMIMPIN? (JILID 2)

JILID 2 (SAMBUNGAN )

abbasiyah-02

Nusron Wahid membahas gonjang ganjing pernyataan Ahok mengatakan dalam acara ILC dari segi –katanya sih — “ilmu tafsir” yaitu bahwa kalau kita berhadapan dengan sebuah “teks” selalu multi tafsir. Kalau soal ini sih bener banget. Memang teks itu memungkinkan adanya multi tafsir. Tapi tidak berarti mentang-mentang multi tafsir, lantas bebas menafsirkan seenaknya, khususnya jika itu teks A-Qur’an. Ada kaidah untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Lebih lanjut Nusron Wahid menyataan bahwa yang paling tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri adalah Allah SWT bukan MUI. Karena Allah berfirman “Al-Haqqu mirobbik (kebenaran itu dari Allah)”. Ayat ini benar , namun tidak pas diterapkan pada persoalan menafsirkan Al-Qur’an. Maksud dari kalimat Al-Haqqu min Robbik adalah bahwa apa yang diturunkan dari Allah lah mutlak kebenaran nya.

Untuk apa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia jika hanya Allah saja yang tahu tafsirnya. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Maka percuma saja jika gara-gara Al-Qur’an multi tafsir lantas tidak layak kita jadikan pedoman hidup.

Bahwa memahami text Al-Qur’an memungkinkan terjadi multi tafsir itu ada benarnya. Namun tidak berarti bahwa text Al-Qur’an sangat luas maknanya sehingga tidak ada batasan sama sekali. Menafsirkan ayat Al-Qur’an ada kaidahnya. Sehingga tetap saja ada batasannya. Tidak boleh setiap orang dengan logikanya sendiri bebas menafsirkan ayat Al-Qur’an. Kita tetap bisa membedakan mana tafsiran yang benar dan mana tafsiran yang tanpa dasar.

Yang Paling Tahu Al-Qur’an adalah Allah, namun Allah mengutus RasulNya untuk menjelaskan kepada Manusia

Nusron Wahid menyataan bahwa yang paling tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri adalah Allah SWT. Itu benar. Namun Allah telah mengutus RasulNya untuk menjelaskan Al-Kitab yang diturunkan oleh Allah. Itulah salah satu fungsi Rasul. Oleh karena itu, disamping Allah, maka yang paling tahu tentang Al-Qur’an adalah Rasulullah s.a.w.

Selanjutnya, RasulNya mengajarkan kepada para sahabatnya dan para pengikutnya. Sebagian dari sahabat Rasul, hadir pada saat wahyu diturunkan. Demikian juga sebagian istri Rasulullah, menjadi saksi ketika wahyu diturunkan. Sehingga mereka adalah manusia-manusia yang paling tahu konteks tentang apa ayat Al-Qur’an itu diturunkan. Mereka adala orang yang paling mengerti apa yang dibicarakan dan apa yang dimaksudkan oleh ayat Al-Qur’an. Terkadang, Rasulllah s.a.w. menjelaskan maksud dari ayat tersebut. Terkadang mereka bertanya dan Rasulullah s.a.w. menjelaskan.

Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa maksud ayat ini adalah begini dan begitu. Atau sahabat bertanya apa arti dari suatu kata atau istilah yang tidak mereka pahami. Lalu Rasulullah s.a.w. menjelaskan arti kata tersebut.

Maka metoda menafsirkan dan memahami sebuah ayat Al-Qur’an, salah satunya mengacu pada penafsiran para sahabat. Ini harus dipriroitaskan ketimbang penafsiran manusia yang hidup setelah mereka.

Demikian pula selanjutnya, para sahabat mengajarkan kepada generasi tabi’in. Kemudian generasi tabi’in mengajarkan kepada generasi tabiut tabi’in. Kemudian generasi tabiut tabi’in mengajarkan kepada ulama-ulama generasi berikutnya. Maka dalam hal menafsirkan Al-Qur’an, kita harus mengedepankan penafsiran para ahli tafsir generasi terdahulu, dari kitab-kitab tafsir yang paling tua. Karena semakin dekat jaraknya dengan masa kehidupan Rasulullah s.a.w. niscaya akan semakin murni ilmunya dan masih terjaga dari distorsi pemikiran lainnya.

Maka berikut ini dalam beberapa tulisan bersambung akan kami sampaikan tafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat kata “auliya” berdafsarkan kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh generasi terdahulu :

Tafsir Q.S. Al-Baqarah [2] : 257

Allah adalah wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)...” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257)

Al-Qur’an menegasan bahwa wali / auliya hanyalah Allah, Rasul dan orang beriman. Maka pemimpin muslim masuk dalam pengertian orang beriman :

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat Q.S. Al-Baqarah : 257  mengartikan wali adalah penolong dan berkata : “Orang kafir yang menjadi penolongnya hanyalah setan. Setanlah yang menghiasi mereka dengan kebodohan dan kesesatan. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 Hal. 54)

Imam Al-Baidhowi (685 H) menafsirkan ayat Q.S. Al-Baqarah : 257  : Allah adalah wali orang beriman maksudnya adalah yang dicintai oleh mereka dan yang mengatur mereka (Tafsir Baidlowi Darul Fikr Beirut Jilid 1 Hal 558).

Ibnu  Jauzi (597 H) menafsirkan kata wali dalam ayat Allah adalah wali orang beriman maksudnya pengatur mereka, yang menuntun mereka dan mendukung mereka (Zad al-Masir fi ‘Ilm At-Tafsir, Darul Fikr Beirut Jilid 1 Hal 268).

Muhammad bin Ibrahim bin Ta’labi An-Naishaburi (427 H) “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pendukung mereka, dikatakan yang mereka cintai, dan dikatakan yang mengatur mereka. (Tafsir Al-Kasyaf wal Bayan, Ihya-u Ats-Tsurat Beirut, Jilid Hal. 237).

Imam Nasafi ketika menafsirkan “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pemimpin mereka (Tafsir An-Nasafi Jilid 1 Hal 199)

Muhammad bin Ibrahim Al-Kazan (725 H) “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pendukung mereka, dikatakan yang mereka cintai, dan dikatakan yang berhak mengatur mereka. (Al-Lubaab At-Ta’wil fii Ma’ani At-Tanzil, Darul Fikr, Jilid 1 Hal. 272).

Jalalluddin Al-Mahalli dan Jalalluddin As-Suyuthi menafsirkan  “Allah adalah wali orang-orang yang beriman.. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) yaitu pemimpin mereka. (Tafsir Jalalain, Darul Hadits Kairo, Jilid 1 Hal. 216).

Imam Suyuthi ketika menafsirkan Q.S. A-Baqarah: 257 menurut Ibnu Mundzir dan Thabrani mengutip perkataan Ibnu Abbas r.a. tentang ayat Allahuwaliyulladzina amanu yukhrijuhum minadzulumati ilan nuur (Allah adalah wali orang beriman yang mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya) : yang dibicaraakan adalah mereka para pengikut Nabi Isa yang kemudian beriman kepada Muhammad s.a.w. dan terkait ayat selanjutnya.. walladzina kafaru auliya-u-humut thogut yang dibicaraakan adalah mereka para pengikut Nabi Isa yang menolak beriman kepada Muhammad s.a.w. mereka adalah kafir. (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 202)

Tafsir Q.S. Ali Imran [3] : 28

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali  dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat… (Q.S.Ali-Imran [3] : 28)

Yang benar adalah Dalam Tafsir Al-Qurtubi ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28, dikutip hadits dari Ibnu Abbas  r.a. bahwa ayat tersebut (Q.S. Ali Imran : 28) turun terkait dengan Ubadah bin Tsamit Al-Anshori yang berencana berkoalisi dengan Yahudi dalam perang Ahzab (bukan perang Uhud). Ubdah berkata kepada Rasulullah s.a.w. : Wahai Rasulullah, saya memiiki dukungan 500 orang Yahudi, saya kira mereka bisa bergabung dalam pasukan kaum muslimin untuk menghadapi musuh. Maka kemudian turunlah ayat itu.

Sedangkan menurut Ath-Thabari, asbabun Nuzul ayat di atas adalah Al-Hajjaj bin Amr), yang mempunyai teman orang-orang Yahudi yaitu Ka’ab bin Al-Asyraf (pemuka Yahudi yang terkenal sebagai penafsir), Ibnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid kemudian ada beberapa sahabat (Rifa’ah bin Al-Mundzir, Abdullah bin Zubair dan Sa’ad bin Khattamah) yang berkata :”Jauhilah mereka dan kalian harus berhati-hati karena mereka nanti akan memberi fitnah kepada kalian tentang agama kalian dan kalian akan tersesatkan dari jalan kebenaran,  para sahabat yang laianya mengabaikan nasehat tersebut begitu saja, dan mereka masih tetap memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi dan bersahabat dengan mereka, maka turunlah ayat ini. (Tafsir Ath-Thabari Jilid 3, Hal. 228)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28 menjelaskan bahwa Allah melarang hambanya yang mukmin berpihak kepada orang kafir dan menjadikan mereka teman setia. Jadi wali di sini adalah teman setia. Kemudian Ibnu Katsir  menjelaskan bahwa ayat ini terkait dengan Q.S.Al-Mumtahanah [60] : 1 dimana jika orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai teman setia, nantinya akan membeberkan berita rahasia orang mukmin kepada orang kafir karena rasa kasih sayang, berarti ia telah meninggalkan orang mukmin. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 Hal 333)

Imam Suyuthi ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28 menyebukan dari Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas r.a.ketika Ibnu Umar pergi haji bersama rombongan Ka’ab bin Asraf dan Ibnu Abi Duqoiq ada sekelompok orang Anshor yang mengagungkan agama kafir kemudian  dikatakan hindarilah kumpulan orang Yahudi itu, dan jangan kalian agungkan agamanya . (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 505)

BERSAMBUNG JILID 3

TULISAN LAIN TERKAIT :
APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA=PEMIMPIN? (JILID 1 ) http://wp.me/p22fQF-oP

POLLING APAKAH MENURUT ANDA PERNYATAAN AHOK TERMASUK MENISTAKAN ISLAM?

AHOK MENISTAKAN AGAMA ATAU TIDAK SIH?

hakim

Beberapa hari lalu, saya bertemu seorang teman lama, kemudian bertanya : Menurut kamu, pernyataan Ahokk itu menistakan agama Islam atau nggak sih?” Sejenak saya berfikir. Saya bilang : “Kalao menurut Ahok sih, dia bilang tidak bermaksud menistakan agama”.  Lalu teman saya bilang :”Ya itu kan kata Ahok, yang saya tanya menurut kamu, Ahok itu menistakan agama atau tidak?”

Hmm..begini karena seorang tokoh pernah membahas soal pernyataan Ahok ini, bahwa dari segi ilmu komunikasi, yang paling mengerti tentang maksud dari pernyataan itu ya si pembuat pernyataan. Kalau si pembuat pernyataan tidak berniat menistakan ya berarti tidak menistakan. Begitu kata tokoh yang membela Ahok dalam sebuah acara dialog di televisi nasional. Kalau begitu  nanti orang bisa bebas menghina kemudian ia mengaku tidak berniat menghina.

Bagaimana dengan orang yang mendengar pernyataan tersebut merasa bahwa hal itu menghina keyakinan mereka, menistakan agama mereka?” Saya fikir itu sangat relatif dan subyektif, tergantung persepsi masing-masing orang dalam mencerna, menafsirkan dan menilai pernyataan tersebut.

Dalam pernyataan Ahok, yang dituduh “membohongi dan membodohi”–ketika diklarifikasi wartawan—adalah para politisi rasis dan pengecut yang menggunakan ayat Al-Qur’an dan bukannya ayat Al-Qur’an itu sendiri. Dan ini terkait pemahaman mengenai arti kata “auliya” dalam Q.S. Al-Maidah : 51 menurut Ahok bukanlah “pemimpin” melainkan “teman”. Sehingga Ahok mengira bahwa orang yang mengartikan kata “auliya” sebagai “pemimpin” telah memelintir ayat dan memplesetkan ayat guna kepentingan politik.

Sedangkan menurut sebagian besar Kitab Mu’jam (Kamus) klasik yang ditulis para ulama sejak ribuan tahun lalu, bahwa kata auliya  adalah bentuk jamak dari wali, dan salah satu arti dari wali adalah pemimpin. Lebih tepatnya adalah orang yang diberi mandat untuk mengurus urusan orang lain. Oleh karena itu dalam sejarah peradaban Islam suatu ketika ada istilah “waliyul amri”. Wali di sini adalah  orang yang diberi mandat. Dan amri adalah urusan umum atau publik. Maka waliyul amri adalah pemimpin atau pemerintah.

Lihat : https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/apakah-salah-mengartikan-auliya-pemimpin/

Berdasarkan itu, maka arti “auliya” memang sah-sah saja diartikan sebagai pemimpin. Dan memang Al-Qur’an menyatakan melarang orang Muslim memilih Non-Muslim sebagai pemimpin mereka. Maka orang yang menyampaikan kepada orang lain mengenai larangan memilih pemimpin non-muslim bukanlah tindakan membohongi dan membodohi orang lain. Bukan pula memelintir ayat atau memplesetkan ayat.

Maka dari pernyataan Ahok tersebut ada 4 obyek yang mungkin terkena sasaran penghinaan yaitu :

  1. Ayat Al-Qur’annya yang dituduh membohongi dan membodohi? Jawabannya : tidak (tapi hal ini tergantung apakah Ahok benar-benar hanya tahu auliya itu artinya teman? Dan Ahok tidak tahu auliya itu artinya pemimpin? Jika Ahok sebenarnya tahu auliya itu artinya pemimpin, namun sengaja menolak makna itu karena merugikan dirinya, maka justru Ahok yang membohongi dan membodohi sekaligus menghina agama).
  2. Ayat Al-Qur’an digunakan sebagai alat membohongi dan membodohi? Jawabnya : iya
  3. Orang yang menggunakan ayat tersebut termasuk ulama dianggap membohongi dan membodohi? Jawabannya : Iya, mereka merasa dihina dinistakan karena mereka mengartikan auliya = pemimpin sesuai berdasarkan kaidah bahasa Arab.
  4. Orang lain (khususnya umat muslim) yang mendengar pernyataan Ahok ? Jawabnya : bisa iya bisa tidak tergantung orangnya merasa terhina atau tidak.
  5. Depag dan penerjemah lain, yang dianggap salah terjemahannya karena menerjemahkan auliya sebagai pemimpin. Jawabnya : Iya, tapi bisa jadi Depag tidak merasa terhina.

Dalam hukum Indonesia ada delik aduan mengenai  penodaan agama berdasarkan pada  UU 1/PNPS/1965. Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 menyatakan:

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Sedangkan lamanya sanksi pidana bagi penodaan atau penistaan agama ada pada KUHP Pasal 156a yang berbunyi:

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

  1. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
  2. Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Pada UU No. 1/PNPS/1965  istilah “melakukan penafsiran tentang suatu agama” ini lebih kepada aliran sesat ketimbang penghinaan pada simbol-simbol agama. Sedangkan pada KUHP Pasal 156a disebutkan :” bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama”.

Persoalan ini mungkin bisa dikenai KUHP masalah pencemaran nama baik yaitu Pasal 310 s/d 321 KUHP. Yaitu jika MUI, Depag dan ulama yang menafsirkan kata auliya sebagai pemimpin merasa difitnah dan dituduh membohongi dan membodohi. Bisa juga dikenai UU ITE terutama Pasal 27. Hal itu tergantung pengembangan penyidik dan Jaksa.

Di sini timbul persoalan. Dalam komunikasi itu ada dua pihak : si pembicara (komunikator) dan si komunikan sebagai pendengar (audien). Bisa jadi si pembicara tidak merasa menghina, menistakan, melecehkan atau mencemarkan nama baik. Namun si pendengar merasa terhina, dinistakan, dilecehkan atau dicemarkan nama baiknya. Nah ketika menetapkan ini penghinaan, penistaan , pelecehan a tau pencemaran nama baik, yang menjadi patokan itu siapa? Menurut si pembicara? Atau menurut si pendengar? Menurut saya, jawabannya : sepanjang masalah ini diselesaikan di pengadilan, maka yang menentukan isi pernyataan tersebut dikatagorikan penghinaan, penistaan , pelecehan a tau pencemaran nama baik ya pihak penengah lah yang menentukan, yaitu hakim.

Oleh karena itu yang terpenting adalah kasus Ahok ini harus diproses secara hukum. Perkara nanti pernyataan tersebut dikatagorikan penghinaan, penistaan , pelecehan atau bukan, pada akhirnya hakim lah yang memutuskan. Wallahu’alam.

TULISAN TERKAIT :
https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/24/anekdot-ayat-babi/

https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/apakah-salah-mengartikan-auliya-pemimpin/

APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA = PEMIMPIN ? (JILID 1)

PEMBAHASAN ARTI KATA AULIYA (JILID 1)

arti-kata-auliya

Q.S. Al-Maidah : 51 adalah ayat yang sedang jadi trending topic dan menjadi primadona sampai ramai-ramai dijadikan DP atau foto profil. Walau persoalan ini oleh pihak tertentu berusaha diredam dan sudah mulai senyap gaungnya namun masih tetap bergulir domino effect-nya.

Ibarat anekdot supir bis ugal-ugalan yang membuat para penumpang nya ngeri, dari mulai penumpang, copet dan tukang ngamen semuanya jadi ikut menyebut dzikir nama Allah, istighfar, bahkan mungkin komat kamit berdoa. Akhirnya yang tadinya tidak pernah berdoa tidak pernah berdzikir jadi ikut-ikutan berdoa dan berdzikir. Demikianlah kita harus berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membuat “geger” berbagai elemen masyarakat sehingga ramai-ramai membahas Q.S. Al-Maidah : 51 (termasuk saya akhirnya gak tahan juga ikut latah membahas masalah yang sbenarnya sudah ramai dibahas banyak orang)

Pendekatan Linguistik

Berbagai macam komentar para ulama dan cerdik pandai melakukan “akrobatik otak” untuk membahas makna kata “auliya” dalam Q.S. Al-Maidah : 51.

Ada tokoh Isam yang membahas dari ilmu linguistik, subyek – predikat – obyek. Sehingga yang menghasilkan kesimpulan yang bahwa yang dituduh membohongi dan membodohi bukan obyeknya (yaitu Al-Qur’an) melainkan subyeknya (Yaitu politisi pesaing yang rasis dan pengecut). Kungfu lidah cara ini sungguh lucu, memang yang dituduh membodohi adalah subyeknya, namun Al-Qur’an di sini bukan obyek melainkan keterangan predikat. Subyeknya adalah politisi pesaing yang rasis dan pengecut menurut Ahok.

Sedangkan membohongi dan membodohi adalah predikat. Dan kata “pake Al-Maidah : 51” adalah keterangan predikat. Yaitu alat yang dipakai untuk membohongi dan membodohi, adalah Al-Maidah : 51. Jadi Q.S. Al-Maidah : 51 adalah alat yang digunakan untuk aksi membohongi dan membodohi. Siapa yang memakai alat ini? Yah itu tadi politisi pesaing yang rasis dan pengecut. Masalahnya yang memakai alat ini tidak hanya politisi, melainkan juga ulama.

Pendekatan Leksikologi

Ada tokoh Islam yang membahas dari segi terjemahannya (leksikologi), konon hanya terjemahan versi Depag saja yang mengartikan kata “auliya” dalam Q.S. Al-Maidah : 51 sebagai “pemimpin”. Konon kata ahli ini, “auliya” artinya adalah “pelindung”. Sehingga yang dilarang itu adalah memilih orang Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung.

Demikian pula ketika Ahok mengatakan “dibohongi dan dibodohi” itu berasal dari terjemahan yang mungkin pernah didengar oleh Pak Ahok, bahwa arti kata “auliya” adalah “teman” atau “sahabat” dan bukannya “pemimpin”. Dalam hal ini Ahok sebagai non-muslim tidak salah.

Info yang diterima Ahok perihal terjemahan auliya mungkin berdasarkan terjemahan yang dijadikan pegangan oleh kalangan orientalis seperti Prof. Daniel Pipes Ph.D. Kamus modern written arabic oleh Hans Wehr hal 1100 B menjelaskan arti kata auliya = “friendship amity benevolance good will fidelity fealty allegiance devotism loyalty clientage” (pertemanan, persahabatan, kebajikan, niat baik, kesetiaan, loyalitas, fanatisme pelanggan).

Jadi tidak salah juga jika Ahok menyangka arti kata auliya adalah “pertemanan, persahabatan” sehingga pihak lain, orang / ulama yang mengartikan sebagai “pemimpin” disangka oleh Ahok sebagai tindakan “membohongi dan membodohi”. Karena mungkin tahunya seperti itu. Namun seharusnya Ahok menyadari dirinya sebagai non-muslim (berlaku juga bagi mayarakat awam yang merasa dirinya awam dalam bahasa Arab dan masalah agama) seharusnya bersikap hati-hati karena bisa jadi ada kemungkinan dirinya tidak mengetahui persis arti dari kata auliya / wali.

Arti Auliya Menurut Kamus

Yang sedang kita bahas saat ini adalah “auliya” yang merupakan berntuk jamak dari “wali” yang digunakan dalam firman Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an yang diturunkan 1.438 tahun yang lalu. Jadi kita harus berpatokan pada makna kata yang digunakan pada saat wahyu tersebut diturunkan.

Untuk ini kita harus merujuk pada literatur klasik yang tidak jauh dari masa dimana ayat tersebut diturunkan. Kitab Al-‘Ain ditulis oleh Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (786 M) ditulis 154 tahun setelah Rasulullah s.a.w wafat. Ini merupakan salah satu kamus tertua. Beliau adalah guru dari Sibawaih, Al-Asmaa’i, Al-Kisa’i, Harun bin Musa An-Nahwi, Wahb bin Jurair dan Al-Juhdumi

Dalam Al-‘Ain oleh Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (786 M) dikatakan : Wali : bentuk mashdar (bentuk kata benda dari kata kerja) dari muwalah (cinta) dan wilaayah (kecintaan) adalah mashdar dari wali. Dan walaa (loyalitas, menolong, mengikuti)

Kamus Lisanul Arab disusun oleh Ibnu Manzur (1232 M – 1311 M) yang ditulis 600 tahun setelah wafatnya Rasulullah s.a.w. Sehingga ini masih relevan digunakan untuk menelusuri arti dari sebuah kosa kata yang digunakan dalam Al-Qur’an sebagaimana bangsa Arab memahami arti kata tersebut pada masa itu.

Auliya adalah bentuk jamak dari “wali” yaitu seseorang yang memiliki “walayah” sehingga dengan itu seorang wali berhak mendapat “wala” dari orang. “Wala” atau “wali” dalam Kamus Lisanul Arab memiliki arti shiddiq (teman), maula fii diin (pemimpin agama) (Lisanul Arab Juz 15 hal 408), mahabbah (kecintaan), nushroh (pertolongan) dan ittiba (mengikuti) dan al-qurb / qurbah (kedekatan). Dalam istilah modern, al-wala sering diartikan dengan “loyalitas atau kesetiaan” (Lisanul ‘Arab Juz 15 hal 411)

Lebih lanjut dalam Lisanul ‘Arab dijelaskan : Dalam kalam Bahasa Arab, “Wali” dan “Maula” adalah satu (memiliki makna yang sama). Dari sinilah makna sabda Rasulullah s.a.w. “ayyuman amroatin nakahat bi ghoiri izni maulaha” (tidak ada nikah tanpa izin walinya).

Diriwayatkan dari Ibnu Salam dari Yunus, Beliau berkata : Al Maula mempunyai beberapa peletakan (makna ) dalam Kalam bahasa Arab. Diantaranya adalah lafadz Al Maula di dalam (masalah) agama yaitu ( bermakna ) Waliy. sebagaimana Firman Allah Ta’ala : Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah maula orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai maula (Q.S. Muhammad [47] : 11)

Maksud dari “Tidak ada Maula bagi mereka” adalah “Tidak ada wali bagi mereka” (Lisanul ‘Arab Juz 15 hal 405)

Ar-Raghib Al-Isfahaani (1109 M)menyebutkan bahwa tiga huruf akar kata wa-la-ya mengandung arti bahwa : “… dua orang atau lebih muncul dengan cara sedemikian dimana tidak ada di antara mereka yang tidak berasal dari diri mereka, dan ini secara metafora digunakan untuk menunjukkan kedekatan dalam hal lokasi, relasi dan dalam hal keagamaan, persahabatan, dan pertolongan untuk saling memberi kekuatan (aliansi) dan saling percaya, sedangkan kata “wilaayah” adalah untuk mendukung dan “walaaya” adalah perwakilan untuk suatu hubungan.” (Mufradaat Al-Gharib Qur’an Al-Quran, Al-Isfahani)

Dalam Tuhfah Al-Ariib bima fil Qur’an minal Gharib oleh Ibnu Hayyan Al-Gharmati (1344 M) dijelaskan :

arti-wali-at-tuhfah

Wali (pemberian mandat) : dengan kemenangan pertolongan dan dengan peran pemerintahan. Waliyuhum : ancaman dan intimidasi misalnya membiarkan kuasa jahat mengancam. Maulana : wali kami. Mawali : pengawal, bodyguard, pelindung atau segala yang diutamakan/diprioritaskan atau kongsi atau persekutuan.

Oleh karena itu dalam fiqih Islam, wali adalah seseorang yang diberi mandat untuk mengurus urusan orang yang memberi mandat. Misal seorang wanita bisa menikah jika mendapat ijin dari walinya, yaitu ayah atau saudara lelakinya. Di sini ayah dan kakak lelakinya adalah orang yang diberi mandat. Demikian pula seorang anak yatim yang belum baligh maka hartanya diurus oleh walinya.

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 5)

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 2)

Mawali artinya juga ahli waris atau ‘ashobah (ahli waris laki-laki) sebagaimana dalam ayat :

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan mawalinya (pewarisnya) (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 33)

Ibnu Jarir mengatakan, orang Arab menamakan saudara sepupu  (anak paman) dengan sebutan maula. Seperti dikatakan oleh Ibnu Abbas dalam salah satu bait sya’irnya :

syair-ibnu-abbas

Tunggulah hai anak-anak paman kami, mawali kami, jangan sekali-kali tampak di antara kita hal-hal yang sejak dahulu terpendam

Dalam At-Ta’rifat oleh Syarif Al Jurjani (1413 M) diuraikan :

arti-wali-al-jurjani
Wali : fa’iil bi ma’na faa’al yaitu siapa yang bersedia ditaati tidak diiringii dengan pembangkangan. Atau dengan makna : yang diikuti orang dalam kebaikan dan keutamaan. Dan wali adalah orang yang kualitasnya dikenal oleh Allah (dicintai Allah) karena ketaatannya dan tidak mengotori dirinya dengan maksiyat, atau memperlihatkan kecenderungan dalam hura-hura dan syahwat yang tidak terkendali.

Jadi wali adalah orang yang ditaati atau orang yang dicintai.

Dalam Al-Asas Al-Balaghoh oleh Zamakhsyari (1143 M) dikatakan :

arti-wali-al-asas-balaghoh

Walayah waliyan : yang dengannya ia mendapat loyalitas, kesetiaan atau diikuti dan semua yang mengikutinya dan duduk orang yang mengikutinya…..dia wali negeri dan gubernur / pemerintah. Dengan rahmat Allah yang tinggi, ia adalah pemerintah yang adil dan mengikat mereka.

Zamakhsyari mengaitkan auliya dan wali dengan kepemimpinan dan pemerintahan. Jadi tidak salah terjemahan Depag yang mengartikan auliya dengan pemimpin. Maka orang atau ulama yang mengartikan auliya sebagai pemimpin, gubernur, pemerintah tidaklah membohongi dan membodohi orang bukan memelintir ayat dan bukan pula memanipulasi ayat.

Dalam Al-Mu’jam al-Wasith disebutkan bahwa arti dari wali adalah: “Setiap orang yang menguasai atau mengurus suatu perkara atau orang yang melaksanakannya” (Al-Mu’jam Al Wasith Hal 1020)

Wali juga diartikan orang yang diberi hak perwakilan yaitu suatu wewenang syar’i atas seseorang, yang dilimpahkan kepada orang yang lebi sempurna akalnya, karena kekurangan tertentu pada orang yang dikuasai tersebut, demi kemaslahatan orang yang diwakili itu. Jadi perwakilan di sini adalah pemberian mandat (Al-Munjid fi Al-Lughoh Darul Masyriq Beirut, Hal. 919)

Oleh karena itu di dalam sejarah Kekhalifahan Islam, ada sebutan “waliyul amri” dimana wali di sini adalah orang yang diberi mandat mengurusi urusan orang banyak dan “amri” adalah urusan umum atau publik.

Demikianlah makna kata “wali” (jamak : auliya) dimana tidak salah mengartikan sebagai teman setia, sahabat dekat, penolong, pelindung. Namun juga tidak salah mengartikan sebagai pemimpin karena memang itu adalah salah satu arti dari wali / auliya.

Wallahua’lam

Abu Akmal Mubarok

LIHAT TULISAN TERKAIT :

https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/27/ahok-menistakan-agama-atau-tidak-sih/
https://seteteshidayah.wordpress.com/2016/10/24/anekdot-ayat-babi/

APAKAH BUMI DATAR ATAU BULAT?

JILID 1

pinggiran-bumi

“Seperti apa bentuk bumi? Apakah bumi berbentuk datar atau bulat?” Perdebatan masalah ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dan di zaman sekarang ini, di tengah ilmu pengetahuan dan cara berfikir sudah canggih, masih ada orang yang berpendapat bumi itu datar. Pendapat ini sah-sah saja. Dan sepanjang tidak menyangkut hal yang ghaib, tentu bisa dibuktikan dengan indera dan otak yang kita miliki.

Namun persoalan ini menjadi serius, karena ada orang yang mengatakan bahwa menurut Islam, bumi itu adalah datar. Pendapat ini dilontarkan bukan dengan bukti pengamatan alam, atau eksperimen ilmiah melainkan dengan mengutip ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah s.a.w. Mereka juga mengutip pendapat dari ulama-ulama salaf yang mengemukakan bahwa bumi adalah datar. Kalau kita kita tidak setuju dengan ini, seolah dikatakan kita menentang Al-Qur’an dan Hadits

Syaikh terkemuka dari Jazirah Arabia, konon Syaikh Abdul Aziz Bin Baz, mengatakan bahwa bumi itu datar dan barang siapa mengatakan bumi itu bulat adalah kafir dan harus dihukum. Konon pula, Syaikh Utsaimin, Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Syaikh Al-Khaybari, mengamini pendapat tersebut. Hal ini bisa disaksikan di video rekamannya yang beredar di youtube.

Pendapat bahwa bumi datar, didukung oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits, sehingga menjadi sakral dan berdosa jika membantahnya. Maka serta merta pendapat ini direpdoduksi ulang oleh pemuda-pemuda dari berbagai belahan dunia yang sedang semangat membara mengkaji Islam.

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada para Masayikh yang tidak terkira tinggi ilmu agamanya, dan tidak diragukan kesholehannya, kami harus sampaikan bahwa yang sedang kita bahas di sini bukanlah dzat Allah yang ghaib, yang kita tidak akan pernah mengetahuinya dengan akal yang tidak akan bisa kita indera dengan panca indera kita. Yang kita bahas ini bukanlah surga,  neraka, hari kiamat, alam barzakh dan hal-hal lain yang hanya bisa kita ketahui dari khobar nash Al-Qur’an dan Hadits.

Adapun yang sedang yang kita bahas di sini adalah bumi, adalah matahari, adalah bulan, adalah planet-planet dan bintang-bintang, benda nyata yang sehari-hari bisa sama-ama kita lihat, bisa kita observasi, bisa diamati, bisa dihitung, dan bisa kita fikirkan bersama. Sama seperti pohon daunnya hijau, air adalah benda cair dan nasi terbuat dari beras, semua adalah perkara zhahir (nyata) yang bisa kita amati.

Maka untuk membahas ini ada dua kacamata, yaitu pembahasan dari kaca mata ilmiah dan dari kacamata dalil-dalil syar’i (Al-Qur’an dan Hadits).

Jika Berbentuk Lempengan, Pasti Ada Tepinya

Kita mulai dari pertanyaan sederhana saja. Tidak perlu berfikir terlalu canggih ala profesor untuk menguji bumi ini datar atau bulat.

Kita asumsikan yang namanya berbentuk datar itu seperti lempengan atau papan. Entah itu lempengan atau papan atau lembaran tebal atau tipis tidak pengaruh. Yang penting lempengan datar. Jika lempengan ini di lihat dari atas, bentuk nya itu bisa kotak seperti baki, atau lingkaran seperti piring atau segitiga apa saja yang penting ia datar. Maka apapun itu lempeng kotak atau lingkaran, yang namanya lempengan itu tentu ada batas tepiannya atau batas pinggirannya. Ini adalah sebuah keniscayaan yang semua orang bisa memahaminya. Dan ini adalah hukum alam yang mana hukum alam ini adalah sunatullah, hukum Allah juga.

Nah jika bumi ini berbentuk lempengan datar, maka seandainya kita berjalan terus entah ke arah mana saja, ribuan atau jutaan kilometer, tentu akan sampai pada batas pinggiran bumi.

Hal inilah yang pertamakali terfikir oleh para ilmuwan sejak ribuan tahun lalu. Hal ini lah yang pertama kali harus dijawab oleh manusia yang menyangka bumi ini adalah dataran luas berbentuk lempengan. Lalu pinggirannya itu berupa apa?

Bangsa Mesopotamia percaya bumi itu datar dan percaya batas tepian bumi adalah laut maha luas dan maha dalam yang disebut Okeanos. Dari sini muncul istilah dalam bahasa Inggris “Ocean” yang artinya samudera. Ahli Filsafat Yunani dan Pulau Kreta, Siprus seperti Thales, Leucipus, Democritus, Anaximenes, Hecateus, dll percaya bumi adalah datar dan dikelilingi laut.

Bangsa Jerman kuno percaya bumi datar dan tepiannya adalah laut yang dihuni monster ular raksasa bernama Jormungandr.Orang Indian percaya pinggiran bumi adalah jurang yang sangat dalam. Sementara sebagian orang India percaya bahwa tepian bumi ini dibatasi oleh gunung yang sangat tinggi.

Saya penasaran dengan orang yang menganut teori bumi berbentuk lempeng datar pada zaman modern ini kira-kira pinggiran atau tepian bumi itu apa menurut mereka ? Saya menemukan tulisan dan video di youtube, baik dikemukakan oleh muslim maupun kristen fundamentalis, bahwa mereka mengatakan pinggiran bumi itu adalah tembok es dan benua es yang tak bertepi.Jadi bumi ini dikelelingi tembok es yang sangat tinggi dan luasnya tak berbatas.

Teori seperti ini pernah dikemukakan oleh Birley Rwbotham (1816-1884) dalam buku Zetetic Astronomy yang mengatakan bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh benua es.
Jika memang demikian, maka jika Anda berjalan di benua Es itu terus dan terus sampai 1 Milyar tahun pun, Anda tidak akan sampai sampai. Karena memang tak berujung.

Kenyatannya, Ekspedisi James Cook tahun 1773-1774 telah 3 X mengelilingi benua Antartica. Dari situ James Cook menyatakan bahwa hipotesis mengenai adanya Terra Australis Incognita (Daratan Selatan Yang Tak Dikenal) adalah tidak ada. Mungkin lebih bagus jika penganut teori bumi datar yang meyakini pinggiran bumi adalah dataran es tak terhingga ini mencoba menjelajahi sendiri benua Antartica.

Teori mengenai adanya Terra Australis Incognita juga dikemukakan oleh Alexander Dalrymple. Sebelumnya teori tentang adanya pinggiran bumi berupa daratan Es tak terbatas ini tercantum dalam peta Abraham Ortelius tahun 1570 yang disebu dengan Terra Australis Nondum Cognita (Daratan Paling Selatan Yang Belum Diketahui). Sebelum itu Laksamana Piri Rei dari Turki Utsmani telah membuat peta detil benua Antartica pada tahun 1513.

Penganut bumi datar mengatakan bahwa dalam buku laporan James Cook dikatakan telah mengelilingi Antartika sejauh 60.000 km selama 2 tahun. Ini adalah 3,5 kali keliling bumi. Berarti James Cook sebenarnya mengelilingi pinggiran seluruh lempengan bumi seperti pinggiran piring atau baki.Perjalanan Cook ini membuktikan teori bahwa tepian bumi dikelilingi Tembok Es raksasa luasnya tak terhingga.

Jelas ini adalah kebohongan atau kegilaan. Catatan mana yang menyatakan James Cook menempuh 60.000 km ? Zaman sekarang pesawat sudah bisa terbang ke Antartika bahkan 500 orang lebih sudah mendaki gunung tertinggi di Antartika. Dan tidak ada laporan bahwa itu adalah dinding Es Raksasa dengan luas tak terbatas.

Ekspedisi Manusia Mengeilingi Bumi

Lebih afdhol memang jika Anda mencobanya sendiri bepergian atau terbang teruuuss ke satu arah terserah. entah itu ke Utara, Selatan, Timur atau Barat Buktikan apa yang akan terjadi? Apakah suatu ketika menabrak dinding es? Atau suatu ketika lepas ke angkasa?

Para ilmuwan dan penjelajah sejak ribuan tahun lalu memiliki rasa penasaran yang sama dengan Anda. Namun selama ribuan tahun pula tidak ada yang berani nekat menjelajahi lautan sampai ke ujung karena diliputi oleh keyakinan dan mitos mengenai hal mengerikan yang akan dijumpai di ujung dunia itu.

Berbagai cerita dan teori dikemukakan orang mengenai seperti apa pinggiran bumi itu. Ada yang bilang di sana bakal ketemu monster raksasa. Ada yang bilang di sana akan jatuh ke jurang amat dalam tak berkesudahan. Ada juga yang bilang di sana akan tersedot ke lubang tak berhingga.

Lasamana Piri Rei adalah penjelajah Kekhalifahan Ottoman yang pertama kali menjelajahi mengelilingi bumi pada taun 1513. Dari perjaanan mengelilingi bumi itu ia membuat peta dunia yang dikenal dengan peta Piri Rei. Peta ini kelak menjadi patokan bagi penjelajah Eropa dalam menemukan benua-benua.

Ketika terjadi Perang Salib antara Peradaban Islam dengan Peradaban Eropa (utamanya karena memperebutkan kota suci Yerusalem) timbul pertukaran pengetahuan. Pelaut Islam yang saat itu telah memiliki peta dunia Piri Rei dan juga alat navigasi seperti kompas, Astrolobe, dan teleskop, mempengaruhi kemajuan iptek di Eropa.

Ferdinand Magellan adalah penjelajah Portugis yang mencoba mengelilingi dunia. Dari Portugis ia berlayar mengarungi Samudera Atlantis ke arah Selatan, sampai di Patagonia lalu ia ke Barat mengarungi Samudera Pasific. Ia berangkat tahun 1480 dan mencapai Maluku pada 1521 (41 tahun). Rencananya ia akan pulang ke Portugis melalui Samudera Hindia. Namun ia keburu tewas dalam pertempuran Mactan dengan penduduk lokal di Kepulauan Philipina. Magellan sengaja merencanakan rute perjalanannya ke Barat sampai ketemu Maluku untuk mencari rempah-rempah. Lalu ia berencana pulang ke Portugis menempuh Samudera Hindia, tentu dengan terlebih dahulu tahu bahwa bumi ini bulat.

Coba Anda bayangkan, jika bumi itu datar, bagaimana mungkin Magellan berlayar dari Portugis ke Arah Barat kemudian tembus ke Pulau Maluku dan Philipina? Bukankah Maluku dan Philipina itu di sebelah Timur Indonesia dan sebelah Timur Eropa? Jadi Maluku itu Timur atau Barat?

Jika bumi itu bulat, maka Timur adalah Barat dan Utara adalah Selatan. Tergantung dari arah mana kita melihatnya. Seandainya bumi itu lempengan datar, seharusnya Magellan berangkat dari Portugis ke arah Timur agar bisa ketemu Pulau Maluku. Jika ia ke arah Barat sampai 1 Milyar tahun pun tidak akan ketemu Pulau Maluku.

Disusul kemudian dengan ekspedisi Christopher Colombus. Saat itu ingin mencapai India. Dia tahu bahwa India itu ada di sebelah Timur Eropa. Tapi untuk membuktikan teori bahwa bumi itu bulat, maka ia sengaja menempuh perjalanan ke Barat. Namun Colombus terlalu terburu-buru. Ketika ia menemukan benua Amerika, ia menyangka sudah sampai di India. Maka penduduk asli Amerika dijuluki suku Indian.

Kesimpulannya : cara “bodoh-bodoh-an ” membuktikan bumi ini datar atau bulat adalah dengan melakukan perjalanan. Jika bumi itu datar, jika kita terbang ke Selatan tidak mungkin akan tembus di Utara. Demikian pula tidak mungkin jika melakukan perjalanan ke Barat akan muncul di Timur. Ini adalah pembuktian paling gampang dan cara yang paling sederhana.

Para penganut teori bumi datar mengatakan bahwa kapal laut atau pesawat terbang bisa pergi ke Barat tembus ke Timur karena sebenarnya mereka berjalan berputar seperti lingkaran, namun tetap di atas bidang yang datar. Jawaban ini jelas ngasal dan tidak masuk akal. Lho bagaimana berputar seperti lingkaran, kan dia jalan luruuus terus ke satu arah. Kalau seperti itu berarti dia sedikit demi sedikit belok ke kiri atau ke kanan. Dan jika demikian, tentu orang yang pergi ke Barat, sedikit demi sedikit akan belok ke Selatan dulu atau belok ke kanan bertemu Utara dulu, baru kemudian bertemu Timur.

Pertanyaan masalah tepi bumi adalah persoalan paling fundamental dari teori bumi datar. Demikian pula dengan pengalaman pergi ke Barat tembus ke Timur dan pergi ke Utara tembus ke Selatan, juga bukti paling sederhana bahwa bumi adalah bulat. Adapun argumen bumi datar lainnya yang dikemukakan hanyalah bersifat pengamatan bagian bumi yang parsial yang tidak perlu ditanggapi, seperti naik kapal kelihatan horizon datar, naik pesawat terbang juga kelihatan horizon datar, dll.

BERSAMBUNG..